RSS

Antara Musibah dan Nikmat

04 Feb

Antara Musibah dan Nikmat

Bertentangan Namun Saling Mengisi

Ini adalah kisah nyata. Ada seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi. Di kota tempat ia belajar ia hidup sendiri, sedangkan orangtuanya tinggal di kampung halamannya. Tiap bulan orangtuanya mengirim uang untuk membiayai kebutuhan kuliah dan kebutuhan hidupnya. Namun, ia selalu merasa kekurangan, terutama di saat kebutuhan kuliahnya ‘meledak’. Maka, terbersit dalam hatinya untuk bekerja, kuliah sambil bekerja.

Akhirnya ia mendapatkan pekerjaan. Hari – harinya menjadi super sibuk. Pagi hari kuliah dan sore sampai malam ia bekerja. Pulang kerja, rasa capek menggerogotinya hingga ia langsung tidur dan tak ada lagi waktu untuk belajar. Hasilnya,dengan bekerja oa mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhannya, bahkan ia bisa mentraktir teman – temannya. Namun, di sisi lain ia harus kehilangan sesuatu yang ia rasa sangat berharga, yakni waktu belajar dan melaksanakan ibadah serta mengerjakan amalan sunnah. Hilang kedekatannya dengan Allah yang merupakan sumber ketenangan batinnya.

Apa yang dapat kita ambil dari kisah di atas? Kalau kita mencoba merenungi tentang musibah – nikmat, tentang susah – senang, atau kaya – miskin, sesungguhnya hal – hal ini merupakan satu pasangan yang mengisi satu sama lain. Artinya di mana ada kenikmatan, di situ pula muncul kesusahan. Di mana kesusahan muncul, di situ pula kenikmatan lahir. Bila kita mendapatkan kenikmatan, maka bersiaplah untuk kehilangan sesuatu. Atau sebaliknya, bila kita mendapatkan kesusahan, maka bersiaplah mendapatkan kenikmatan dibalik kesusahan itu. Lalu untuk apa kita terlalu takut dengan kesusahan dan derita? Atau mengapa kita terlalu senang dengan kenikmatan, padahal Allah menyatakan, “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (Q.S Al Insyirah 5-6). Sekali lagi di sini Allah menegaskan hingga dua kali bahwa bersama kesulitan Allah juga menyertakan kemudahan atau solusi.

Coba kita bayangkan, apa yang akan kita lakukan seandainya Allah menguji dengan suatu musibah. Ketiadaan atau kemiskinan. Kadang – kadang kita begitu cepat berprasangka buruk kepada Allah. Kita merasa bahwa Allah telah berbuat tidak adil kepada kita. Jarang sekali kita mencoba bersabar dan mengambil pelajaran dari musibah yang kita alami. Padahal dengan sabar kita bisa semakin dekat dengan Allah. Karena Allah sendiri menyukai orang – orang yang sabar.

Bagaimanapun keadaan kita dalam hidup ini, entah senang atau menderita, ingatlah bahwa terselip derita dibalik kesenangan, dan terselip kesenangan dibalik derita. Maha Suci Allah yang telah menjadikan makhlukNya berpasangan, karena dengan demikian keseimbangan hidup di dunia ini dapat terjaga. Bayangkan saja seandainya hidup ini monoton, satu arah atau satu sisi saja. Dengan kata lain hanya ada kesenangan saja atau derita saja. Lalu di mana kita akan menggunakan akal pikiran yang membedakan kita dengan makhluk lain. Sekali lagi, bagaimanapun posisi kita, hendaknya kita selalu berbaik sangka kepada Allah. Sebab Allah telah berfirman dalam hadits qudsi: “Sesungguhnya Aku tergantung bagaimana persangkaan hambaKu padaKu…” Jadi, kalau kita berburuk sangka kepadaNya, maka keburukanlah yang akan kita peroleh. Sebaliknya, bila kita berbaik sangka kepadaNya, niscaya Allah akan mempermudah kehidupan kita baik di dunia maupun di akhirat.

Semoga bermanfaat.

Sumber tulisan: Majalah Tarbawi edisi 52 th 4/ Dzulhijjah 1423 H

 
Leave a comment

Posted by on February 4, 2012 in hikmah, motivasi, renungan

 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: