RSS

Ingin Anak Saleh, Jadilah Orangtua Saleh

21 Sep

Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

Boleh jadi, anak-anak zaman sekarang sama sibuknya dengan orangtua. Bahkan bisa lebih sibuk. Sekolah seharian dari pagi hingga pukul tiga sore. Setelah ashar hingga maghrib, les. Dari maghrib sampai isya’, belajar mengaji. Lalu, usai isya’ hingga jam sembilan malam mengerjakan pekerjaan rumah dan mengulang pelajaran sekolah.

Hasilnya, anak-anak jebolan program seperti itu memang terlihat cerdas dan berwawasan luas. Tetapi jika diperhatikan lebih jeli, mereka terlihat bagai anak yang dewasa terlalu dini.

“Ibarat buah yang matang karena dikarbit, cepat manis tetapi juga cepat busuk serta kurang menunjukkan rasa buah yang sebenarnya,” kata Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari, Direktur Auladi Parenting School, sekaligus master trainer sekolah orangtua, Program Sekolah Pengasuhan Anak (PSPA).

Menurut lelaki yang akrab dipanggil Abah ini, banyak orangtua yang saat ini terjangkit sindrom Ten Minutes Parents Club. Sepuluh menit dalam mendidik dan mengasuh anak. Lima menit di pagi hari yakni orangtua mengatakan kepada anak: mandi, baju, makan, dan sekolah. Sedangkan di sore dan malam hari perintahnya adalah pulang, mandi, makan, PR (belajar), dan tidur.

Namun ketika anak bermasalah, dengan mudahnya orangtua menyalahkan lingkungan dan pergaulan anak sebagai penyebabnya. Jika sudah seperti itu, biasanya anak akan dibatasi secara berlebihan dalam bergaul. Bahkan ada juga yang di kurung.

Pengaruh buruk lingkungan pada anak, kata Abah, terjadi karena orangtua tidak mempunyai pengaruh pada anak-anaknya. “Saat orangtua tidak bisa menjadi tempat curhat, maka lingkunganlah yang menjadi pendengar setianya. Intinya orangtua tidak berfungsi dan berperan sebagai orangtua,” katanya.

Menurutnya, lingkungan memang berpengaruh dalam membentuk karakter anak. Namun, katanya, lingkungan hanya sebagai pelengkap tempat praktek anak menerapkan pendidikan yang diperoleh dari keluarga.

Abah menjelaskan, lingkungan dibuat oleh orangtua. “Mau seperti apa situasi dan kondisinya, tergantung kita (orangtua, -red) bukan sebaliknya,” tuturnya.

Abah mengaku, hal demikian telah ia terapkan dalam mengasuh  keempat buah hatinya. Bersama istrinya, Leila Maysaroh, Abah berusaha selalu menyediakan waktu yang berkualitas bagi keempat anaknya: Salma Alya Ihsan (9 tahun), Syahid Mudzaky Ihsan (7 tahun), Syarifah Nurul Ihsan (4 tahun), dan si bungsuSaveero Attarayan Ihsan (7 bulan).

Maka jangan heran, jika terdengar kisah bahwa Abah pernah membuat seseorang menunggu selama berjam-jam karena bertamu ketika dia sedang mempunyai acara khusus dengan anak-anaknya di rumah. “Mau siapa pun tamunya, pejabat atau menteri,” kata seorang alumni pelatihan PSPA bernama Yadi.

Berangkat dari keprihatinan dia terhadap pola pengasuhan anak yang salah, pada awal 2005, Abah menuangkan ide-idenya dalam sebuah majalah. Namanya Auladi, majalah idealis berharga miring. Sebab, harganya cuma dua kali lipat ongkos cetak.

Ibarat kacang goreng, majalah tersebut laris manis. Para pembacanya malah meminta Abah untuk menyampaikan secara langsung gagasannya dalam bentuk pelatihan kepada para orangtua. Tahun itu pula Abah mendirikan lembaga yang dia beri nama Auladi Parenting School atau Program Sekolah Pengasuhan Anak (PSPA).

Dalam pelatihan tersebut, Abah mendobrak pola kepengasuhan anak yang selama ini dianggapnya salah. Di antaranya, anak sering diposisikan sebagai obyek, selalu  disalahkan, dilarang, dan dimarahi secara berlebihan. Maka, tidak sedikit orangtua yang menganggap anak sebagai sumber masalah.

“Padahal, sejatinya, kesalahan anak adalah kesalahan orangtua dalam mengasuh. Kalau kita mau telusuri dan jujur, anak-anak yang bermasalah itu  pangkalnya adalah orangtua,” kata laki-laki kelahiran Subang, Jawa Barat ini.

Untuk itu, kata Abah, jika anak ingin benar maka orangtua harus benar dalam mengasuh buah hatinya. Karena 8o persen usia anak dari 0 tahun hingga 18 tahun waktunya dihabiskan dalam keluarga, maka peran orangtua sangat dominan dalam membentuk karakter anak.

“Tidak harus menemani anak 24 jam sehari, karena anak juga ingin waktu untuk diri mereka sendiri,” kata pria yang di setiap training-nya mampu “mengaduk-aduk” suasana emosi peserta trainingnya. [hidayatullah]

 
Leave a comment

Posted by on September 21, 2011 in artikel

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: