RSS

Jangan Kalahkan IBADAH dengan Situasi Kita yang Sulit

16 Aug

Petang itu, matahari di ufuk Barat terus bergerak turun, menyisakan kegelapan di bagian bumi yang ditinggalkan. Suasana menjelang malam di Parit Buluh, sebuah dusun di pesisir propinsi Riau, terasa begitu hening. Suara jangkrik dan binatang –  binatang tanah sangat jelas terdengar. Pak Ahmad dan keluarganya baru saja selesai berbuka puasa dan menunaikan shalat Maghrib, di ruang tengah rumahnya yang berbentuk panggung itu. Setelah sejenak beristirahat, ia kemudian terlihat merapikan ruang tengah yang tak bersekat itu. Tiga buah lampu minyak yang terbuat dari bekas kaleng cat, ia nyalakan sebagai penerang, diletakkan di tiga sudut yang berbeda.

Petang terus beranjak. Cahaya merah yang bergelayut di atas langit sana perlahan mulai menghilang, pertanda waktu Isya’ telah tiba. Belum terlalu malam memang, tapi kegelapan di sekitar rumah seperti tak lagi menyisakan bias cahaya dari matahari yang makin dalam tenggelam. Tak lama kemudian, beberapa tamu menaiki tangga rumah panggung itu, disusul oleh tamu – tamu yang lain. Mereka itu adalah warga Parit Buluh, tetangga jauh pak Ahmad.

Orang – orang itu, setiap malam memang sengaja berkumpul di rumah pak Ahmad. Tiada tujuan lain kecuali agar mereka bisa melakukan shalat Tarawih secara berjama’ah untuk meraih keutamaan di bulan Ramadhan. Meski demi tujuan itu, mereka harus membayarnya dengan berjalan jauh, melintasi jalan – jalan setapak yang membelah rerimbunan pepohonan hutan dan kebun kelapa, dengan hanya menggunakan suluh dari bambu dan dari daun – daun kelapa yang dijalin, sebagai penerang. Bahkan diantara mereka, ada yang harus menggunakan perahu – perahu kecil, melewati anak – anak sungai yang diapit hutan – hutan nipah, untuk sampai di rumah pak Ahmad.

Rumah pak Ahmad sengaja mereka jadikan tempat berkumpul, karena mereka memang tidak memiliki mushola, apalagi masjid sebagai sarana ibadah bersama. Untuk shalat Jum’at saja, misalnya, mereka harus mendatangi kampung lain dengan mendayung perahu dua hingga tiga jam. Rumah pak Ahmad mungkin terbilang cukup lapang dibanding rumah yang lain, sehingga menjadi pilihan untuk berkumpul.

Pukul 20.00 mereka melakukan shalat. Suasananya begitu syahdu. Di kesunyian malam dan dari kejauhan kota, dengan segala keterbatasan yang mereka miliki, mereka tetap semangat menjalankan ibadah Ramadhan. Selesai shalat, sebagian mereka beranjak pergi kembali ke rumah masing – masing. Sebagian yang lain memilih ngobrol menghabiskan awal malam. Maklum, di dusun seperti ini, jika tidak ada teman ngobrol maka tidak ada aktivitas lain selain tidur lebih awal.

Tinggal di pesisir, di pedalaman, atau di lereng – lereng gunung, seperti pak Ahmad, memang penuh dengan berbagai keterbatasan. Dan keterbatasan itu, tentu saja akan menghambat kita dalam melakukan banyak aktifitas, termasuk aktifitas ibadah yang tetap harus diupayakan untuk dijalani secara sempurna dalam situasi apapun. Sebagai manusia beragama yang tahu akan kewajibannya terhadap Tuhan, keterbatasan itu tentu bukan alasan untuk meninggalkan kewajiban ibadah kepadaNya.

Situasi hidup yang diberikan Allah swt kepada kita memang berbeda – beda. Tingkat kesulitannya pun beragam. Tetapi bahwa kita harus tetap beriman dan taat kepadaNya sepanjang hayat kita, itu prinsip yang tak boleh hilang dari diri kita. Diantara kita, ada banyak orang yang sangat jauh dari kemudahan – kemudahan. Mereka bercengkerama dengan situasi yang seolah memaksanya untuk pasrah. Namun di sisi lain, ada pula diantara yang melimpah dengan kemudahan.

Kesulitan dan kemudahan, sebenarnya adalah dua situasi yang selalu akan kita temui. Ia bisa menjadi pilihan, tetapi juga terkadang lahir dari sebuah tekanan, paksaan, atau faktor yang lain. Mereka yang tinggal jauh di pedalaman sana, bersama kesunyian alam, tentu itu adalah pilihan hidup mereka, seperti orang – orang kota yang memilih hidup di keramaian. Karena Allah swt tidak pernah membatasi manusia untuk hidup di suatu wilayah tertentu. Allah swt menghamparkan bumi ini untuk dijadikan tempat tinggal dan lahan mencari rezeki oleh manusia sekehendaknya, di manapun. Namun, memang ada orang – orang yang terbuang, atau dipaksa hidup dalam kurungan penjara, misalnya, maka situasi sulit itu adalah sebuah keterpaksaan yang harus mereka jalani.

Kesulitan dan kemudahan juga adalah berupa ujian dan cobaan. Ketika kita mampu menaklukkan situasi sulit itu dengan tetap melakukan ketaatan kepada Allah swt secara maksimal, maka ujian itu menjadi peneguh keimanan untuk memperoleh pahala besar di sisi Allah swt. Namun jika gagal, maka kita pasti akan merugi: merugi karena kesulitan yang mengendurkan ketaatan dan ibadah kita tetap ada, dan merugi karena kita tidak mendapatkan apa – apa dari Allah swt atas ujian itu.

Kemudahan pun demikian. Jika orang yang mampu memaksimalkan kemudahan yang Allah swt berikan maka Allah swt akan mencatatnya sebagai orang yang bersyukur, namun apabila ia gagal, ia menjadi kufur karena menyia – nyiakan nikmat yang Allah swt berikan.

Memahami ini, berarti kita memahami bahwa kita hendaknya menjadikan segala situasi yang ada untuk tetap dalam ketaatan kepada Allah swt, seoptimal yang kita bisa, meskipun terasa berat. Karena mencari atau menunggu datangnya kemudahan, sama halnya kita membuang kesempatan, dan boleh jadi setelah kemudahan itu datang akan ada ujian yang lain, yang akan merusak harapan kita. Sebab itu, Rasulullah saw pernah melarang Bani Salamah yang ingin meninggalkan rumahnya yang jauh dari masjid, dan pindah di tempat yang lebih dekat dengan masjid agar mereka lebih mudah melakukan shalat berjama’ah.

Rasulullah saw bertanya, “Ada kabar yang sampai kepadaku, bahwa kalian ingin pindah lebih dekat dengan masjid?”. “Benar, kami menginginkan itu”, jawab Bani Salamah. Beliau kemudian berkata, “Wahai Bani Salamah, tetaplah kalian di rumah – rumah kalian, karena dengan sebab itu jejak – jejak kalian akan dicacat. Tetaplah kalian di rumah – rumah kalian, karena dengan sebab itu jejak – jejak kalian akan dicatat” (HR Muslim).

Dua kali Rasulullah saw mengulang pernyataannya kepada Bani Salamah agar mereka tidak menghilangkan jejak – jejak kebaikan yang selama ini telah dicatat oleh para malaikat, di mana hal itu mereka dapatkan karena usaha keras mereka menghadiri shalat berjama’ah dengan menempuh jarak yang cukup jauh. Jika mereka pindah, maka pastilah keutamaan itu tak dapat lagi mereka dapatkan. Itu yang tidak diinginkan oleh Rasulullah saw.

Dalam sejarah perjuangan Ikhwanul Muslimin di Mesir menghadapi tindakan represif pemerintahan Gamal Abdul Nasser, mereka yang dipenjara justru merasa perlu bersyukur dengan keadaan itu, karena di dalam penjaralah mereka memiliki kesempatan mengkhatamkan hafalan Al Qur’an. Ini juga bukti, bahwa situasi sulit terkadang lebih menguntungkan untuk menambah kuat ketaatan kita kepada Allah swt. Bahkan ada banyak kisah tentang kesuksesan para ulama dalam melahirkan karya – karya monumental ketika mereka sedang berada di dalam penjara. Kisah – kisah itu juga membuktikan, bahwa bagi para ulama itu tudak ada perbedaan antara setiap situasi yang mereka hadapi: semua selalu dengan prestasi.

Kita juga tahu betapa kejamnya Fir’aun memperlakukan orang – orang yang menyanggah pengakuan dirinya sebagai Tuhan. Istananya yang besar seolah tidak menyisakan sedikit pun ruang untuk berseminya cahaya iman di hati para manusia, karena kekejamannya. Namun begitu, Asiah dan Masyithah beserta keluarganya menjadi bunga – bunga harum yang mampu tumbuh subur di tengah situasi yang maha sulit itu. Mereka tetap konsisten dengan keimanan hingga ajal menjemput.

Dalam setiap situasi yang kita hadapi, Allah swt pastilah Mahatahu atas segala kekurangan kita. Dan karena itu Allah swt mengingatkan kita dengan firmanNya, “Bertaqwalah kepada Allah menurut ukuran kemampuanmu” (QS At Taghabun : 16)

Ayat di atas seolah menjadi bukti dan penguat bahwa Allah swt mengetahui keterbatasan yang kita miliki sebagai manusia, tetapi dengan keterbatasan itu Allah ingin agar kita tetap berIslam dengan keadaan itu, tetap mengusahakan kedekatan denganNya dengan situasi kita masing – masing, dan dengan kadar kemampuan yang telah kita usahakan.

Rasulullah saw pernah bersabda, “Allah merahmati seseorang yang mengetahui kadar kemampuan dirinya”. Dalam hadits ini, juga ada motivasi untuk tidak meninggalkan ketaatan karena keterbatasan, tetapi tetap berbuat dengan mengetahui kadar kemampuan diri sendiri. Sebab, dengan mengetahui keterbatasan, kita bisa memosisikan diri secara tepat dalam berbagai sisi kehidupan. Tujuannya tiada lain, agar kita bisa memkasimalkan ketaatan kepada Allah swt disesuaikan dengan situasi yang kita hadapi.

Perintah – perintah Allah swt begitu banyak. Ada perintah ibadah. Ada perintah menuntut ilmu. Ada perintah berjihad dan sebagainya. Tidak semua perintah itu dapat kita lakukan dengan cara yang sempurna karena situasi kita yang tidak selalu mudah. Akan tetapi, keterbatasan kita tidak seharusnya melalaikan kita dari melakukan sesuatu. Melainkan kita harus berbuat yang maksimal untuk sesuatu yang sesuai dengan keadaan kita. Oleh sebab itu, di surga Allah swt menyediakan banyak pintu untuk orang – orang beriman sesuai dengan prestasi ibadah yang menjadi fokus dan perhatiannya. Dan karena batas kemampuannya itulah yang menharuskan kita untuk memilih fokus tertentu dalam hidup kita.

Dalam sebuah dialog antara sahabat Abu Bakar ra dan Rasulullah saw, beliau mengatakan bahwa sesungguhnya di surga itu ada banyak pintu dan setiap orang nantu ada yang masuk melalui pintu shalat, puasa, dan sebagainya. Kemudian Abu bakar bertanya, “Adakah yang masuk melalui semua pintu itu?”. Rasulullah saw menjawab, “Ada, dan aku berharap kamu adalah salah seorang diantaranya”

Kita tidak berharap seperti Abu Bakar karena ia adalah sahabat yang memang istimewa karena kemampuan ibadahnya dalam segala situasi. Tetapi kita juga tidak boleh berpasrah dengan situasi, sehingga tidak bisa melakukan apa – apa. Tetaplah kita dalam jalan Allah swt, memaksimalkan ta’abbud dan taqarrub  kita kepada Nya, dalam segala situasi, baik sempit maupun lapang.

Sumber artikel: Tarbawi edisi 188 th 10
Oleh: Sulthan Hadi

 
Leave a comment

Posted by on August 16, 2011 in artikel

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: