RSS

Secuil Catatan tentang ‘Hingga Detak Jantungku Berhenti’

29 Feb

Judul Buku: Hingga Detak Jantungku Berhenti
Penulis: Nurul F. Huda
Penerbit: Jendela
Harga: Rp 40.000,-

Hingga Detak Jantungku Berhenti

Sudah lama sekali aku menginginkan buku tersebut, kurang lebih sudah setahun terakhir ini. Namun, bukunya sulit kutemukan (aku tinggal di daerah Malang). Sudah kujelajahi bebrapa toko buku di Malang, hingga saat Book Fair di Malang, namun keberadaan buku ini seolah menghilang dari peredaran. Sama sekali tak pernah kusangka akhirnya justru di saat kepulanganku ke kota Jogja inilah aku bertemu dengan pengasuh buah hati Nurul F Huda, hingga akhirnya buku ini sampai juga di tanganku. Mungkin karena Nurul F Huda lama tinggal di Jogja, jadi akses bukunya lebih mudah.🙂 Alhamdulillah.

Membaca lika – liku kisah hidup seseorang tentu akan semakin menambah khasanah pengetahuan kita tentang hakikat hidup dan kehidupan. Terlebih lagi kisah hidup seseorang yang hidupnya senantiasa terikat dengan yang namanya ‘dokter, obat dan rumah sakit’. Tentu lebih mengharukan dan banyak hikmah yang bisa dipetik. Begitulah yang aku rasakan saat pertama kali membaca kisah hidup seseorang yang seumur hidupnya tak pernah lepas dari yang namanya ‘dokter, obat dan rumah sakit’. Ya, kisah seorang penulis berbakat dan cerdas asal Purworejo. Siapa yang tak kenal almh. Nurul F. Huda? Aku sendiri telah mengenal karyanya sedari duduk di bangku SMU. Karya yang paling kusuka saat itu adalah serial Double eF Team, cerita sekaligus komik tentang perjalanan dua orang ‘detektif’ cilik. Namun, di sini aku tak hendak menceritakan kisah tersebut. Aku justru ingin berbagi tentang kisah hidup penulisnya yang setelah kubaca bukunya ternyata beliau sangat tegar dan optimistik menghadapi hidup.

Buku ‘Hingga Detak Jantungku Berhenti’ merupakan salah satu karya terakhirnya sebelum akhirnya beliau menghembuskan nafas. Semoga Allah memberikan tempat terindah di sisiNya. Amiin. Buku ini menceritakan tentang masa kecil beliau yang menyenangkan, tomboy dan kocak. Beliau sangat aktif bermain dengan temannya juga sangat berprestasi di sekolahnya, hingga akhirnya suatu ketika beliau merasakan cepat lelah, nafas yang memburu dan tubuh yang semakin kurus dengan bibir biru. Setelah ditelusuri ternyata beliau divonis kelainan jantung. Bayangkan! Saat itu beliau masih anak – anak. Baru kelas 5 SD. Umur 11 tahun. Sudah harus mengalami kelainan jantung dan harus menjalani pengobatan yang panjang.

Hingga akhirnya rentetan kisah berobat pun dijalani Nurul kecil. Berobat 4 tahun lamanya di RSUD Purworejo belum membuahkan hasil. Akhirnya dirujuk ke ke Jogjakarta (RSUP Dr. Sardjito) hingga akhirnya diputuskan untuk operasi pemasangan katup platina di RS Jantung Harapan Kita di Jakarta. Efek dari pemasangan katup mekanik ini, Nurul harus selalu check up rutin tiap bulan dan setiap hari minum obat koagulan (pengencer darah) seumur hidupnya. Subhanallah, saat menjalani operasi jantung yang mengerikan itu beliau masih sangat belia namun tak ada keluhan sama sekali. Yang ada justru semangat untuk mengisi hari – harinya agar berkontribusi untuk orang lain. Yang paling membuat beliau sedih adalah beliau merasa telah merepotkan keduaorangtuanya dengan penyakitnya ini. Untuk berobat dan operasi jantung, telah bilangan ratusan juta biaya yang dibutuhkan. Belum lagi harus check up rutin dan sebagainya. Walaupun abahnya senantiasa memberi semangat dan menyuruhnya tak memikirkan soal biaya.

Entah Allah sudah memilih beliau untuk menjalani kehidupan yang penuh cobaan dan musibah demi mendapatkan surga atau bagaimana. Tak hanya operasi jantung saja, namun beliau sempat beberapa kali masuk rumah sakit dan harus dioperasi lagi, lagi, dan lagi. Saat mahasiswa, beliau pernah terjatuh saat (belajar) naik motor, hingga patella (tulang tempurung) harus dioperasi. Hampir 3 bulan lamanya beliau harus memakai kruk ketika berjalan, karena kakinya masih dalam tahap penyembuhan.

Ada lagi saat beliau hamil putra pertama, maka seharusnya beliau konsultasi ke dokter jantungnya sebelum hamil, karena ternyata ada prosedur khusus yang harus dijalani bagi pasien jantung. Wah, ribet sekali ya, apa – apa harus dikonsultasikan ke dokter dulu. Kelahiran pun demikian, harus sepengetauhan dokter jantungnya. Namun, akhirnya Nurul menjalani kehamilan seperti biasa dan melahirkan putra yang sehat. Belum lagi saat beliau tertusuk jarum di telapak kakinya, lagi – lagi beliau menjalani operasi dan memakai kruk (lagi). Dan masih banyak lagi..

Subhanallah, semua hal yang telah dialami Nurul F Huda patut dijadikan renungan dan diambil hikmahnya. Beliau dengan segala keterbatasan, namun tetap bersemangat memberikan kontribusi bagi orang – orang di sekitarnya. Bahkan di saat terakhir, beliau masih sempat menulis buku! Beliau juga tetap aktif berdakwah, menulis, berorganisasi dan mengasuh anak. Sebuah kisah yang harus kita baca untuk melecut semangat kita. Sekali lagi, kita yang diberi kesehatan, organ tubuh yang utuh dan berbagai kelebihan lainnya seharusnya bisa berkontribusi lebih. So, mari berkarya..! [yn]

Saat semangat menulis kembali bergelora
Jogja, 29 Februari 2012

 
Leave a comment

Posted by on February 29, 2012 in hikmah, motivasi, resensi buku

 

Tags: , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: