RSS

Ingin Gaji Besar, di Mana?

12 Feb

Seorang penjual buah membeli satu kilogram beras dari seorang petani. Si petani menjamin, jika berasnya tidak enak maka uang boleh kembali. Sampai di rumah, penjual buah curiga bahwa beras yang dibelinya tidak benar – benar seberat satu kilogram.

Segera ia timbang beras itu. Benar saja, hanya 800 gram. Yakinlah ia bahwa si petani telah berlaku curang. Dengan marah ia melaporkannya ke KepalaDesa.

“Bapak punya timbangan untuk menjual beras?” tanya Kepala Desa kepada petani.

“Tidak, Pak” jawab petani.

“Lho, bagaimana Bapak menimbang beras yang dijual ke penjual buah ini?”

Petani itu menjawab, “Mudah saja, Pak. Saya memakai buah yang saya beli dari tukang buah itu sebagai penyeimbangnnya”.

Si penjual buah ketiban malu karena sikapnya sendiri. 

Dari ilustrasi di atas kita dapat mengambil kesimpulan, si penjual buah telah ‘memborong’ tiga sikap melemahkan diri yang sangat berbahaya dalam bekerja, yaitu mudah marah tanpa introspeksi, tergesa – gesa dan tamak. Inilah yang kerap menjadi biangkeladi ketidakbahagiaan kita dalam bekerja.

Banyak orang mengeluh pekerjaannya sangat tidak menyenangkan, tempat kerja tidak profesional, bahkan ada yang mengatakan ia bekerja hanya mengharap gaji, saking sebalnya dengan berbagai hal yang terjadi di tempatnya bekerja.

Sesungguhnya tanpa sadar kita sering ‘menghukum’ orang lain tanpa berpikir kita pun sering melakukan hal yang sama. Si penjual buah menganggap petani curang. Padahal ia tak ubahnya dengan si petani, curang dalam menimbang.

Menghukum orang lain tanpa introspeksi diri, bisa jadi karena akibat ketamakan dan ketergesaan kita, itu adalah poin pertama.

Kedua, ketika kita membiasakan diri akrab dengan seseorang yang dirasa senasib sepenanggungan, padahal ia mempunyai sikap – sikap melemahkan, dijamin tak lama lagi kita akan menjadi orang yang tidak puas dalam banyak hal. Kita menjadi tergerak untuk meluruskan orang, sementara diri sendiri tak diluruskan.

Poin ketiga adalah menempatkan pekerjaan dan ibadah berjalan seiring. Tentu sangat wajar bila kita mengharapkan gaji, namun jangan sampai hanya itu yang kita niatkan.

Renungilah, ketika kita memberi pelayanan kepada orang lain, banyak orang yang lega karena masalahnya terselesaikan. Ketika kita menyebar informasi bermanfaat, tak sedikit yang mampu mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Atau, ketika kita bertugas menjaga keamanan, banyak orang terselamatkan karena kerja kita.

Inilah ibadah dalam bekerja. Jika dilakukan dengan semangat memberi manfaat kepada orang lain, nilainya beribu – ribu kali lebih tinggi dibanding gaji yang kita terima. Jariyahnya akan terasa sampai ke liang kubur.

Tidak hanya itu, kepuasan konsumen akan menjadi pemicu datangnya rezeki lain untuk kita, mungkin tidak dari tempat kita. Berapapun gaji yang kita terima, besar atau kecil, kitalah yang mampu memaknai dan merasakan kenikmatannya. [meutia geumala]

Sumber: Majalah Ummi No. 10/XXXII/1432

 

 
1 Comment

Posted by on February 12, 2012 in hikmah

 

Tags: , , , , ,

One response to “Ingin Gaji Besar, di Mana?

  1. juli

    April 2, 2012 at 5:31 am

    terima kasih,,,artikel yg sgt bagus,,,^^

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: