RSS

Perpustakaan dan Budaya Baca sebagai Kunci Peradaban

17 May

Membaca dan menulis adalah dua istilah yang sudah tidak asing lagi di telinga setiap orang, karena mungkin dua istilah ini sudah sangat sering kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dalam Al-Qura’an kata-kata bacalah atau Iqra’ adalah kata pertama yang diturunkan. Membaca yang penulis maksud di sini tidak lagi sekedar bisa membaca huruf A sampai Z saja. Menulispun tidak hanya berarti sekadar bisa membubuhkan tanda titik (.) pada huruf i. Membaca secara lebih luas diartikan sebagai kemampuan yang semakin tinggi untuk memahami dan menghargai berbagai macam bahan bacaan atau hasil karangan. Begitu juga dengan menulis secara luas mencakup kemampuan yang semakin lama semakin unggul untuk menuangkan ide, pikiran dan perasaan secara tertulis.

Membaca sudah menjadi sebuah budaya bagi hampir seluruh masyarakat di negara-negara yang sudah maju seperti Jepang. Hal ini mengindikasikan bahwa minat baca masyarakat di sana sangat tinggi. Bukti yang menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Jepang sangat tinggi adalah sudah adanya minat baca masyarakat sejak Restorasi Meiji, lebih dari seabad yang lalu. Salah satu faktor pendorong minat baca warga Jepang yaitu, mereka memiliki tekad untuk mengejar kemajuan kebudayaan Barat. Sampai sekarang pun ribuan buku asing, terutama dari Amerika dan Eropa telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Mereka seperti orang kehausan, tidak henti-hentinya menimba ilmu dan pengetahuan lewat membaca. Untuk penduduk sekitar 125 juta orang, di sana tiap harinya beredar puluhan juta eksemplar surat kabar, tiap bulannya beredar ratusan juta eksemplar majalah dan jenis terbitan serupa, dan tiap tahunnya dicetak lebih dari 1 miliar buku (Karinda, 2009).

Tidak hanya Jepang, negara tentangga kita Malaysia juga sedang berupaya untuk menumbuhkan minat baca masyarakatnya dengan mengikutsertakan peran orang tua dalam proses ini. Perpustakaan Publik di negeri Serawak Malaysia, bekerjasama dengan orang tua untuk menanamkan kebiasaan membaca. Orang tualah yang dipinjami buku. Dalam beberapa minggu, petugas Perpustakaan Publik datang kembali untuk mengganti buku-buku lama dengan yang baru. Di negara kita sendiri (baca : Indonesia) upaya untuk menumbuhkan minat baca tulis ini sudah secara tidak langsung dilakukan oleh R.A Kartini (1879-1904) yaitu dengan mengurangi jumlah penderita buta aksara. Kartini mengajar membaca dan menulis kaumnya sekalipun dia sendiri hanya berpendidikan Sekolah Dasar. Perjuangan yang dilakukan oleh Kartini ini memang tidak sia-sia karena United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) memberikan penilaian bahwa Indonesia dijadikan sebagai model pemberantasan buta aksara di kawasan Asia Pasifik. Sejak 2007, buta aksara di Indonesia turun 1,7 juta orang, menjadi 10,1 juta. Sekitar 7 juta di antaranya perempuan. Namun sangat di sayangkan, berkurangnya angka penderita buta aksara tidak lantas membuat minat baca tulis masyarakat Indonesia menjadi tinggi. International Educational Achievement mencatat kemampuan membaca siswa Indonesia paling rendah di kawasan ASEAN. Kesimpulan itu diambil dari penelitian atas 39 negara. Indonesia menempati urutan ke-38. Dua hal itu antara lain menyebabkan United Nations Development Program (UNDP) menempatkan Indonesia pada urutan rendah dalam hal pembangunan Sumber daya manusia.

Sebenarnya ada banyak faktor yang menyebabkan rendahnya minat baca tulis masyarakat Indonesia. Pertama kurangnya fasilitas pendukung, seperti misalnya perpustakaan yang bisa mendukung minat baca tulis masyarakat. Kedua, kurangnya penghargaan terhadap hasil karya berupa tulisan. Ketiga, status ekonomi masyarakat kita yang kebanyakan berada di bawah standar menyebabkan sebagian besar masyarakat lebih memilih menghabiskan waktu untuk mencari uang, daripada duduk manis di kursi untuk membaca atau menulis, tidak hanya itu harga buku yang terkadang tidak terjangkau oleh sebagaian masyarkat dapat dijadikan salah satu alasan rendahnya minat baca masyarkat. Keempat, Adanya asumsi yang berkembang di masyarkat bahwa kegiatan membaca dan menulis adalah pekerjaannya orang-orang mempunyai kemampuan secara intelektual seperti mahasiswa, dosen, politikus, dan lainnya. Kelima, buku yang beredar di masyarakat selama ini kurang bervariasi, secara implisit buku-buku yang ada selama ini memang disediakan untuk mereka yang secara khusus menyediakan waktu untuk membaca. Mengapa? Sebab, performance buku itu sendiri yang mengharuskan dibaca dengan serius dan membutuhkan waktu lama (tema serius, tebal, bahasa, dan kaidah penulisan yang ketat). Karena itu, sebagian orang menganggap membaca buku bukan hal menyenangkan melainkan justru membebani, dan membuat pikiran mumet. Selain kelima hal tersebut diatas, kemajuan di bidang elektronik juga dapat dijadikan sebagai salah satu penyebab rendahnya minat masyarakat untuk membaca dan menulis, terutama kaum remaja.

Jika di suatu negara minat masyarakatnya untuk menulis dan membaca rendah maka akan sulit membangunan manusia moderen untuk masa depan. Manusia moderen adalah manusia yang siap menghadapi transformasi di segala bidang yang ditunjukkan dengan kemampuan berfikir secara cepat dan tepat. Sebagai bangsa yang masih berkembang dan ketinggalan jauh dari negara-negara maju lainnya dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi, maka kita harus cepat berbenah diri dan mulai menigkatkan kualitas Sumber Daya Manusia, yang salah satunya dapat ditempuh dengan meningkatkan minat baca dan tulis masyarkat kita. Karena lewat buku bacaan, kita dengan rela akan meninggalkan pandangan-pandangan sempit yang tidak sesuai lagi dengan zamannya, kita juga dapat memperoleh banyak pengetahuan yang sebelumnya tidak kita ketahui. Berbagai buku yang padat informasi tentang perkembangan ilmu pengetahuan serta pengalaman masyarakat dunia pada gilirannya nanti akan membuat kita ikut berpacu mengejar kemajuan yang juga coba diraih bangsa-bangsa lain. Tapi akan sulit rasanya untuk mengejar ketinggalan kita, jika realita yang ada selama ini menunjukkan jumlah perpustakaan yang ada di Indonesia belum sesuai dengan jumlah pemakainya, selain ini buku-buku yang di sediakan masih belum bervariasi sehingga masyarakat merasa enggan untuk membaca atau masuk ke dalam perpustakaan. Padahal perpustakaan akan sangat berperan penting untuk meningkatkan minat baca dan tulis masyarkat.

Untuk dapat menumbuhkan minat baca tulis masyarakat dan membuat baca tulis itu sebuah budaya, maka diperlukan perhatian dari semua pihak terutama pemerintah sebagai pemegang kebijakan. Salah satu cara yang paling efektif untuk dapat menumbuhkan minat baca tulis masyarakat ini adalah dengan mengoptimal peran perpustakaan, baik dengan meningkatkan jumlah perpustakaan umum yang ada, maupun dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas buku-buku yang ada dalam perpustakaan. Persepsi masyarakat mengenai fungsi perpustakaan yang selama ini hanya diangggap sebagai tempat untuk membaca juga harus diganti. Selama ini, banyak orang mempersepsikan dan membayangkan perpustakaan hanya sebagai tempat membaca, dengan tata ruang yang kaku, dan dipenuhi oleh buku-buku tebal yang membutuhkan kemampuan intelektual yang tinggi untuk dapat membacanya. Para pustakawannyapun juga masih menyelenggarakan dan menyediakan layanan informasi secara tradisional, disisi lain tuntutan untuk mengikuti kemajuan teknologi informasi harus juga terpenuhi.

This slideshow requires JavaScript.

Peran perpustakkan sangat penting untuk meningkatkan minat baca tulis masyarakat dan menjadikan hal tersebut sebagai sebuah budaya, maka berbagai kekurangan yang ada dalam sistem penyelenggaraan perpustakaan harus segera dirubah. Beberapa strategi yang dapat dilakukan adalah :

  1. Mengembangkan model perpustakaan otomatisasi, perpustakaan elektronik, dan perpustakaan virtual. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, membuat perpustakaan mau tidak mau harus bisa beradaptasi untuk tetap survive dan diminati masyarakat.
  2. Perpustakaan Nasional dan pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan pada momen dan peristiwa tertentu yang sifatnya tahunan belaka, seperti penetapan bulan Mei sebagai Bulan Buku, sebagaimana yang dicanangkan sejak 2 Mei 1995 oleh Presiden R.I kala itu, Soeharto, di Pontianak. Demikian juga dengan pemanfaatan bulan September sebagai Bulan Gemar Baca, berbarengan dengan Hari Aksara Internasional yang jatuh pada bulan yang sama. Kampanye tentang Perpustakaan Nasional sebagai pusat informasi, ilmu pengetahuan, dan budaya harus dilakukan lebih gencar dan harus senantiasa dikaitkan dengan kampanye gemar membaca dan cinta buku yang sudah ada sebelumnya. Hal ini penting untuk dicamkan, mengingat tingginya angka statistik melek huruf penduduk Indonesia yang telah mencapai 84% (jauh di atas rata-rata negara berkembang yang hanya 69%) tidak diiringi dengan meningkat drastisnya minat baca, daya beli, dan ketersediaan buku yang akan dibaca (Ignas Kleden, 1999).
  3. Untuk Indonesia yang berpenduduk lebih dari 220 juta dan wilayah yang amat luas, jumlah toko dan kios buku yang ada masih amat kurang yaitu sekitar 2000 buah (Taryadi, 1997). Jumlah itu dibandingkan dengan luas kepulauan Nusantara dan jumlah penduduk masih kurang mencukupi. Toko yang disebut kebanyakan berupa toko kecil sederhana dengan luas rata-rata 10 meter persegi. Hanya sekitar 5% dari toko buku yang dikategorikan modern dan dibangun di kota-kota besar. Perpustakaan Nasional, berikut jaringan perpustakaan daerah yang ada di dalam negeri, dapat mengisi kekosongan yang masih cukup menganga lebar tersebut.
  4. Pengelolaan perpustakaan secara lebih terbuka dan bersahabat juga terbukti lebih mengundang banyak pengunjung, sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh G . Sukadi, 1996, tentang perpustakaan ala swalayan di Universitas Sanata Dharma. Dengan ruangan ber-AC, memiliki ruang diskusi dan seminar, dan kebebasan pengunjung mencari serta membaca buku yang mereka inginkan, telah terbukti meningkatkan jumlah pengunjung (Taryadi, 1997).
  5. Untuk dapat meningkatkan minat masyarakat untuk menulis, maka perpustakaan sebagai salah satu pihak yang berperan harus lebih sering mengadakan lomba-lomba menulis dengan hadiah yang menarik masyrakat. Karena rendahnya minat masyarakat untuk menulis salah satunya disebabkan oleh kurangnya penghargaan terhadap karya berupa tulisan.
  6. Perpustakkan Nasional atau Indonesia juga bisa mencontoh cara yang sedang dikembangkan oleh negara tetangga kita Malaysia, yaitu dengan mengikutsertakan orang tua dalam menumbuhkan minat baca tulis anak-anak. Caranya adalah dengan meminjamkan buku pada setiap keluarga (red ; orang tua) secara berkala. Memang agak sulit jika hal ini dilakukan, tapi apa salahnya kita mencobanya.
  7. Perpustakaan juga perlu mengoptimalkan kinerja dan jumlah perpustakaan keliling, sehingga masyarakat tidak susah-susah untuk mencari lokasi perpustakaan. Selama ini yang terjadi adalah masyarakat umum yang tidak berada di dalam sebuah institusi pendidikan sulit sekali mencari lokasi di mana perpustakkan berada.

Strategi-strategi di atas mungkin hanya sebagian kecil dari strategi yang dapat dilakukan oleh perpustakaan-perpustakkan yang ada di Indonesia. Oleh karena itu, perpustakkan-perpustakkan yang ada harus terus mengevaluasi apa saja yang membuat masyarakat enggan untuk membaca atau meminjam buku di perpustakaan.

Fenomena umum di negeri ini adalah bahwa budaya lisan atau budaya mendengar lebih kuat mengakar dalam tradisi masyarakat dibandingkan budaya membaca dan menulis. Hal ini terlihat pada realita yang sering kita temui di masyarakat, semisal lebih suka mendengar cerita dari orang lain daripada membaca sendiri, lebih nyaman mengisi waktu luang saat menunggu ataupun tidak melakukan aktivitas yang berarti dengan ngerumpi daripada menjatuhkan pilihan pada membaca ataupun menulis, lebih senang pada tayangan-tayangan yang di-dubbing daripada harus membaca teks terjemahan tertulis dalam suatu tayangan, lebih riang menonton versi layar lebar dari sebuah cerita atau mendengarkan pembacaan puisi ataupun cerpen daripada membaca teks tertulis atau bukunya sendiri, dan sederet realita yang lain.

Mengutip apa yang dikatakan oleh Gunawan, 2005, bahwa norma dan etika sosial masyarakat belum menempatkan tulisan sebagai bagian dari keberadaban. Jadi akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membuat kebiasaan membaca dan menulis itu menjadi sebuah budaya yang mendarah daging bagi setiap masyarakat Indonesia. Melihat fonomena di atas, maka perpustakaan sebagai salah satu pihak yang berperan sangan penting untuk meningkatkan minat baca tulis masyarakat harus bekerja keras untuk mencari cara bagaimana supaya membaca dan menulis itu dapat dijadikan sebagai budaya. Tidak perlu menunggu lama, sekaranglah saatnya bergerak karena kalau tidak, maka akan semakin sulit mengejar ketertinggalan kita dengan bangsa-bangsa yang telah maju di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Jadi, sekaranglah saatnya kita mengejar ketertinggalan budaya baca tulis yang tertunda.

DAFTAR PUSTAKA

  • Budi Susilo, Gunawan, “Buku dan Budaya Membaca : Indonesia yang Tertunda”, Mata Baca Volume 2, No. 12, Agustus 2005.
  • Karinda, Raymond, 2009, “Makna Membangkitkan Minat Baca”, diakses pada 15 Mei 2009 : http://www.mailarchive.com/ parentsguide@yahoogroups.com/msg14161.html
  • Kleden, Ignas dalam Taryadi, 1999, “Buku dalam Indonesia Baru”, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.
  • Taryadi, Alfonso, 1997, “Problema dan Prospek Dunia Penerbitan Buku di Indonesia” dalam “Buku Membangun Kualitas Bangsa”, Jakarta : Kanisius.
  • ——-, 1999, “Buku dalam Indonesia Baru”, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia
  • Penulis: Siti Zuraida Muhsinin

Sumber: http://www.pemustaka.com/perpustakaan-dan-budaya-baca-tulis.html

 
1 Comment

Posted by on May 17, 2012 in artikel

 

Tags: , ,

One response to “Perpustakaan dan Budaya Baca sebagai Kunci Peradaban

  1. abdul helas

    March 14, 2013 at 8:02 pm

    memang indonesia selalu hebat dari paling belakang..bagaimana bisa maju, wong pemimpinnya selalu berurusan dengan korupsi..

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: