RSS

Tag Archives: jujur

Belajar Jujur dari SEMUT

“Hingga ketika mereka sampai di lemah semut, berkatalah seekor semut, ‘ Wahai semut – semut! Masuklah ke dalam sarang – sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.”

(Q.S An Naml : 18)

Ayat di atas menerangkan, semut memiliki seorang pemimpin yang punya kepedulian social tinggi untuk menyelamatkan rakyatnya dari bahaya. Ia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri ketika ada bahaya mendekati koloninya.

Ayat tersebut juga menjelaskan, hewan ini memiliki ketajaman indera dan sikapnya yang sangat hati – hati, terutama terhadap bahaya. Tidak hanya itu, etos kerjanya juga sangat tinggi. Dengan kesabaran dan kekompakannya, mereka bisa membangun sarang yang besar dan kuat sebagai tempat perlindungan dari mara bahaya. Ini mereka lakukan sepanjang siang dan malam, kecuali malam – malam gelap saat bulan tidak memancarkan sinarnya.

Solidaritas yang terbangun dalam koloni ini juga tinggi. Bila salah satu dari mereka menemukan makanan, ia akan minta tolong teman – temannya membawa makanan tersebut ke dalam sarangnya. Bahkan menurut Ibnul Qayyim dalam kitabnya Syifa’ul Alil fii Masa’il al Qadha’ wal Qadar wal Hikmah wat Ta’lil, ia memanggil teman – temannya hinggan tiga kali. Jumlah semut yang muncul tergantung pada besar dan kualitas makanan tersebut.

Read the rest of this entry »

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on June 13, 2011 in hikmah, renungan

 

Tags: , ,

Sendiri dalam Sunyi

Hati mirip seperti mata, bisa melihat. Demikian yang dikatakan Syaikh Muhammad Ahmad Ar Rasyid dalam kitab Al Awa’iq. Sebagaimana mata, kemampuan hati dalam melihat berbeda-beda. Ada yang mampu melihat dari jarak yang cukup jauh. Ada pula yang bahkan tidak mampu melihat benda besar yang ada di hadapannya. Begitupun hati, ada yang bisa merasakan kekurangan dirinya yang kecil….
———-

“Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku karena apa yang mereka katakan tentang aku. Berikanlah kebaikan padaku dari apa yang mereka sangkakan kepadaku. Ampunilah aku karena apa yang tidak mereka ketahui tentang diriku.” (Ali bin Abi Thalib ra)

Sebuah kebaikan, memang lebih baik jika dilakukan tanpa diketahui oleh orang lain. Amal-amal ibadah, utamanya yang sunnah, menjadi sangat bernilai bagi kita, jika kita bisa melakukannya tanpa pengetahuan orang lain. Beribadah, bermunajat, mengadu, berdzikir, membaca ayat-ayat-Nya, sendirian. Tanpa orang lain, siapapun. Mengakui kealpaan, memohon ampun, menyerahkan semua urusan kepada-Nya, sendirian. Tak ada orang lain, siapapun.

Itu sebabnya, Allah swt memerintahkan kita mengisi sepertiga malam terakhir, saat paling sunyi, dengan memperbanyak ibadah sunnah dan berdoa. Soal kesunyian ini, Rasulullah saw juga mengisyaratkan bahwa do’a seorang Muslim pada saudaranya, di saat sunyi dan tidak diketahui orang lain, cenderung lebih mustajab dan lebih mudah diterima oleh Allah swt.
Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on March 21, 2011 in renungan

 

Tags: , , ,