RSS

Ibu adalah Manusia Paling Spesial Dalam Hidup Kita

23 Dec

Selamat Hari Ibu

Ibu adalah manusia paling spesial dalam hidup kita. Pengorbanannya, cintanya, kasih sayangnya, dan ketulusannya. Semua spesial. Dan rasanya, tak ada satupun paham-paham di dunia ini yan tak mengakui itu. Meskipun secara individu, tentu ada sebagian orang yang tak merasakan itu dalam hidupnya.

Hari ibu yang kita peringati kemarin adalah hari yang spesial meskipun bagi kita umat Muslim, setiap hari harus menyayangi ibu. Tiada hari tanpa sayang kepada orang tua, khususnya ibu. Tak ada salahnya untuk mengingat dan mengetuk kembali untuk sebagian yang lain (yang mungkin lupa) pentingnya menyayangi ibu. Bukan perayaannya, tapi renungan dan esensinya yang kadang tidak setiap kita bisa mengingatnya.

Karena ibu spesial, maka kita selalu dituntut untuk memelihara hubungan baik dengannya, berbakti, menjaga perasaan, mendoakan kebahagiaan dan meluluskan keinginan-keinginannya. Tapi karena kita dilahirkan di dua zaman yang berbeda, maka seringkali ada hal-hal yang melahirkan ketidaksepahaman pada keadaan-keadaan tertentu. Karena kita dan orang tua dilahirkan pada generasi yang berbeda, menghuni zaman yang berbeda, mengalami perubahan yang tidak sama, memunculkan perbedaan-perbedaan yang membuat komunikasi orang tua dengan anak tak sepaham, kehendak yang tak seiring dan pikiran yang tidak sejalan.

Ibu yang memiliki pandangan yang lebih dalam tentang hidup dan perasaan, kadang tidak bisa dipahami oleh kita sebagai anaknya. Keinginan-keinginannya yang sederhana serungkali ditafsirkan rumit oleh kita, sehingga melahirkan praduga-praduga yang tak berdasar. Dan akhirnya menyimpan kecewa di hatinya.

Sekadar Ingin Menunjukkan Cinta, Kasih Sayang dan Perhatian

Ibu adalah gudang cinta dan kasih sayang untuk anak-anaknya. Cintanya tak pernah berkurang. Kasih sayangnya tak pernah menipis. Cinta kasihnya tak pernah luntur meskipun kita telah jauh dari sisinya. Cinta kasihnya tak pernah menyusut meskipun kita kadang tak pandai menyambutnya. Dia selalu memberikan kasih sayangnya kepada kita kapan saja, dengan cara apa saja. Tidak ada bedanya antara cintanya ketika kita masih kanak-kanak dan ketika kita seudah dewasa.

Salah satunya contohnya ketika ada anak yang mau melanjutkan sekolah S2 ke luar negeri. Ibu ingin menyertai dan mengiringi kepergiannya ke bandara, sang anak menolak karena merasa hal itu kekanak-kananakan. Padahal tidak bagi ibu, keinginan yang mungkin bagi sang anak terkesan sederhana itu, adalah sebuah keinginan ibu yang ingin memberikan bentuk kasih sayangnya, meskipun sekejap. Pikiran orang tua jauh ke depan sana. Dalam benak meraka selalu terselip, “Andai ini pertemuan terakhir, aku ingin menatap anakku untuk terakhir kalinya.” Atau, “Anakku membutuhkan kekuatan doa, maka aku ingin mengiringi kepergiannya dengan lantunan dia.”

Pun begitu bagiku ketika harus merantau ke Jogja untuk melanjutkan kuliah selepas SMA, berat pada awalnya untuk meninggalkan keluarga yang selama ini menyertai hidupku. Namun, dukungan Ibu dan juga menyempatkan rutin “mudik” ke keluarga membuat ikatan itu terus ada. Tenang rasanya jika saat-saat berat dan spesial dalam hidup kita, Ibu selalu menyertai dan men-suport dengan berbagai bentuk ungkapannya.

Sekadar Ingin Membuat Kita Senang

Barangkali tidak ada orang yang paling tahu kesukaan kita selain ibu. Dari kecil kita diasuh, hingga dewasa kita diasah, ibu sangat mengerti kita, mengerti kesenangan kita dan mengerti hal-hal yang membuat kita senang. Juga sebaliknya tahu benar akan ketidaksukaan kita pada sesuatu. Hingga kapan pun, Ibu selalu ingin membuat kita senang. Suatu hari kita datang menjenguknya, mungkin ia selalu menyajikan untuk kita menu-menu makanan kesukaan kita. Ibu tahu benar selera kita. Semua siap disediakan tanpa terlihat raut letih di wajahnya demi membuat kita senang.

Sekadar Ingin Melepas Rindu dan Mengobati Rasa Sepi

Tidak jarang, karena desakan keadaan atau untuk sebuah keperluan kita berpisah sementara dengan kedua orang tua. Apalagi jika kita sudah berkeluarga. Meninggalkan ibu untuk waktu yang cukup lama. Jauh dari kehidupannya untuk beberapa waktu. Dan perpisahan itu, tentu saja akan melahirkan kerinduan. Terlebih bagi seorang ibu yang terpaut jarak dengan belahan jiwanya; hari-harinya akan menjadi penantian panjang dan rasa sepi yang sulit terobati.

Sekadar Ingin Membalas Kebaikan Orang Lain kepada Kita

Ketika kita jauh dari sisinya, ibu selalu menyimpan kekhawatiran yang besar terhadap kita. Meskipun kita sudah dewasa dan mampu mengatasi persoalan sendiri, tapi ibu masih saja merasa tidak tenang dengan kemandirian kita. Karena itulah orang tua merasa senang jika ada orang yang menolong anaknya. Bahkan ibu selalu ingin mengapresiasi kebaikan siapa saja yang dianggapnya telah memudahkan utusan hidup dan keperluan anaknya.

Maka, ketika aku mudik, ibu pun sering bertanya gimana kabar temen dekatku? Gimana kabar bapak-ibu kost? Temenmu yang kemarin meminjami uang? Dan juga tidak lupa memberi kabar temen-teman SMA atau sekitar rumah yang dulu akrab denganku. Pertanyaan dan kabar itu menunjukkan bahwa orang tua kita tidak begitu mudahnya melupakan orang-orang yang berkontribusi dalam kehidupan kita. Mereka adalah orang-orang yang selalu mendapatkan perhatian dari orang tua kita. Bahkan meskipun mungkin kita tidak lagi berhubungan dengan mereka, tapi ibu masih saja menanyakannya, seolah ia ingin agar kita selalu menjalin silaturrahim dengan mereka. Begitulah cara orang tua kita menghargai orang-orang yang pernah membagi kebaikannya kepada kita.

Sekadar Ingin Mendapatkan Perhatian

Ketika ibu memasuki usia tuanya, dan mendapati anak-anaknya sudah dewasa, tak ada lagi harapan besarnya kecuali bisa hidup bersama mereka dan juga cucu-cucunya, serta mendapatkan penerimaan dari mereka. Tiada kebahagiaan besar yang ia rasakan saat itu selain mendapatkan perhatian dan cinta kasih dari mereka.

Kesibukan kita mengurus keluarga dan anak-anak, tentu tidak boleh melupakan kita untuk memberikan perhatian kepada ibu. Sekecil apapun perhatian itu. Sebab ibu, meskipun telah merelakan anaknya untuk hidup dengan keluarga barunya, tentu ia tidak ingin anaknya benar-benar tercerabut dari kehidupannya. Maka, perhatian kita kepadanya, bagi seorang ibu adalah sebuah pembuktian bahwa ia merasa masih memiliki kita. Kita masih dekat dengannya.

Pengalaman sangat berkesan ketika kemarin melahirkan Aisyah di Malang (Jawa Timur). Jarak yang begitu jauh membuatku kangen bertemu Ibu yang sekarang ini di Batang (Jawa Tengah). Di tengah kesibukannya sebagai Kepala Sekolah (2 SD, yang satu pengganti sementara), Ibu dan keluarga dari Batang menyempatkan menengok kami di Malang. Rasa kangen ibu pada cucunya pertama membuat ibu juga ingin menginap di kontrakan kami di Batu dan bermain dengan anak pertama kami, Fadhil. Kehadirannya benar-benar membuat senang di momen istimewa ini. Sungguh, sosok Ibu itu memang istimewa. Semoga kita selalu mampu membahagiakannya dunia akherat. [YwbA]

 

Sumber bacaan: Tarbawi 242

 
Leave a comment

Posted by on December 23, 2013 in artikel, keluarga

 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: