RSS

Jangan seperti Lilin

05 Feb

“Apakah kalian menyuruh orang – orang berbuat baik, padahal kalian melupakan diri sendiri. Sedang kalian membaca kitab Allah, apakah kamu tidak berakal.”

 (QS. Al Baqarah : 44)

lilin yang menyala membakar dirinya sendiri

Lilin adalah salah satu jenis alat penerangan yang dibutuhkan pada saat – saat tertentu. Fungsinya sebagai alat penerangan, tentu memiliki peranan yang sangat signifikan. Sedikit cahaya darinya pun terasa sangat berharga, utamanya ketika listrik rumah kita padam. Terlepas dengan fungsi dan perannya itu, ada peristiwa yang menarik bagi kita. Peristiwa itu terjadi saat pemunculan cahaya dari lilin tersebut. Ternyata untuk menghasilkan seberkas cahaya, lilin itu harus mengalami perubahan fisis yang sangat hebat.

Lilin harus ‘rela’ melelehkan batangnya secara total hanya untuk menghasilkan energi panas (cahaya), melalui sumbu yang telah ada. Melalui proses yang melibatkan seluruh materi di dalamnya, lilin menyimpan beberapa kesimpulan filosofis. Pertama, ada nilai kemanfaatan atau jasa yang telah diberikan oleh lilin, yakni berupa cahaya. Tidak bisa dibayangkan bila di saat aktivitas kita padat, misalnya pada waktu malam hari, tiba – tiba aliran listrik terputus. Maka, secara otomatis kita akan mencari sumber energi cahaya lain agar aktivitas kita dapat berjalan kembali. Dan lilin adalah alat penerangan alternatif sebagai pilihan.

Kedua, di balik kemanfaatan yang diberikan lilin secara Cuma – Cuma, ternyata lilin harus ‘menanggung’ kerugian untuk memberi nyala terang bagi sekelilingnya. Dengan itu, ia harus melumatkan dirinya sedikit demi sedikit. Ini merupakan wujud penggambaran akan ‘kerugian’ di dalam kemanfaatan.

Bagaimana bila peristiwa di atas dikaitkan dengan persoalan dakwah? Tentu ada ibrah yang dapat kita renungkan. Perilaku yang paling identik dengan segala fenomena lilin adalah ketika seseorang menyeru kepada orang lain untuk berbuat baik, tetapi dirinya sendiri tidak melakukan kebaikan seperti yang diserukannya. Perilaku ini disinggung oleh Allah dengan tegas dalam surat Ash Shaf ayat 2 dan 3, yaitu, “Wahai orang – orang yang beriman, mengapa kamu melakukan apa yang tidak kamu perbuat? Kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa – apa yang tidak kamu kerjakan”. Ironis memang.

Alangkah naifnya, bilamana seorang muslim gemar menasehati dalam nilai – nilai kebaikan dan kebenaran, sementara yang bersangkutan masih aktif berbuat kemungkaran. Sesungguhnya apa yang kita teladankan seharusnya tidak sebatas retorika belaka, tetapi lebih dari itu, ia juga harus mengaplikasikan seruannya itu dalam kehidupan nyata.

Tetapi yang paling penting berapapun jumlah dan jenis kebaikan itu, tetaplah kita serukan dengan konsisten dan semata hanya mengharap ridho Allah  SWT. Yakinkan dalam hati bahwa Allah tidak akan membatasi hambaNya untuk beramal, namun kita tidak boleh melupakan diri. Sehingga dakwah kita tidak seperti lilin. Ia dapat memberi kemanfaatan, namun dirinya sendiri harus menjadi ‘korban’. Patut kita renungkan kata bijakdari sahabat Rasulullah saw, Usamah bin Zaid, “Perumpamaan orang alim yang menyeru kebaikan kepada manusia, tetapi ia sendiri tidak berbuat baik, bagaikan lampu lilin yang menerangi orang lain namun membakar dirinya”. Itulah fenomena yang sering dilakukan orang – orang atau ulama Bani Israil yang gemar mengatakan sesuatu namun tidak pernah diperbuatnya. Wallahu’alam bishawab. [herbayu ragil k]

Semoga bermanfaat.

 
Leave a comment

Posted by on February 5, 2012 in hikmah, renungan

 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: