RSS

Selintas Kehidupanku di Pesanggrahan Batu

02 Feb

Ada empat unsur kebahagiaan dalam kehidupan yaitu istri yang shalihah, rumah yang lapang, kendaraan yang nyaman, dan tetangga yang baik. Salah satu unsur yang tidak kalah penting adalah terkait dengan rumah yang lapang. Rumah adalah sebuah persinggahan di mana seseorang melepaskan segala letih dan penat setelah seharian beraktivitas. Sehingga rumah menjadi faktor penentu seseorang memulai hari dengan nyaman atau tidak.

Menempati sebuah rumah sederhana di lereng kaki gunung Panderman adalah pilihan kami setelah mensurvey beberapa tempat di Batu. Teriring harap dan do’a semoga keberkahan menyertai kepindahan ini. Ada semangat baru untuk membuka lembaran hidup baru dengan suasana baru di rumah kontrakan yang baru nanti. Begitulah suasana yang mengiringi kepindahanku dari Desa Oro – Oro Ombo (kontrakan lama) ke kontrakan baru. Rumah kontrakanku kini berada di Dusun Srebet, Desa Pesanggrahan, Kota Wisata Batu, Jawa Timur.

Inilah Sejarah Desa Pesanggrahan

Gunung Panderman - google pic

Pesanggrahan, pada zaman dahulu adalah sebuah tempat dimana para Petinggi Kerajaan beristirahat. Konon para Raja, Ratu, Adipati dan Punggawa Kerajaan antara lain Raja Mataram bersama para Istri selirnya sering mandi di sumber mata air panas Songgoriti dan beristirahat atau “Mesanggrah” [Jawa] di tempat yang sekarang ini orang menyebut Desa Pesanggrahan. Wilayah Pesanggrahan yang karena letaknya di bawah lereng Gunung Panderman, panoramanya yang indah serta hawanya yang sangat sejuk [saat itu] menjadikan daya tarik tersendiri bagi orang dari luar untuk beristirahat di tempat ini, di samping itu tempat ini sudah menjadi salah satu tempat di mana banyak Petinggi Kerajaan beristirahat pada zaman itu, maka pada akhirnya wilayah ini dinamakan Desa Pesanggrahan.

Dalam era perkembangannya, karena tingkat keramaian dan kemajuan sosial budaya masyarakat semakin tinggi, Desa Pesanggrahan dibagi menjadi beberapa wilayah kecil yang disebut “Dusun” yang namanyapun mengikuti sejarah asal-usul dusun masing-masing. Desa Pesanggrahan berlokasi tepat pada lereng gunung Panderman persis berada pada lereng sebelah utara gunung panderman. Desa Pesanggrahan dibatasi oleh kelurahan Ngaglikpada sebelah timur, Desa Songgokerto pada sebelah utara, sementara sebelah barat dan selatan langsung berbatasan dengan hutan.

Asal Mula kata ‘Srebet’

Desa Pesanggrahan dibagi menjadi 5 dusun. Salah satunya bernama ‘Dusun Srebet’. Kata “Srebet”, berasal dari bahasa Jawa “Semrebet“, kata tersebut dalam bahasa Indonesia artinya menebar/semerbaknya aroma harum/wangi seseorang. Makna lain dari kata “Semrebet“ adalah sebuah bunyi Baju Jarik seorang perempuan yang berbunyi “Brebat–brebet“ [Jawa]. Nama Dusun Srebet diambil dari menebarnya [Semrebet] aroma harum dan bunyi [Brebat-Brebet] ‘Baju Jarik’ seorang perempuan yang diyakini oleh warga masyarakat sebagai orang yang membuka/Bedah Krawang Dusun Srebet. Masyarakat menyebutnya dengan sebutan “Mbah Ageng Maimunah Mayangsari” yang saat ini “Pesareannya“ berada di Jl. Cempaka Gg. Pesarean, dan tempat tersebut hingga kini selalu dikunjungi masyarakat baik dari dalam maupun dari luar Kota Batu.

Pagi Pertama di Srebet

Masih kuingat, pagi pertama yang kulakukan di sini bersama suami adalah jalan – jalan melihat pemandangan sekitar. Baru beberapa langkah kita keluar rumah, sebuah pemandangan yang disuguhkan oleh alam adalah megahnya gunung Panderman nan berdiri kukuh. Pemandangan begitu asri dan gunung nampak jelas tanpa kabut, karena semalam habis diguyur hujan deras. Suasana di dusun ini kuakui lebih sejuk dibanding dengan rumah kontrakan sebelumnya, airnya juga lebih dingin dan jernih karena bersumber dari  mata air gunung Panderman. Tak pernah kubayangkan sebelumnya tinggal di lereng gunung macam ini.

Villa Holland, Pesanggrahan Batu

Kuhirup dalam – dalam udara yang sejuk ini, memenuhi rongga dada dan kami sangat menikmati acara jalan – jalan pagi ini ditemani sinar mentari yang menerpa lembut. Tak lupa kami tebar salam ke beberapa tetangga yang kami temui sambil memperkenalkan diri. Kami juga melihat beberapa petani wortel sedang mencuci wortelnya yang baru saja dipanen. Bau harum semerbak khas wortel menggelitik hidungku. Ingin rasanya melahap wortel itu mentah – mentah. Kami terus berjalan – jalan naik ke atas, ke arah gunung Panderman, hingga akhirnya kami menemukan sebuah villa nan asri dan cukup luas. Villa tersebut bernama ‘Holland’. Entah kenapa diberi nama seperti itu, kami kurang tahu sejarahnya. Kami juga menemukan masjid dengan sebuah nama yang unik. Masjid itu bernama ‘Masjid Merah Putih’, karena warna bangunannya didominasi warna merah dan putih. Nasionalisme banget, pikir kami kala itu. Masjid ini biasa digunakan sebagai tempat singgah sementara orang – orang yang dalam perjalanan maupun yang menginap di villa Holland tadi.

Usai berjalan – jalan kami mampir ke peternakan sapi yang dikelola oleh penduduk setempat yang letaknya tak jauh dari rumah kontrakan kami. Pak Sumardi, nama pemilik peternakan sapi tersebut. Kami melihat – lihat sapi yang baru ‘dimandiin’ kemudian diperah susunya. Aku sempat mencoba memberi makan seekor sapi dengan dedaunan, namun karena agak takut, daun yang sudah kusodorkan ke mulut sapi malah terjatuh padahal si sapi telah berusaha membuka mulutnya siap menyantap daun yang kusodorkan. Tak berapa lama sapinya mengeram tanda tak suka. Satu pelajaran yang bisa kuambil. Jangan berbohong pada binatang, karena ia juga punya naluri. Ulama Bukhori tidak meriwayatkan hadits dari seorang pembohong, walau itu bohong dengan binatang. Setelah ngobrol dan ramah tamah sebentar dengan pemiliknya, kami pulang sambil membawa sebotol susu sapi murni segar yang masih hangat, karena baru saja diperas (sebotol 1,5 liter harganya cukup Rp 5000,-)

Selain kebiasaan hidup kami yang berubah (mendadak jadi sering jalan pagi karena ingin menghirup udara segar), ternyata beberapa hal juga kulakukan terkait dengan urusan dapur. Di sini tempat berbelanja relatif banyak pilihan dan dekat (tetangga banyak yang jualan). Sehingga menu harianku jadi lebih bervariatif. Namun, karena daya listrik masih 450 watt, maka dengan pemakaian tv, laptop, lampu, setrika dan magic com tidak kuat dan akhirnya sering mati. Setelah melakukan perundingan dengan suami, akhirnya kami memutuskan mengurangi penggunaan listrik. Setelah diusut, ternyata listrik yang dayanya paling besar adalah magic com (350 watt). So, untuk menanak nasi akhirnya diputuskan dengan cara manual (adang). Padahal sejak kecil aku tak pernah menanak nasi dengan cara manual. Aku hanya masih ingat saat dulu bersama nenek, nenek sering mengajakku ke dapur dan memperkenalkan bagaimana cara memasak sayur ini itu, termasuk bagaimana cara menanak nasi yang pulen. Dengan berbekal ingatanku akan ilmu dari nenek itulah aku coba praktekkan di sini. Hasilnya? Suamiku justru memuji bahwa nasi hasil bikinanku lebih pulen dan enak dibanding kalau menanak nasi di majig com. Senangnya hatiku…. ^^

Waktu siang sampai sore hari di sini, ramai diperdengarkan dendangan Al Qur’an oleh anak – anak yang mengaji Al Qur’an. Di sekeliling rumah kami, ada tiga tempat belajar Al Qur’an, sehingga kami dapat ikut mendengar suara dan celotehan anak – anak kala mereka mengaji Al Qur’an. Suasana ini mengingatkanku akan sebuah kenangan mengajar TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an) sewaktu masih kuliah D3 di Jogja.

Beberapa Catatan tentang Pendidikan Anak

Beberapa hal yang menjadi catatan kami memilih tempat tinggal di sini antara lain karena terinspirasi teladan dari kisah nabi Ibrahim dalam mendidik putranya, Ismail. Mari kita kaji di Al Qura’an surat Ibrahim ayat 37-41, bagaimana Nabi Ibrahim As berperan sebagai pendidik utama dalam keluarganya. Beliau adalah orang tua yang banyak mendoakan anak-anak dan keluarganya  dan menyandarkan harapannya hanya pada Allah.

Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Aku Telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur. Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.

Segala puji bagi Allah yang Telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha mendengar (memperkenankan) doa. Ya Tuhanku, jadikanlah Aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.

Ya Tuhan kami, beri ampunlah Aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”.

 [Q. S. Ibrahim: 37-41]

Doa di atas adalah do`a Nabi Ibrahim as, yang darinya kita dapat memetik beberapa hikmah tentang bagaimana Nabi Ibrahim mendidik putranya .

Pertama ; Mencari, membentuk lingkungan yang baik.

Representasi lingkungan yang baik bagi Nabi Ibrahim adalah Baitullah [rumah Allah], dan kalau kita adalah masjid [rumah Allah].  Terdapat nilai lebih jika kita bertempat tinggal dekat dengan masjid atau anak-anak kita lebih sering ke masjid, karena memudahkan mereka mencintai masjid. Bila kita kesulitan menemukan masjid, maka hendaknya kita tetap berusaha mencarikan dan membentuk  lingkungan yang baik bagi putra-putri kita.

Kedua ; Mendidik anak agar mendirikan shalat.

Nabi Ibrahim secara khusus berdoa agar anak keturunannya tetap mendirikan shalat.
Ya Tuhanku, jadikanlah Aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku”. (QS Ibrahim :40)

Rasulullah saw memberikan arahan tentang keharusan pembelajaran shalat kepada anak,  “Suruhlah anak shalat pada usia 7 tahun, dan pukullah bila tidak shalat pada usia 10 tahun”. Rasulullah saw membolehkan memukul anak di usia 10 tahun kalau dia tidak melakukan shalat dari pertama kali disuruh di usia 7 tahun. Ini artinya ada masa 3 tahun, orang tua untuk mendidik anak-anaknya untuk shalat. Dan waktu yang cukup untuk melakukan pendidikan shalat.

Ketiga ; Mendidik anak agar disenangi banyak orang.

Orang senang bergaul dengan anak kita, seperti yang diperintahkan oleh Rasulullah saw: “Berinteraksilah dengan manusia dengan akhlaq yang baik.” [HR. Bukhari].

Keempat ;  Mendidik anak agar dapat menjemput rezki yang Allah telah siapkan bagi setiap orang.
Anak dididik untuk memiliki life skill [keterampilan hidup] dan skill to life [keterampilan untuk hidup]

Kelima ;  Mendidik anak dengan mempertebal terus keimanan, hingga merasakan kebersamaan dan pengawasan Allah kepada mereka. Menceritakan kisah seorang budak penggembala kambing yang enggan menjualkan kambing milik tuannya kepada Umar Al-Khattab lalu mempersoalkan kembali “Di mana Allah ?” untuk dia melakukan hal tersebut. Begitu juga kisah anak penjual susu yang menghalangi niat ibunya yang berhasrat mencampurkan air ke dalam susu. Inilah teladan yang kita perlu contohkan kepada anak – anak zaman sekarang yang berada dalam lingkungan yang penuh dengan maksiat.

Keenam ; Mendidik anak agar tetap memperhatikan orang-orang yang berjasa—sekalipun sekadar doa—dan peduli terhadap orang-orang yang beriman yang ada di sekitarnya baik yang ada sekarang maupun yang telah mendahuluinya. Mengajak anak bergaul dan mengambil pelajaran dari  orang – orang soleh akan mempengaruhi akhlak si anak. Dengan harapan mereka tumbuh menjadi orang yang jiwanya penuh kebaikan dan memberi manfaat kepada orang lain seperti para salafusshaleh.

Itulah sedikit catatan tentang hari pertamaku tinggal di rumah kontrakan baru beserta inspirasi memilih lingkungan tempat tinggal yang baik untuk anak. Semoga catatan kecil ini dapat bermanfaat. Salam. [yn]

Kota Wisata Batu,
Februari 2012

sumber gambar: google

 
6 Comments

Posted by on February 2, 2012 in keluarga, kisahku, pendidikan anak

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , ,

6 responses to “Selintas Kehidupanku di Pesanggrahan Batu

  1. zainuri

    February 3, 2012 at 12:10 am

    Alhamdulillah. Allah senantiasa memberikan yang lebih baik dari yang terbaik yang pernah ada. Semoga dengan tempat baru semakin produktif, tambah sosialisasi dengan warga dan bisa berkontribusi positif.

    kapan-kapan pengin motoran ke desa paling puncak di atas sana,,, yuk.. jalan-jalan lagi…

    btw, siip. salut dengan tulisannya. ditunggu tulisan lainnya ya…

     
    • honeyizza

      February 3, 2012 at 2:41 am

      Alhamdulillah, bersama kesulitan Allah juga menyertakan kemudahan. Dan jangan lupa selalu selipkan rasa syukur atas nikmatNya.

      Hayuuukk… kita luangkan waktu untuk jelajah desa tempat tinggal kita sekarang ini.

      Okey, insyaAllah. Siap berkontribusi lagi..!

       
  2. Evi

    February 4, 2012 at 12:33 am

    Namanya saja sudah Pesanggrahan, pesanggrahan raja dan ratu, pastinya pasti cantik ya Mbak…Ini tempat tinggal yang keren menurut saya mah..Apa lagi tak terpencil amat, karena masih bisa berinternet . Salam kenal ya Mbak🙂

     
    • honeyizza

      February 6, 2012 at 7:27 am

      Iya makasih mb Evi..
      Kapan2 kalo pas liburan ke Batu, mampir aja mb…
      Alhamdulillah, sinyal di sini bagus banget, pemancar sinyal hp ada di sini juga kok.
      Oke, salam kenal juga..btw, kita tukeran link yuukk..

       
      • Evelin

        May 19, 2015 at 4:31 pm

        Tahun depan aku akan tinggal di sana , mohon di bantu untuk kehidupan di sana seperti apa ?
        mata pencarian di sana ,aku tinggal seorang diri .

         
      • yanukwulandari

        October 5, 2016 at 2:28 am

        apa kabar mb Evelin..? sudah di Batu sekarang..? Maafkan atas respon yang amat sangat terlambat…. 🙏🙏🙏

         

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: