RSS

Antara Harapan dan Ajal

09 Feb

Sebagai manusia tentu kita punya segudang harapan di dunia ini. Ada yang berharap untuk jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang. Iya, kita sebagai umat muslim diwajibkan memiliki sebuah harapan atau cita- cita. Harapan sebagai penyemangat kita dalam mengarungi hidup, yang kadang terjal dan penuh aral melintang. Tanpa adanya sebuah harapan mustahil seorang tukang bangunan sanggup menyelesaikan pekerjaannya membangun gedung – gedung bertingkat. Mustahil seorang ayah rela menghabiskan seluruh waktunya bekerja keras demi mencari nafkah untuk keluarganya. Iya, mereka tentu memiliki sebuah harapan. Harapan akan sebuah hari esok yang lebih baik. Maka, mereka bekerja tekun.

Rasulullah saw pernah membuat gambar empat persegi dan membuat satu garis lurus hingga keluar melewati gambar lalu beliau membuat garis-garis kecil di sekitar garis lurus tersebut. Beliau menjelaskan garis lurus yang terdapat di dalam gambar adalah manusia, gambar empat persegi yang melingkarinya adalah ajalnya, satu garis lurus yang keluar melewati gambar merupakan harapan dan angan-angannya sementara garis-garis kecil yang ada di sekitar garis lurus dalam gambar adalah musibah yang selalu menghadang manusia dalam kehidupannya di dunia. Jika manusia dapat selamat dan terhindar dari cengkeraman satu musibah, musibah lain akan menghadangnya, dan jika ia selamat dari semua musibah, ia tidak akan pernah terhindar dari ajal yang mengelilinginya. (HR. Bukhari).

Hadits ini menunjukan kepada kita betapa Rasulullah saw seorang pendidik yang sangat memahami metode yang baik dalam menyampaikan pengetahuan kepada manusia, beliau menjelaskan suatu informasi melalui gambar agar lebih mudah dipahami dan diserap oleh akal dan jiwa. Dalam gambar ini beliau menjelaskan tentang hakikat kehidupan manusia yang memiliki harapan, angan-angan dan cita-cita yang jauh ke depan untuk menggapai segala yang ia inginkan di dalam kehidupan yang fana ini, dan ajal yang mengelilinginya yang selalu mengintainya setiap saat sehingga membuat manusia tidak mampu menghindar dari lingkaran ajalnya, sementara itu dalam kehidupannya, manusia selalu menghadapi berbagai musibah yang mengancam eksistensinya, jika ia dapat terhindar dari satu musibah, musibah lainnya siap menghadang dan membinasakannya dan seandanya ia terhindar dari seluruh musibah, ajal yang pasti datang suatu saat akan merenggutnya.

Harapan, musibah dan ajal

Manusia memiliki harapan dan keinginan untuk memperoleh segala fasilitas kehidupan dunia yang mempesona dan kenikmatannya yang menggoda, karena Allah telah menjadikan dunia ini dengan segala isinya sebagai hiasan indah yang menarik hati manusia yang memandangnya. Allah berfirman:
Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah diantara mereka yang terbaik perbuatannya. (QS. Al Kahfi:7)
Rasulullah saw bahkan memperumpakan dunia dengan buah-buahan yang manis dan dedaunan yang hijau, beliau bersabda:

“Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian khalifah-Nya di dunia ini lalu Ia akan melihat bagaimana kalian beramal”
Harapan dan keinginan manusia untuk meraih keindahan dunia karena itu merupakan fitrahnya yang diakui oleh Allah. Allah berfirman:
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Ali Imran:14)
Memang tidak ada manusia yang tidak memiliki harapan dan angan-angan untuk meraih kenikmatan dunia, siapa manusia yang tidak mencintai wanita? Siapa manusia yang tidak mencintai anak-anak sebagai buah hatinya? Siapa manusia yang tidak mencintai harta sebagai sarana penunjang kehidupannya? Hanya orang-orang yang tidak mengertilah yang mengharamkan atas dirinya keindahan dunia ini, karena itu Allah mencela mereka yang bersikap seperti ini, Ia berfirman:
Katakanlah:”Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah di keluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik”. Katakanlah:”Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. (QS. Al A’ Raaf:32)

Itulah keagungan Islam, agama yang menyatukan antara dunia dan akhirat, karena ia diturunkan oleh sang pencipta manusia yang mengetahui akan ciptaaan-Nya

Sesungguhnya keindahan dunia ini hanyalah ujian dari Allah, Ia ingin melihat siapakah diantara mereka yang terbaik amalnya dan yang terburuk. Manusia yang terbaik amalnya adalah yang memahami tentang hakikat kehidupan ini, ia mengerti dunia adalah negeri yang fana tidak kekal, tepat beramal, arena memperbanyak amal baik sebelum ajal tiba dan akhirat adalah tempat yang kekal abadi, saat mendapatkan balasan amal di dunia.
Manusia yang memahami hakikat ini akan menjadikan semua fasilitas kehidupan yang dianugrahkan Allah sebagai bekal untuk akhirat, keindahan dunia tidak dijadikannya sebagai tujuan akhir tetapi sarana menuju tempat yang lebih baik dan abadi, ia hidup di dunia ini seperti orang asing yang tinggal di negeri nan jauh dari negerinya, ia sangat merindukan kampung halamannya dan akan kembali pada suatu hari nanti, tak pernah ia membayangkan untuk hidup membina keluarga di negeri orang lain, tetapi hasil kerja kerasnya yang telah ia curahkan ia tabung untuk kembali ke kampungnya, setiap detik merupakan waktu yang sangat berharga untuk menanam amal di ladang dunia karena ia sadar ajal tidak pernah memberitahukan kapan akan datang, karena ia berada di dalam lingkarannya. Inilah gambaran orang yang terbaik amalnya di dunia yang kelak akan mendapatkan balasan yang baik pula.

Rasulullah saw pernah suatu hari memegang pundak putra Umar bin Khattab ra lalu beliau berpesan:
“Jadilah di dunia ini seperti orang asing atau orang yang sedang melewati jalan”


Jadilah di dunia seperti orang asing yang hanya sesaat tinggal di negeri orang lain dan pada suatu saat ia akan kembali ke kampung halamannya atau jadilah di dunia seperti orang yang sedang melewati jalan yang tidak akan tergiur oleh godaan yang akan menghambat perjalannya karena perjalanan yang ia tempuh masih jauh dan panjang. Kalaupun ia berhenti di tengah perjalanannya, ia akan berhenti hanya sesaat untuk menghilangkan keletihannya dan menambah bekalnya setelah itu iapun berangkat kembali meneruskan perjalannya. Rasulullah saw pernah menggambarkan dirinya dengan dunia ini seperti orang yang sedang berteduh di bawah pohon dalam sebuah perjalanan untuk menghilangkan rasa lelah yang dirasakan dan untuk berlindung dari terik panasnya matahari di bawah rindangnya dedaunan lalu beliau berangkat kembali meneruskan perjalannya setelah ia merasa segar kembali.

Bagi orang yang hatinya tertutup untuk mengerti tentang arti kehidupan ini, ia akan berangan-angan panjang, bercita-cita tinggi dan berharap yang besar untuk meraih seluruh keindahan dunia. Setiap kali ia memperoleh satu kenikmatan, ia ingin memperoleh yang lainnya dan tiap kali ia mendapatkannya ia berharap mendapatkan yang lainnya, hatinya tidak pernah puas dengan satu kenikmatan tetapi terus berusaha mendapatkan yang lebih besar dari yang telah ia miliki.

“Seandainya manusia memiliki harta sebanyak satu telaga ia ingin memiliki dua telaga dan seandainya ia memiliki dua telaga ia ingin memiliki tiga telaga, perut manusia hanyalah diisi dengan debu dan Allah akan menerima taubat manusia yang bertaubat kepada-Nya”
Bagi manusia yang hatinya tertutup untuk mengerti tentang tujuan hidup ini akan menjadikan dunia dengan segala keindahannya yang mempesona sebagai tujuan hidupnya, ia kumpulkan harta sebanyak-banyaknya seakan ia akan hidup selamanya, jika suatu hari Allah menegurnya dengan musibah yang Ia turunkan, iapun merunduk kepada-Nya memohon pertolongan agar dikeluarkan dari musibah ini lalu Allah menyelamatkannya, setelah itu ia lupa akan janjinya saat ia diselimuti oleh musibah, ia kembali terlena dengan dunia dan membangun angan-angan yang tinggi melayang untuk meraih sebanyak mungkin kenikmatannya.

Dampak gangguan tropis, hingga kini di hampir seluruh daerah di Jawa dan Bali masih dilanda hujan deras, angin kencang dan gelombang laut tinggi (januari 2011). -sumber artikel BMKG http://www.bmkg.go.id

Dialah yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan keta’atannya kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata):

“Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur”. (QS. Yunus:22)

Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kamilah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Yunus:23)

Ia tidak sadar bahwa sekalipun ia dapat terhindar dari satu musibah ke musibah yang lain ia tidak akan bisa menghindar dari maut dan ajal yang mengelilinginya, sebelum angan-angannya yang jauh tercapai ajal telah mendahuluinya.
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh…”(QS. An Nisa:78)
Harapan manusia memperoleh kenikmatan dan keindahan dunia memang tidak terlarang dalam Islam bahkan sebaliknya mengingkari kenikmatan dunia ini sampai mengharamkannya sangat dicela oleh Allah, karena Ia telah menundukan dunia dan segala isinya untuk kebaikan hidup manusia. Allah berfirman:

Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. (QS. Ibrahim:32)

dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang”. (QS. Ibrahim:33)

Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya.Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menhinggakannya.Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (QS. Ibrahim:34)
Betapa banyak kenikmatan dunia yang ia tundukan untuk manusia demi kebaikan hidupnya, semua itu sesungguhnya adalah ujian untuk menyeleksi mana manusia yang memanfaatkan secara baik semua kenikmatan ini dan menjadikannya sebagai sarana untuk kehidupannya yang hakiki dan mana manusia yang terbuai oleh keindahan dunia, terlena oleh kegemerlapan dan manisnya dunia sehingga membuatnya membangun angan-angan yang panjang, harapan yang jauh kedepan dan cita-cita yang melayang untuk meraih semua kenikmatannya, ia lupa akan kampung halamannya yang pasti ia akan kembali ke sana. Disaat manusia terlena dengan mimpi-mimpinya yang indah hanyalannya yang manis dan angan-angannya yang membuai, tiba-tiba sang maut datang, sang ajal tiba, sang pemutus kenikmatan hadir menghancurkan semua impiannya, mengubur semua angan-angannya, saat itulah ia sadar bahwa apa yang ia lakukan selama ini sia-sia dan ia berharap untuk kembali ke dunia mengulangi kembali perjalan kehidupannya dengan berbuat amal baik.
(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata:”Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitan. (QS. Al Mukminun: 99- 100)

Harapan, musibah dan ajal merupakan rangkaian kehidupan yang dilalui manusia di dunia ini. Manusia berharap dan bercita-cita tinggi kemudian melayang melewati garis-garis ajal, namun akhirnya sang ajal mendahuluinya sebelum harapannya tercapai.

[sumber: buletin Dakwah 05 Desember 2004]

 
Leave a comment

Posted by on February 9, 2012 in artikel, motivasi, renungan

 

Tags: , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: