RSS

Amaliyah Selama Bulan Ramadhan

27 Jul

“Wahai orang – orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Q.S Al Baqarah : 183)

Sebentar  lagi Ramadhan tiba..

Tentunya kita sudah mempersiapkan beberapa hal yang perlu dilakukan sebelum Ramadhan itu tiba. Seperti halnya persiapan ma’nawiyah (spiritual), persiapan fikriyah (akal) dan persiapan jasadiyah (fisik) juga maliyah (materi). Namun, di sini tidak akan membahas tentang persiapan di bulan Ramadhan tersebut lebih lanjut, akan tetapi saya akan membahas tentang bagaimana amaliyah yang bisa dilakukan selama bulan Ramadhan. Ramadhan adalah bulan penuh kemuliaan. Bulan penuh rahmat, maghfirah dan terbebasnya kita dari siksa api neraka. Maka, Ramadhan adalah saatnya kita memperbanyak amal shalih, sebagai bekal kita menuju negeri akhirat. Karena amalan yang kita lakukan di bulan ini mendapat pahala yang berlipat ganda. Subhanallah…

So, apa saja yang amalan yang dapat kita lakukan selama bulan Ramadhan nanti?

1.       Berpuasa

Puasa adalah amalan terpenting dan teristimewa dalam bulan Ramadhan, karena ia bisa berfungsi sebagai sarana penghapus dosa, sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan atas dasar keimanan dan karena semata – mata mencari ridha Allah, maka akan diampuni dosa – dosanya yang telah lalu.”

Di samping itu puasa adalah amal yang tidak ada bandingnya disebabkan karena kebaikannya akan dilipatgandakan dengan kelipatan yang tidak terhingga. Rasulullah saw bersabda:

Berpuasalah Anda. Sesungguhnya puasa itu tidak ada bandingnya.” (HR Nasa’i)

Dan agar kebaikan – kebaikan puasa tersebut bisa kita raih secara optimal, maka ada hal – hal yang perlu kita perhatikan sebagai berikut:

  1. Memiliki pengetahuan yang benar tentang puasa dengan mengetahui serta menjaga rambu – rambunya.
  2. Bersungguh – sungguh melakukan puasa dengan menepati aturan – aturannya.
  3. Menjauhi hal – hal yang dapat mengurangi atau bahkan menggugurkan nilai puasa, seperti perbuatan sia – sia dan perbuatan haram.
  4. Tidak meninggalkan puasa dengan sengaja walaupun sehari.
  5. Mengakhirkan makan sahur. Sabda Rasulullah saw, “Makan sahurlah kalian, karena dalam makan sahur itu ada barokah” (HR Bukhari dan Muslim)

Atau jika kita bangun kesiangan saat terdengar kumandang  adzan, tetap usahakan makan sahur, meski itu hanya dengan satu gelas air putih. Sabda Rasulullah saw, “Jika seorang diantara kalian mendengar adzan, sedangkan bejana ada di tangannya, maka janganlah ia meletakkannya sebelum mewujudkan keinginannya” (HR Hakim)

  1. Menyegerakan berbuka. Sabda Rasulullah saw, “Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka” (HR Bukhari dan Muslim)
  2. Berdo’a, terutama pada saat berbuka. Sabda Rasulullah saw, “Bagi seorang yang berpuasa ada waktu berdo’a yang tidak ditolak, yaitu ketika berbuka puasa” (HR Ibnu Majah).

Sabda Rasulullah pada kesempatan yang lain, “Ada tiga macam do’a mustajab, yaitu do’a orang yang sedang puasa, do’a musafir, dan do’a orang yang teraniaya” (HR Baihaqi)

2.       Menghidupkan malam dengan shalat

Ramadhan di samping disebut sebagai syahrus shiyam juga disebut dengan syahrul qiyam. Hal ini disebabkan karena adanya perintah Rasulullah saw untuk menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat malam yang kemudian disebut dengan istilah shalat tarawih.rasulullah saw bersabda:

Barangsiapa menghidupkan malam (dengan shalat) di bulan Ramadhan karena iman dan berharap ridha Allah, niscaya akan diampuni dosa – dosanya yang telah lalu.

(HR bukhari dan Muslim)

Apa hukum shalat tarawih, dan apakah harus dilakukan secara berjama’ah di masjid?

 

Nabi Muhammad saw menganjurkan agar kita menghidupkan malam Ramadhan dengan memperbanyak shalat. Hal itu antara lain dapat terpenuhi dengan mendirikan shalat tarawih di sepanjang malamnya. Fakta adanya pemberlakuan shalat tarawih secara turun temurun sejak nabi Muhammad saw hingga sekarang merupakan dalil yang tidak dapat dibantah mengenai persyariatannya. Oleh karenanya para ulama menyatakan konsensus (ijma’) dalam hal tersebut.

Pada awalnya shalat tarawih dilaksanakan oleh nabi Muhammad saw dengan sebagian sahabat secara berjama’ah di masjid Nabawi. Namun, setelah berjalan tiga malam,nabi Muhammad saw membiarkan para sahabat melakukan  shalat tarawih secara sendiri sendiri, sebagaimana diceritakan oleh ‘Aisyah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim (yang artinya):

Suatu saat di tengah malam Rasulullah saw keluar untuk shalat di masjid, maka beberapa sahabat pun bermakmum kepada beliau. Berita tersebut kemudian menjadi pembicaraan diantara para sahabat di pagi hari, sehingga pada malam kedua jumlah sahabt yang bermakmum kepada Rasulullah saw bertambah lebih banyak daripada sebelumnya. Berita tersebut kemudian menjadi pembicaraan para sahabat, sehingga pada malam yang ketiga jumlah yang bermakmum pun bertambah banyak lagi. Ketika jumlah jama’ah pada malam keempat bertambah sampai masjid tidak dapat menampungnya, Rasulullah saw pun tidak keluar untuk mengimami shalat di malam tersebut, hingga keluar untuk shalat subuh. Kemudian setelah selesai shalat subuh, Rasulullah saw menghadap kepada para sahabat dan bersabda, artinya’ Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku untuk shalat bersama kalia, akan tetapi aku khawatir jangan – jangan akan dianggap sebagai kewajiban, dan kalian tidak sanggup melaksanakannya’ .

Hingga di kemudian hari, ketika Umar bin Khattab menyaksikan adanya fenomena shalat terawih yang terpencar-pencar  di Masjid Nabawi, terbersit dalam pikiran beliau untuk menyatukannya sehingga terbentuklah shalat terawih berjamaah yang dipimpin oleh Ubay bin Ka’ab dan Tamim bin Aus Ad-Dari, sebagaimana terekam dalam hadits muttafaq ‘alaih riwayat ‘Aisyah (Al-Lu’lu wal Marjan: 436). Dari sini mayoritas ulama menetapkan sunnahnya shalat tarawih secara berjamaah (lihat Syarh Shahih Muslim oleh Nawawi : 6/39)

Berapa jumlah rakaat shalat tarawih?

Mengenai shalat tarawih yang dilaksanakan Rasulullah saw, ‘Aisyah berkata: “Rasulullah saw tidak pernah shalat di malam Ramadhan atau di selainnya lebih dari sebelas rakaat, tetapi beliau shalat dengan panjang dan bagus.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Adapun pada masa sahabat, setelah Rasulullah saw wafat dan tidak ada lagi kekhawatiran akan anggapan wajibnya shalat tarawih, Umar bin Khatthab menghimpun umat Islam untuk shalat tarawih dengan berjama’ah dengan menunjuk Ubay bin Ka’ab dan Tamim bin Aus Ad- Dari untuk menjadi imam. Dan ternyata Ubay dan Tamim mengimami shalat dengan jumlah 21 dan 23 raka’at. Riwayat 21 raka’at terdapat dalam Nushanaf Abdur Rozaq, sedangkan riwayat 23 raka’at terdapat dalam Sunan Baihaqi. Keduanya dengan sanad yang shahih.

Lalu bagaimana kita menyikapinya?

Ibnu Hajar Al-‘Asqalani berkata : “Sesungguhnya perbedaan jumlah raka’at tersebut adalah perbedaan variatif sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. Di satu waktu mereka shalat 11 raka’at, di waktu yang lain mereka shalat 21 raka’at, dan dalam kesempatan lain mereka shalat 23 raka’at, sesuai dengan semangat dan kemampuan mereka, apabila mereka shalat 11 raka’at, mereka shalat dengan sangat panjangsehingga mereka bertumpu pada tongkat. Dan apabila mereka shalat 23 raka’at, mereka shalat dengan bacaan yang pendek sehingga tidak memberatkan jama’ah.”

Mayoritas ulama – termasuk empat imam madzhab- berpendapat bahwa shalat malam atau tarawih, termasuk shalat sunnah yang tidak ada batas maksimal jumlah raka’at tertentu yang lebih utama daripada jumlah yang lain.

Sesungguhnya persatuan, kebersamaan, kelembutan hati, dan kesucian hati adalah tujuan dari disyari’atkannya ibadah –termasuk shalat- yang telah disepakati para ulama, sementara jumlah raka’at tarawih adalah hal yang diperselisihkan. Untuk itu mestinya kita harus lebih mengedepankan kebersamaan dan persatuan – yang merupakan tujuan dari shalat – daripada sibuk untuk saling berbantah tentang jumlah rakaat sholat terawih – yang masih diperselisihkan –, yang karenanya justru berpotensi memunculkan perpecahan dan perasaan saling membenci.

Dari itulah, seyogyanya kenyataan adanya perbedaan antar ulama dalam jumlah rakaat tarawih justru harus kita terima sebagai bentuk “keleluasaan” bagi umat Islam, untuk dapat memilih mana yang lebih kondusif baginya sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya, dan hal itulah barangkali yang dikehendaki oleh cucu Abu Bakr Imam Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar ketika berkata: “Sesungguhnya perbedaan pendapat para sahabat Rasulullah saw (dalam cabang Ibadah) itu adalah rahmat.”

Dan untuk itu, semestinya kita tidak terpancing untuk dengan mudah menyalahkan saudara kita yang kebetulan berbeda dalam jumlah rakaat shalat tarawihnya.

Dan karenanya, tidak seyogyanya kita mempermasalahkan saudara kita yang shalat tarawih 11 rakaat, 13 rakaat, 21 rakaat, 23 rakaat atau berapa saja yang dikehendaki sesuai dengan kondisinya. Justru yang semestinya harus kita perhatikan adalah bagaimana kita berupaya untuk membantu saudara-saudara kita yang belum mau shalat agar mau shalat bersama kita.

3.       Berinfaq, bershadaqah, dan memberi buka puasa

Berinfaq, bershadaqah, dan memberi buka kepada orang yang berpuasa terutama di bulan Ramadhan adalah bentuk amal yang dijanjikan pahala besar, sebagaimana disabdakan Rasulullah saw:

Sebaik – baik shadaqah adalah shadaqah di bulan Ramadhan”. (HR Baihaqi dan Tirmidzi)

Dan Rasulullah saw pun memberikan contoh terbaik dalam hal ini, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

Rasulullah saw adalah orang yang paling pemurah dalam kebaikan dan lebih pemurah lagi di bulan Ramadhan” (HR Bukhari)

Dan Rasulullah saw pun bersabda:

Barangsiapa memberi ifthor kepada yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala senilai pahala yang didapatkan orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahala yang berpuasa sedikitpun”. (HR Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah)

4.       Membaca Al Qur’an

Membaca Al Qur’an adalah amal yang diperintahkan untuk dilakukan setiap muslim setiap hari dan lebih ditekankan lagi pada bulan Ramadhan, hal tersebut karena Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur’an dan pada setiap Ramadhan malaikat Jibril as senantiasa datang kepada Rasulullah saw untuk bertadarus Al Qur’an bersamanya.

Dan membaca Al Qur’an adalah aktivitas yang senantiasa menguntungkan, sebagaimana firman Allah swt dalam surat Fathir ayat 29-30:

Sesungguhnya orang – orang yang senantiasa membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rizqi yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam – diam dan terang – terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri”.

5.       Bertaubat

Allah swt melalui firmanNya dalam Al Qur’an telah memerintahkan umat Islam untuk bertaubat (QS Ali Imran: 133 dan QS An Nur: 31). Bulan Ramadhan adalah waktu yang sangat tepat untuk memohon ampunan dari Allah swt, karena banyaknya ampunan yang Allah berikan kepada hambaNya pada bulan tersebut. Bahkan pada bulan tersebut, banyak orang akan Allah bebaskan dari api neraka, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya:

Sesungguhnya pada setiap malam dari bulan Ramadhan, Allah menetapkan orang – orang yang dibebaskan dari neraka” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Syarat – syarat taubat:

  1. Segera meninggalkan perbuatan dosa
  2. Menyesal atas dosa yang telah dilakukan
  3. Bertekad untuk tidak mengulang kembali
  4. Taubat dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah
  5. Dilakukan sebelum pintu taubat tertutup, yakni sebelum datangnya ajal
  6. Apabila dosa atau kesalahan berkaitan dengan sesama manusia, maka harus diupayakan untuk diselesaikan

6.       Memperhatikan aktivitas sosial dan dakwah

Pada setiap Ramadhan tiba, suasana religius terlihat di mana – mana, dengan meningkatnya kesadaran hampir setiap orang beriman untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah dan dengan tumbuh suburnya perilaku keagamaan di mana – mana.

Kesempatan inilah yang harus dimanfaatkan dengan sebaik – baiknya oleh para da’i untuk melakukan dakwah, membuka pintu – pintu hidayah dan menebar kasih sayang kepada sesama, memakmurkan masjid – masjid dengan aktivitas keagamaan seperti taklim, kajian kitab, diskusi, ceramah, tadarus, dan lain – lain.

Berbeda dengan kesan dan perilaku umum sebagian orang tentang Ramadhan justru menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan yang penuh dengan aktivitas dakwah dan sosial. Hal tersebut bisa disimpulkan dari peristiwa – peristiwa besar yang terjadi di bulan Ramadhan, seperti Perang Badar (tahun 2 H), Pembukaan kota Mekkah (tahun 8 H), Perang Tabuk (tahun 9 H), pengiriman 6 sariyah (pasukan perang yang tidak disertai Rasulullah saw), penghancuran Masjid Dhirar dan yang lainnya.

Banyak aktivitas sosial yang bermanfaat bagi masyarakat luas yang bisa kita lakukan terutama selama bulan Ramadhan, misalnya menyelenggarakan bakti sosial di daerah – daerah yang membutuhkan (daerah bencana dan pemukiman miskin) dengan memberikan santunan berupa makanan, pakaian, kesehatan atau yang lainnya yang mereka butuhkan.

7.       Meningkatkan ibadah pada 10 hari terakhir

Rasulullah saw telah memberikan teladan kepada kita, dengan meningkatkan ibadah pada sepuluh hari terakhir Ramadhan dengan beri’tikaf di masjid siang dan malam. Ini beliau lakukan semenjak beliau hijrah ke Madinah hingga beliau wafat (sebagaimana diriwayatkan oleh istri beliau, ‘Aisyah dalam hadits riwayat Bukhari Muslim).

Kemudian, beliau memerintahkan kita untuk bersungguh – sungguh mencari malam Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, dengan sabdanya:

Carilah malam Lailatul Qadar di sepuluh akhir dari bulan Ramadhan” (HR Bukhari)

 8.       Membayar zakat fitrah

Sebagai penutup dari amaliyah Ramadhan, kita diwajibkan untuk mengeluarkan zakat fitrah atas nama diri kita dan atas nama mereka yang di bawah tanggung jawab kita, termasuk atas nama anak kita yang masih kecil, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

Rasulullah saw mewajibkan zakat fitrah satu sha’ kurma atau gandum kepada budak, orang merdeka, laki – laki, perempuan, anak kecil dan orang dewasa dari umat Islam” (HR Bukhari dan Muslim).

Diantara fungsi zakat fitrah ialah untuk menyucikan puasa kita dari kata – kata kotor atau perbuatan sia – sia yang mungkin telah kita lakukan selama berpuasa dan sebagai bantuan bagi fakir miskin, sebagaimana sabda Rasulullah saw:

Zakat fitrah itu menyucikan orang yang berpuasa dari perbuatan sia – sia dan dari kata – kata yang kotor”. (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Berapakah besarnya zakat fitrah yang harus kita keluarkan?

Besarnya zakat fitrah yang harus dikeluarkan adalah sebesar 1 (satu) sha’ atau kurang lebih2,5 kg dari makanan pokok/beras. Dan tentu diperbolehkan dan lebih baik kalau memberi tambahan dari kadar atau ketentuan tersebut, jika dimaksudkan untuk memberi santunanlebih kepada fakir miskin.

Dan menurut ulama mahzab Hanafi dan diriwayatkandari Hasan Al Bashri dan Umar bin Abdil Aziz, diperbolehkann juga untuk mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk nilai atau uang, jika lebih bernilai dan lebih bermanfaat bagi penerima. Namun, untuk menjaga asholah (orisinalitas) dan demi keluar dari perbedaan, sangat ditekankan untuk mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk makanan pokok/beras dan sedapat mungkin dengan kualitas yang terbaik.

 

Kepada siapakah zakat fitrah dibagikan?

Menurut para Imam madhzab, yang berhak menerima zakat fitrah ada  8 golongan sesuai dengan QS At Taubah : 60, yaitu”Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang – orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk memerdekaan hamba sahaya, untuk membebaskan orang yang berhutang, untuk jalan Allah, dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Alla. Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksanan.” Namun demikian, diutamakan dan diprioritaskan untuk fakir miskin.

Kapan kita membayar zakat fitrah?

Sebaiknya zakat fitrah dikeluarkan paling cepat 2 hari sebelum ‘Id dan paling lambat sebelum shalat ‘Id, sebagaimana dilakukan oleh para sahabat Rasulullah saw.

 Kota Batu
Jum’at, 22 July 2011
20 Sya’ban 1432 H

 
Leave a comment

Posted by on July 27, 2011 in artikel, tips & trik

 

Tags: , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: