RSS

Menjadi Ibu adalah Anugerah Terindah

02 Mar

Menjadi Ibu adalah Anugerah Terindah

 Ibu. Satu kata yang ingin kusandang semenjak ku tak lagi lajang. Tiga tahun mendamba sang pangeran datang menjemput, seolah tak begitu terasa dengan 8 bulan penantian menjadi seorang ibu. Itu pun belum ditambah dengan masa kehamilan yang membutuhkan waktu tidak sedikit. Ya, setelah akad nikah diucapkan, 8 bulan kemudian baru datanglah kabar gembira itu. Kabar yang setiap bulannya kunantikan dengan setia. Dengan sebuah alat test sederhana. Walaupun hasilnya selalu setrip 1, namun asa itu tetap tersembul. Ah,, Allah yang lebih tahu segalanya. Allah yang lebih paham kapan waktu yang tepat untuk memberikan sebuah anugerah terindah itu pada setiap hambaNya. Seperti halnya dalam menanti jodoh. Barangsiapa yang bersabar dengan ketentuanNya dengan diiringi keistiqomahan untuk menjaga diri, niscaya kan didatangkan seorang yang shalih untuknya. Subhanallah. Janji Allah itu pasti. Itulah yang kuyakini hingga kini.

Kini masa 9 bulan 10 hari  itu hampir kulewati. Sekarang saatnya menanti hari detik – detik pergantian status baru itu. Menjadi ibu. Alangkah inginnya aku. Sesosok ibu dengan segala perjuangannya. Demi kebahagiaan anaknya semata. Kasih sayangnya tak lekang dimakan usia. Cintanya tulus tak mengharap balas. Ah, ibu. Perjuangan menjadi ibu tidaklah semudah yang kubayangkan. Tentu saja. Setelah di awal kehamilan mengalami berbagai perubahan rasa mual, muntah dan pusing. Hingga selera makan pun hilang. Belum lagi saat usia kehamilan yang semakin besar, dengan kepayahan beliau berjalan, tertatih, dan saat tidurpun jadi tak senyaman sebelum hamil. Namun, itu semua tak jadi keluhan, saat terbayang akan hadir sesosok bayi mungil nan lucu, yang suatu saat akan memanggilnya ibu. yah, begitulah mungkin dulu ibu kita saat berjuang di masa kehamilan memberikan yang terbaik untuk calon buah hatinya. Memang kadang baru terasa saat kita sudah mengalaminya.

Persis 3 pekan lagi HPL kelahiran putra pertamaku (22 Maret 2012). Terasa berjuta rasa menggayuti perasaanku. Berbagai pikiran berkecamuk dalam hatiku. Namun, kucoba menata hati. Mencoba menjadi ibu yang kuat, bijaksana, penuh cinta dan kasih sayang untuk anakku. Aku berharap bisa menjalani persalinan normal. Sebagaimana layaknya para ibu berharap. Aku harap masih bisa mendengar suara tangisnya, menyentuh wajah mungilnya, membelai rambutnya dan menyusuinya. Karena siapa yang sangka pasca melahirkan banyak ibu yang justru menghembuskan nafas terakhirnya. Tak sempat lagi melihat wajah putra yang telah dikandungnya 9 bulan 10 hari tersebut. Karena perjuangan seorang ibu saat melahirkan tidak hanya sekedar mengeluarkan apa yang ada dalam rahim, namun perjuangan mulia antara hidup dan mati, bahkan Al Qur’an menyebutnya bahwa itulah jihadnya seorang ibu. Nyawa yang menjadi taruhannya.

Maka, aku ingin diberiNya kesempatan untuk bisa bertemu dengan putraku. Aku ingin merawatnya dengan segenap hatiku. Aku ingin menjadi sosok ibu seutuhnya baginya. Aku ingin mendidiknya dengan kasih sayangku. Dan membesarkannya dengan sepenuh cinta. Semoga kelak ia jadi sesosok orang shalih nan cerdas, berbudi pekerti luhur, berbakti pada orangtuanya. Bermanfaat untuk orang – orang di sekitarnya, dan selalu dimudahkan jalan baginya untuk mendapatkan surga. Semoga kelak kami dipertemukan kembali di jannahNya yang abadi. Amiin… [yn]

Jogja, 01 Maret 2012

 
Leave a comment

Posted by on March 2, 2012 in catatanku, kisahku, renungan

 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: