RSS

Prioritas Kualitas daripada Kuantitas

19 Jan
MEMPRIORITASKAN KUALITAS 
ATAS KUANTITAS
Yang paling penting adalah keimanan dan kemauan, 
bukan jumlah yang banyak.

DI ANTARA hal-hal terpenting yang perlu diprioritaskan menurut pandangan syariat ialah: Mendahulukan kualitas dan jenis urusan atas kuantitas dan volume pekerjaan. Yang perlu mendapat perhatian kita bukanlah banyak dan besarnya persoalan yang dihadapi, tetapi kualitas dan jenis pekerjaan yang kita hadapi.

Al-Qur’an sangat mencela terhadap golongan mayoritas apabila di dalamnya hanya diisi oleh orang-orang yang tidak berakal, tidak berilmu, tidak beriman dan tidak bersyukur; sebagaimana disebutkan dalam berbagai tempat di dalamnya:

“… akan tetapi kebanyakan mereka tidak memahamirya.”
(al-Ankabut: 63)

“… akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
(al-A’raf:187)

“… akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.”
(Hud:17)

“… akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.”
(al-Baqarah: 243)

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari
jalan Allah…” (al-An’am: 116)

Pada masa yang sama, al-Qur’an memberikan pujian terhadap kelompok minoritas apabila mereka beriman, bekerja keras, dan bersyukur; sebagaimana disebutkan di dalam firman-Nya:

“… kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh; dan amat sedikitlah mereka ini…” (Shad: 24)

“… dan sedikit sekali hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (Saba’:13)

“Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit lagi tertindas di muka bumi…” (al-Anfal: 26)

“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang
daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami
selamatkan di antara mereka…” (Hud: 116)

Oleh karena itu, tidaklah penting jumlah manusia yang banyak,
akan tetapi yang paling penting ialah banyaknya jumlah orang
Mu’min yang shaleh.

Hadits Nabi pernah menyebut jumlah manusia yang banyak:

“Menikahlah kamu, kemudian berketurunanlah, agar jumlah
kamu menjadi banyak, karena sesungguhnya aku bangga
dengan jumlahmu yang banyak atas umat-umat yang lain.”1

Akan tetapi, Rasulullah saw tidak membanggakan kebodohan,
kefasikan, kemiskinan dan kezaliman umatnya atas umat-umat
yang lain. Namun beliau membanggakan orang-orang yang baik,
bekerja keras, dan memberikan manfaatnya kepada orang lain.

Rasulullah saw pernah bersabda,

“Manusia itu bagaikan unta, di antara seratus ekor unta
itu engkau belum tentu menemukan seekor yang boleh
dijadikan sebagai tunggangan.”2

Perbedaan yang terjadi di antara umat manusia sendiri adalah
paling banyak dibandingkan dengan perbedaan yang terjadi pada
semua jenis binatang dan lainnya. Dalam sebuah hadits pernah
dikatakan,

“Tidak ada sesuatu yang lebih baik daripada seribu yang
semisalnya kecuali manusia.”3

Kita senang sekali dengan kuantitas dan jumlah yang banyak
dalam segala sesuatu, dan suka menonjolkan angka beribu-ribu
dan berjuta-juta; tetapi kita tidak banyak memperhatikan apa
yang ada di balik jumlah yang banyak itu, dan apa yang
terkandung di dalam angka-angka tersebut.

Salah seorang penyair pada zaman Arab Jahiliyah telah
mengetahui pentingnya kualitas dibandingkan dengan kuantitas,
ketika dia mengatakan,

“Ia mencela kami karena jumlah kami sedikit.

Maka kukatakan kepadanya, “Sesungguhnya orang-orang yang
mulia itu sedikit.”

“Apalah ruginya kami sedikit, kalau dengan jumlah yang
sedikit itu kami mulia.

Sedangkan orang-orang yang jumlahnya banyak itu
terhina.”

Al-Qur’anpun menyebutkan kepada kita bagaimana tentara Thalut,
yang jumlahnya sedikit dapat mengalahkan tentara Jalut, yang
jumlahnya banyak:

“Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia
berkata, “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan
suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya,
bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya
kecuali menciduk seciduk tangan, maka ia adalah
pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa
orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan
orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberang
sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata, “Tak
ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut
dan tentaranya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka
akan menemui Allah berkata, “Berapa banyak terjadi
golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang
banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang
yang sabar. Tatkala Jalut dan tentaranya telah tampak
oleh mereka, merekapun berdoa: “Ya Tuhan kami,
tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah
pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang
kafir. ” Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara
Jalut dengan izin Allah…” (al-Baqarah: 249-251)

Al-Qur’an menyebutkan kepada kita bagaimana Rasulullah saw dan
para sahabatnya dapat memperoleh kemenangan pada Perang Badar,
padahal jumlah mereka sangat sedikit dibandingkan dengan
jumlah musuh mereka, kaum musyrik yang jumlahnya sangat
banyak.

“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan
Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang
lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu
mensyukuri-Nya.” (Ali ,Imran: 123)

“Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih
berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Makkah),
kamu takut orang-orang Makkah akan menculik kamu, maka
Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan
dijadikanrrya kamu kuat dengan pertolongan-Nya…”
(al-Anfal: 26)

Pada saat yang lain, kaum Muslimin juga hampir menderita
kekalahan pada Perang Hunain, karena mereka melihat kepada
kuantitas dan bukan kualitas, sehingga mereka membanggakan
diri dengan kuantitas, dan meremehkan kekuatan ruhaniah, serta
kemahiran berperang. Kemudian pada awal peperangan mereka
terkepung, sehingga mereka baru mengetahui dan menyadari, lalu
bertobat; dan akhirnya Allah memberikan kemenangan kepada
mereka, dengan memberikan bantuan kekuatan tentara yang tidak
mereka lihat.

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para
Mu’tmin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah)
peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak
karena banyaknya jumlah, maka jumlah yang banyak itu
tidak memberi manfaat kepada kamu sedikitpun, dan bumi
yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu
lari ke belakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah
menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada
orang-orang yang beriman dan Allah menurunkan bala
tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan
bencana kepada orang-orang kafir, dan demikianlah
pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (at-Taubah:
25-26)

Telah dijelaskan di dalam al-Qur’an bahwa apabila keimanan dan
kemauan kuat atau kesabaran telah berkumpul dalam diri
manusia, maka kekuatannya akan menjadi sepuluh kali lipat
jumlah musuh-musuhnya, yang tidak memiliki keimanan dan
kemauan. Allah SWT berfirman:

“Hai nabi, kobarkanlah semangat para Mu’min itu untuk
berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara
kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang
musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di
antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada
orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum
Muslimin yang tidak mengerti.” (al-Anfal: 65)

Yang demikian ini ialah ketika keadaan mereka kuat. Sedangkan
ketika mereka dalam keadaan lemah, maka kekuatan itu hanya
menjadi dua kali lipat kekuatan musuh, sebagaimana
diisyaratkan dalam ayat ini:

“Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah
mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada di
antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat
mengalahkan dua rarus orang; dan jika di antaramu ada
seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat
mengalahkan dua ribu orang dengan izin Allah…”
(al-Anfal: 66)

Oleh karena itu, yang paling penting ialah keimanan dan
kemauan, dan bukan jumlah yang banyak.

Barangsiapa mau membaca sirah Rasulullah saw maka dia akan
mengetahui bahwa sesungguhnya perhatian beliau tertumpu kepada
kualitas dan bukan kuantitas. Dan orang yang mau menyimak
sirah para sahabat dan para khalifah rasyidin akan mendapati
hal yang sama dengan jelas sekali.

Umar bin Khatab pernah mengutus Amr bin ‘Ash untuk menaklukkan
Mesir, dengan membawa empat ribu orang tentara saja. Kemudian
dia meminta tambahan personil tentara lagi, dan Umar memberi
empat ribu orang tentara lagi, berikut empat orang
komandannya. Umar berkata, “setiap orang komandan tambahan ini
membawahkan seribu orang tentera; dan aku menilai jumlah
mereka semuanya adalah dua belas ribu orang tentara. Dua belas
ribu (tentara) tak akan dikalahkan karena jumlah yang
sedikit.”

Umar sangat percaya bahwa yang paling penting ialah kualitas,
kemampuan, dan kemauan mereka dan bukan jumlah dan besar
mereka.

Diriwayatkan dari Rasulullah saw bahwasanya pada suatu hari
beliau duduk bersama sebagian sahabatnya di sebuah rumah
temannya, kemudian beliau berkata kepada mereka, “Tunjukkanlah
cita-cita kamu.” Maka salah seorang di antara mereka berkata,
“Aku bercita-cita ingin mempunyai dirham dari perak yang
memenuhi rumah ini sehingga aku dapat menafkahkannya pada
Jalan Allah.” Orang yang lain bercita-cita memiliki emas
sepenuh rumah tersebut dan menafkahkannya di jalan Allah.
Sementara Umar berkata, “Aku, ingin memiliki orang seperti Abu
Ubaidah al-Jarrah, Mu’adz bin Jabal, Salim Maula Abu
Hudzaifah, sepenuh rumah ini agar aku dapat mempergunakannya
untak berjuang di jalan Allah.”

Pada zaman kita sekarang ini, jumlah kaum Muslimin sedunia
telah melebihi satu seperempat milyar jiwa. Akan tetapi sayang
sekali jumlah sebesar itu kebanyakan memiliki sifat yang
pernah diutarakan oleh sebuah hadits yang diriwayatkan oleh
Ahmad dan Abu Dawud dari Tsauban,

“Pada suatu hari kelak, umar-umat akan memusuhi kalian
dari segala penjuru, seperti orang-orang lapar yang
memperebutkan makanan.” Para sahabat bertanya, “Apakah
karena jumlah kami yang sedikit pada masa itu wahai
Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab, “Bahkan, jumlah
kalian pada waktu itu banyak, akan tetapi kalian hanya
bagaikan buih yang terbawa arus air; dan sungguh Allah
akan mencabut rasa takut dari dada para musuh kalian;
dan sungguh Allah akan menghujamkan wahn di dada kalian.
” Para sahabat bertanya kembali, “Apakah wahn itu wahai
Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab, “Cinta dunia dan
takut mati.” (lihat al-Jami’ as-Shaghir: 8183).

Hadits ini menjelaskan bahwa jumlah yang banyak saja belum
cukup, apabila jumlah ini hanya kelihatan megah dari luar,
tetapi lemah dari dalam; sebagaimana periode ketika umat hanya
bagaikan buih yang terseret arus air; di mana pada masa ini
umat bagaikan buih, tidak memiliki identitas, kehilangan
tujuan dan jalan yang benar; dan benar-benar seperti buih yang
terbawa arus air.

Oleh karena itu, perhatian kita hendaknya ditujukan kepada
kualitas dan jenis, bukan kepada sekadar kuantitas. Yang
dimaksudkan dengan kuantitas di sini ialah jumlah sesuatu yang
dilihat secara material, besarnya angka, luasnya jarak,
besarnya isi, beratnya timbangan, panjangnya waktu, dan lain
sebagainya yang serupa dengan itu.

Apa yang kami katakan tentang besarnya angka itu dapat
dicontohkan dalam hal yang lain.

Manusia, misalnya, tidak diukur dari tinggi tubuhnya, kekuatan
ototnya, besar tubuhnya, dan kecantikan wajahnya. Semua ini
adalah hal-hal yang berada di luar inti dan hakikat
kemanusiaan. Tubuh manusia –pada akhirnya– tidak lain
hanyalah bungkus dan instrumennya, sedangkan hakikatnya ialah
akal dan hatinya.

Allah SWT pernah memberikan penjelasan berkenaan dengan
sifat-sifat orang munafik sebagai berikut:

“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka
menjadikan kamu kagum…” (al-Munafiqun: 4)

Dia juga pernah memberikan sifat kaum ‘Ad, melalui lidah
nabi-Nya, Hud a.s.:

“… dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan
perawakanmu…” (al-A’raf: 69)

Akan tetapi sesungguhnya kelebihan kekuatan tubuh itu
menjadikan mereka terkecoh dan menyombongkan diri, sebagaimana
difirmankan oleh Allah SWT:

“Adapun kaum Ad maka mereka menyombongkan diri di muka
bumi tanpa alasan yang benar dan berkata, “Siapakah yang
lebih besar kekuatannya daripada kami?…” (Fushshilat:
15)

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan:

“Sungguh akan datang pada hari Kiamat seorang laki-laki
besar dan gemuk, maka di sisi Allah ia tidak akan
seberat timbangan sayap nyamuk. Allah berfirman: ‘…
dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan)
mereka pada hari kiamat.'” (al-Kahfi: 105)4

Pada suatu hari Ibn Mas’ud memanjat sebuah pohon, maka
tampaklah kedua betisnya yang lembek dan kurus, maka sebagian
sahabat tertawa karena melihatnya. Kemudian Rasulullah saw
yang mulia bersabda, “Apakah kamu tertawa karena melihat kedua
betisnya yang lembek? Sesungguhnya, kedua betis itu jika
ditimbang kelak (beratnya) lebih beret daripada bukit Uhud.”5

Oleh karena itu tidaklah begitu penting tubuh yang besar den
kuat, kalau tidak disertai dengan akal pikiran yang cerdas den
hati yang jernih. Dahulu penyair Arab mengatakan, “Engkau
lihat para pemuda bagaikan kurma dan engkau tidak tahu apa
isinya.”

Hasan bin Tsabit pernah mengejek suatu kaum Muslimin dengan
mengatakan,

“Tidak mengapalah suatu kaum itu memiliki tubuh yang
jangkung atau pendek, berbadan keledai tetapi berhati
burung.”

Hal ini bukan berarti bahwa Islam tidak menetapkan suatu
penilaian terhadap kekuatan den kesehatan tubuh manusia. Ia
sangat peduli dengan kedua hal ini. Bahkan, Allah SWT memuji
Thalut dengan firman-Nya:

“… dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang
perkasa..” (al-Baqarah: 247)

Dalam hadits yang shahih disebutkan:

“Sesungguhnya badanmu memiliki hak atas dirimu.”6

“Orang Mu’min yang kuat itu lebih baik dan lebih
dicintai oleh Allah daripada orang Mu,min yang lemah.” 7

Akan tetapi, pernyataan-pernyataan ini tidak dijadikan sebagai
ukuran keutamaan.

Tubuh yang perkasa dan kuat bukanlah ukuran kelelakian
seseorang, dan bukan ukuran keutamaan pada diri manusia.
Begitu pula kecantikan paras wajah dan bentuk tubuhnya.

Dalam hadits disebutkan:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh kamu, dan
bentuk luar kamu, akan tetapi Dia melihat kepada
hati-hati kamu.”8

Salah seorang penyair pernah menyampaikan pujiannya kepada Abd
al-Malik bin Marwan dengan mengatakan,

“Bila mahkota telah bertengger di atas kepalanya,
seakan-akan wajahnya adalah wajah emas.”

Kemudian Abd al-Malik mencemoohkan sang penyair, karena dia
memujinya dengan pujian yang menyerupai seorang perempuan
cantik, seraya berkata kepadanya: “Mengapa engkau tidak
memujiku seperti penyair yang memuji Mush’ab bin Zubair?”

“Sesungguhnya Mush’ab adalah meteor dari Allah, yang
cahayanya menerangi kegelapan. Putusan yang dia tetapkan
sangat kuat, tetapi tanpa mengandung
kesewenang-wenangan.”

Memang… lelaki itu dinilai dari ilmu pengetahuan yang ada di
otaknya, dan keimanan yang bersemayam di dalam hatinya; serta
amalan sebagai buah imannya. Dan sesungguhnya amal perbuatan
di dalam Islam ini tidaklah diukur dari besar dan jumlahnya,
tetapi ia diukur dari sejauh mana kebaikan dan kualitasnya.
Melakukan perbuatan yang baik bukanlah sunat di dalam Islam,
tetapi merupakan sebuah fardhu yang diwajibkan oleh Allah atas
orang-orang yang beriman, sebagaimana fardhu-fardhu yang
diwajibkan atas mereka, seperti puasa dan fardhu-fardhu yang
lainnya.

Rasulullah saw bersabda,

“Sesungguhnya Allah menulis (mewajibkan) perbuatan yang
baik atas segala sesuatu. Jika kamu mau membunuh
binatang, maka bunuhlah dengan baik, dan apabila kamu
hendak menyembelihnya, maka sembelihlah dengan
menyembelih yang baik. Dan hendaklah salah seorang di
antara kamu menajamkan pisaunya, dan mengistirahatkan
binatang yang disembelihnya.”9

Asal mula arti menulis (kataba) di dalam hadits tersebut
menunjukkan adanya kewajiban atau fardhu.

Selain itu, Rasulullah saw juga bersabda,

“Sesungguhnya Allah mencinlai orang yang apabila
melakukan sesuatu dia melakukannya dengan
sebaik-baiknya.”10

Dia mencintai perbuatan itu dan juga mencintai orang yang
melakukannya.

Bahkan, sesungguhnya al-Qur’an tidak menganggap cukup dengan
pelaksanaan yang baik, tetapi menganjurkan mereka untuk
melakukan yang terbaik. Allah SWT berfirman:

“Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan
kepadamu dari Tuhanmu…” (az-Zumar: 55)

“… Sebab itu sampaikanlah berita itu kepada
hamba-hamba-Ku. Yang mendengarkan perkataan lalu
mengikuti apa yang paling baik di antaranya…”
(az-Zumar: 17-18)

Bahkan, al-Qur’an menganjurkan kita untuk membantah
orang-orang yang menentang kita dengan cara yang paling baik.

” … dan bantahlah mereka dengan cara yang paling
baik…” (an-Nahl: 125)

Serta menyuruh kita untuk menolak kejahatan itu dengan cara
yang baik daripada kejahatan tersebut.

“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah
kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka
tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada
permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat
setia”. (Fushshilat: 34)

Dan al-Qur’an melarang kita untuk mendekati harta kekayaan
anak yatim kecuali dengan cara yang paling baik.

“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali
dengan cara yang lebih bermanfaat…” (al-An’am: 152)

Selain itu, al-Qur’an menjadikan penciptaan bumi dan isinya,
penciptaan mati dan hidup, penciptaan langit dan bumi serta
apa yang ada di antara keduanya sebagai ujian bagi orang-orang
yang dibebani kewajiban. Semua itu untuk mengetahui siapakah
di antara mereka yang terbaik amalannya.

“… siapakah di antara mereka yang terbaik amalannya.”
(al-Kahfi: 7)

Sebagaimana yang dijelaskan di dalam Kitab Allah (Hud: 7;
al-Mulk: 2; dan al-Kahfi: 7) bahwa persaingan di antara mereka
bukanlah pada perbuatan baik dan buruk, tetapi antara
perbuatan yang baik dan yang paling baik. Perhatian orang
Mu’min hendaknya senantiasa tertumpu kepada yang paling baik
dan tertinggi nilainya. Dalam sebuah hadits disebutkan:

“Apabila kamu meminta surga kepada Allah, maka mintalah
surga Firdaus, karena ia surga yang terletak paling
tengah dan paling tinggi, dan di atasnya adalah
singgasana Tuhan.”11

Dalam hadits yang masyhur berkaitan dengan Jibril a.s. yang
bertanya kepada Rasulullah saw tentang al-ihsan, beliau
menjawab:

“Ihsan itu ialah hendaknya engkau menyembah Allah
seakan-akan melihat-Nya, dan kalau kamu tidak melihatnya
maka sesungguhnya Dia melihatmu.”12

Begitulah penafsiran al-ihsan dalam ibadah. Yakni kita mesti
senantiasa menjaganya, dan mengikhlaskannya untuk Allah SWT.
Amalan-amalan yang diterima di sisi Allah tidak akan dilihat
bentuk dan kuantitasnya, tetapi yang dilihat ialah inti dan
kualitasnya. Betapa banyak amal yang dari segi lahiriahnya
memenuhi syarat, tetapi amal itu kehilangan ruh yang meniupkan
kehidupan ke dalamnya. Dan oleh karena itu amal tersebut tidak
dianggap oleh agama sebagai amal kebajikan, dan tidak
diletakkan di dalam ‘tangan’ timbangan amal kebajikan di
akhirat kelak.

Allah SWT berfirman:

Maka celakalah bagi orang-orang yang salat, (yaitu)
orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang
berbuat riya’ (al-Ma’un: 46)

Berkenaan dengan puasa, Rasulullah saw pernah bersabda,

“Barangsiapa yang tidak mau meninggalkan perkataan
bohong, dan mengerjakan kebohongan, maka Allah tidak
perlu darinya meninggalkan makan dan minumnya.”13

“Bisa jadi orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahala
puasanya kecuali lapar, dan kebanyakan orang yang
melakukan qiyam lail tidak mendapatkan pahalanya kecuali
hanya keterjagaan di malam hari.”14

Allah SWT berfirman:

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah
Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam
(menjalankan) agama dengan lurus, …” (al-Bayyinah: 5)

Rasulullah saw yang mulia bersabda,

“Sesungguhnya amalan harus disertai dengan niat, dan
setiap orang itu akan tergantung kepada niatnya. Maka
barangsiapa berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka
hijrahnya akan mendapatkan Allah dan Rasul-Nya; dan
barangsiapa berhijrah untuk memperoleh dunia, atau
berhijrah untak memperoleh wanita yang akan dinikahinya,
maka hijrahnya adalah untuk apa yang ia niatkan.”15

Oleh karena itu, para ulama Islam sangat memberikan perhatian
kepada hadits tersebut. Bukhari juga membuka kitabnya,
al-Jami’ as-Shahih, dengan hadits ini. Sebagian ulama
menganggap bahwa niat adalah seperempat amalan Islam; sebagian
yang lain menilainya sepertiga; karena niat itu begitu penting
dalam hal yang berkaitan dengan diterimanya amalan seseorang.
Mereka menganggapnya sebagai timbangan bagi inti amal
perbuatan tersebut; sebagaimana disebutkan dalam sebuah
hadits:

“Barangsiapa melakukan suatu amalan, yang tidak ada
landasan dari kami, maka amalan itu tidak diterima.”16

Abu Ali al-Fudhail bin Iyadh pernah ditanya tentang makna
“amalan yang paling baik” pada firman Allah: ” … siapakah di
antara kamu yang paling baik amalannya… ” (Hud: 7), dia
menjawab, “Amalan yang paling ikhlash dan paling baik.” Orang
itu bertanya lagi: “Apakah amalan yang paling ikhlas dan
paling baik ini?” Dia menjawab, “Sesungguhnya Allah tidak akan
menerima suatu amal perbuatan selama ia tidak murni dan baik.
Jika amal perbuatan itu baik, tetapi tidak murni untuk-Nya,
maka ia tidak diterima. Sebaliknya, jika amalan itu murni
tetapi tidak baik, maka ia juga tidak diterima. Kemurnian amal
itu hendaknya hanya semata-mata untuk Allah; sedangkan
kebaikannya ialah bahwa amal itu hendaknya sesuai dengan apa
yang digariskan oleh sunnah Nabi saw.”

Itulah makna “perbuatan yang paling baik” dalam urusan agama
dan ibadah. Adapun kebaikan dalam urusan dunia ialah
tercapainya tingkat kebaikan yang dapat mengalahkan yang
lainnya, sehingga ia menjadi yang paling unggul. Dan perbuatan
seperti ini tidak dapat dilakukan kecuali oleh orang-orang
yang betul-betul serius.

Di antara hadits Nabi saw yang menunjukkan kepada persoalan
ini ialah sebuah hadits marfu’ yang diriwayatkan oleh Muslim
dari Abu Hurairah r.a.

“Barangsiapa yang membunuh kutu pada pijatan pertama,
maka akan dituliskan baginya seratus kebaikan. Sedangkan
pijatan kedua di bawah tingkatan itu, dan pijatan ketiga
di bawahnya lagi.”17

Hadits ini mengarahkan kepada kita mengenai betapa pentingnya
melaksanakan suatu pekerjaan dengan baik dan sempurna,
walaupun hanya membunuh seekor kutu. Karena hal ini sebetulnya
termasuk membunuh dengan cara yang baik, “Apabila kamu
menyembelih binatang, maka lakukanlah dengan baik.” Membunuh
dengan cara yang cepat membuat binatang yang dibunuh itu tidak
merasakan sakit.

Kalau amal perbuatan tidak dapat diukur dengan kuantitas dan
besarnya, maka umur manusia tidak dapat diukur dengan lama
waktunya.

Ada orang yang berumur panjang, tetapi umurnya tidak membawa
berkah; dan ada pula orang yang tidak berumur panjang tetapi
orang itu sarat dengan pelbagai kebajikan dan perbuatan yang
terbaik.

Sehubungan dengan hal ini, Ibn ‘Atha’illah berkata dalam
hikmahnya: “Banyak sekali umur panjang yang diberikan kepada
manusia, tetapi sumbangan yang diberikannya sangat sedikit.
Dan banyak sekali umur pendek yang diberikan kepada manusia,
tetapi sumbangan yang diberikannya sangat banyak. Barangsiapa
yang umurnya diberi berkah oleh Allah SWT maka dalam masa yang
pendek dia akan mendapatkan berbagai karunia dari-Nya, yang
sangat sulit untuk diungkapkan.”

Cukuplah bagi kita sebuah contoh. Yaitu Nabi saw yang mulia,
dalam masa dua puluh tiga tahun –yaitu masa setelah beliau
diangkat menjadi nabi– beliau diberi berkah oleh Allah SWT.
Dalam masa ini beliau berhasil mendirikan agama yang paling
mulia, mendidik generasi yang paling baik, menciptakan umat
yang terbaik, mendirikan negara yang paling adil, menang
terhadap penyembahan berhala orang-orang kafir, Yahudi, serta
memberikan warisan abadi kepada umatnya –setelah kitab
Allah– sunnah yang menjadi petunjuk, dan sirah yang sempurna.

Begitu pula halnya dengan Abu Bakar r.a. Dalam masa dua tahun
setengah, dia berhasil mengalahkan orang-orang yang mengaku
dirinya sebagai nabi-nabi palsu, mengembalikan orang-orang
murtad ke pangkuan Islam, mengirimkan tentara untuk
menaklukkan Persia dan Romawi, mendidik orang-orang yang
enggan membayar zakat, menjaga hak-hak fakir miskin dengan
mengambilkan hak mereka pada harta orang-orang kaya, dan
merekamkan dalam sejarah kedaulatan Islam bahwa
pemerintahannya adalah pemerintahan yang pertama kali
berperang untuk membela hak-hak fakir miskin.

Umar bin Khatab dalam masa sepuluh tahun berhasil melakukan
pelbagai penaklukan wilayah di luar, dan memantapkan kaidah
pemerintahan yang adil berdasarkan musyawarah secara internal.
Dia telah menciptakan berbagai tradisi yang baik bagi
orang-orang sesudahnya yang dikenal dengan “prioritas Umar.”
Dia telah berhasil memancangkan tiang-tiang fiqh sosial,
khususnya fiqh kenegaraan, yang disandarkan kepada tujuan,
pertimbangan antara pelbagai kemaslahatan, melindungi
generasi, serta memberanikan orang untuk memberikan usu1an dan
kritik kepada hakim. Dia berkata, “Tidak ada kebaikan pada
dirimu selama kamu tidak mau mengatakannya, dan tidak ada
kebaikan bagi kami selama kami tidak mendengarkannya.” Selain
itu, Umar juga sangat menjauhi dunia, memiliki kemauan yang
kuat untuk menjalankan kebenaran, mewujudkan keadilan dan
persamaan hak di antara manusia, bahkan bila dia harus
melakukan qisas terhadap para gubernur dan anak-anaknya.

Umar bin Abd al-Aziz menjadi khalifah selama tiga puluh bulan.
Melalui tangannya, Allah SWT menghidupkan tradisi keadilan dan
kecemerlangan, mematikan kezaliman dan kesesatan. Dia menolak
berbagai bentuk kezaliman dan memberikan hak-hak kepada orang
yang berhak memperolehnya. Dia telah berhasil mengembalikan
kepercayaan orang kepada Islam, sehingga semua orang merasa
lega, tenang dan tidak merasa ketakutan. Dia memberi makan
orang-orang yang lapar, menyebarluaskan kemakmuran, sehingga
orang-orang yang berharta berkata, “Di mana kami harus
meletakkan zakat, ketika semua manusia telah diberi kekayaan
oleh Allah SWT.”

Imam Syafi’i, yang hidup selama lima puluh empat tahun
–menurut perhitungan tahun qamariyah– (150-204 H.) tetapi
dia mampu memberikan berbagai sumbangan ilmiah yang orisinal.

Imam al-Ghazali, yang hidup selama lima puluh lima tahun
(450-505 H.) meninggalkan kekayaan ilmiah yang bermacam-macam.

Imam al-Nawawi, yang hidup selama empatpuluh lima tahun
(631-676 H.) meninggalkan warisan yang sangat bermanfaat bagi
kaum Muslimin secara menyeluruh; baik berupa hadits, fiqh;
yaitu dari hadits empat puluhnya hingga penjelasannya atas
hadits Muslim; dari metodologi fiqh hingga Rawdhah
al-Thalibin; dan lain-lain.

Begitu pula halnya dengan para ulama yang lain; seperti: Ibn
Arabi, al-Sarakhsi, Ibn al-Jawzi, Ibn Qudamah, al-Qarafi, Ibn
Taimiyah, Ibn al-Qayyim, al-Syathibi, Ibn Khaldun, Ibn Hajar,
Ibn al-Wazir, Ibn al-Hammam, al-Suyuthi, al-Syaukani, dan
lain-lain yang memenuhi dunia ini dengan ilmu dan
keutamaannya.

Oleh karena itu, ada orang yang meninggal dunia sebelum dia
mati. Umurnya telah habis padahal dia masih hidup. Tetapi ada
orang yang dianggap masih hidup setelah dia meninggal dunia.
Karena dia meninggalkan amal-amal yang shaleh, ilmu yang
bermanfaat, keturunan yang baik, murid-murid yang dianggap
dapat memperpanjang umurnya.

Catatan Kaki:
1 Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Nasai’ dari Ma’qal bin
Yasar, sebagaimana yang dimuat di dalam buku Shahih al-Jami’
as-Shaghir (2940).

2 Muttafaq ‘Alaih, dari Ibn Umar. Lihat al-Lu’lu’ wal-Marjan
(1651).

3 Diriwayatkan oleh Thabrani dalam al-Kabir wa ad-Dhiya’,
dari Salman, dan hadits ini dianggap sebagai hadis hasan di
dalam Shahih al-Jami’ as-Shaghir (5394)

4 Diriwayatian oleh Muttafaq Alaih dari Abu Hulairah r.a.
yang dimuat dalam al-Lu’lu’ wa al-Marjan (1773).

5 Hadits ini shahih dan berasal dari riwayat Ali, yang
diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Ya’la, Thabrani, dengan rijal
hadits yang shahih, selain Ummu Musa yang tsiqat. Selain itu,
diriwayatkan pula dari Ibn Mas’ud sendiri yang diriwayatkan
oleh Ahmad, Abu Ya’la, al-Bazzar, dan Thabrani dari berbagai
jalan. Dan juga diriwayatkan dari Qurrah bin Iyas yang
diriwayatkan oleh al-Bazzar dan Thabrani dengan rijal hadits
yang shahih. (Majma’ az-Zawa’id, 9:288-289).

6 Muttafaq ‘Alaih dari Abdullah bin Amir.

7 Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah r a.

8 Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah r.a. (2564)

9 Diriwayatkan oleh Muslim dari Syidad bin Aus (1955).

10 Diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Kulaib,
yang dikelompokkan sebagai hadits hasan dalam Shahih al-Jami’
as-Shaghir (1891).

11 Diriwayatkan oleh Bukhari dalam “bab at-Tauhid” pada kitab
Shahih-nya; yaitu dalam “bab Dan Singgasana Tuhan Berada di
atas Air” (al-Fath, 13:404)

12 Muttafaq Alaih yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.
yang dimuat dalam al-Lu’lu’ wa al-Marjan no. 5; dan
diriwayatkan oleh Muslim dari Umar no. 8.

13 Diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah r. a. dalam
kitab al-Shawm, sebagaimana diriwayatkan oleh penulis kitab
Sunan al-Arba’ah.

14 al-Mundziri menulis dalam ar-Targhib “Diriwayatkan oleh Ibn
Majah dengan lafal darinya; diriwayatkan oleh Nasai Ibn
Khuzaimah dalam kitab Shahih-nya; dan juga diriwayatkan oleh
al-Hakim yang mengatakan “Hadits ini shahih menurut syarat
yang ditetapkan oleh Bukhari dengan lafal sebagai berikut:
“Kebanyakan orang yang melakukan puasa hanya mendapatkan lapar
dan dahaga dari bagian puasanya, dan kebanyakan orang yang
melakukan qiyam lail hanya mendapattan keterjagaan dari bagian
qiyamnya.”

15 Muttafaq ‘Alaih yang diriwayatkan dari Umar bin Khatab.
Hadits nomor satu dalam Shahih al-Bukhari.

16 Diriwayatkan oleh Muslim dari ‘Aisyah dengan lafal
tersebut; Sedangkan Muttafaq ‘Alaih meriwayatkan dengan lafal:
“Barangsiapa mengadakan sesuatu yang bukan urusan kami, maka
amalan itu ditolak.”

17 Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan
Ibn Majah, dari Abu Huralrah r.a seperti yang tertulis dalam
Shahih al-Jami’ as-Shaghir (2460); kemudian baca buku kami
al-Munraga min at-Targhib wat-Tarhib, dan komentar kami atas
hadis no. 1811.

——————————————————
FIQH PRIORITAS
Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah
Dr. Yusuf Al Qardhawy
Robbani Press, Jakarta
Cetakan pertama, Rajab 1416H/Desember 1996M

 
Leave a comment

Posted by on January 19, 2012 in artikel

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: