RSS

Ketika kakinya menginjak Surga

17 Jul

Allah SWT menciptakan manusia dengan segala kekurangan dan kelebihan. Dengan ketidaksempurnaannya itu, manusia memang wajar melakukan alpa dan kesalahan. Allah tak mungkin membebani seseorang di luar kadar dan batas kemampuannya yang tidak sempurna itu. Setiap orang pasti akan merasa lemah dan lelah ketika ia telah melakukan banyak aktifitas. Setiap orang pasti merasa sakit manakala dizalimi. Setiap orang pasti merasa kecewa, resah, dan gundah bila mengalami keadaan yang tidak sesuai dengan harapannya. Setiap orang pasti merasa khawatir dan takut terhadap bahaya yang akan mengancamnya. Begitu seterusnya.

Dr. Muhammad bin Hasan Aqil ketika membahas jatuh dan melemahnya orang – orang yang kokoh, memasukkan uraian di atas sebagai sebab yang tak mungkin hilang dari manusia. Sebagaimana sahabat Rasulullah SAW dahulu merasa tertekan, kecewa, sakit, ketika menghadapi tekanan orang – orang kafir Quraisy di Mekkah. Sebagaimana Khabbab bin Art terseok – seok ke hadapan Rasulullah SAW dan memohon kepadanya untuk berdo’a kepada Allah, agar Allah segera menurunkan pertolonganNya. Bahkan sebagaimana Rasulullah melaporkan ketidakberdayaan dan kelemahannya di hadapan Allah SWT saat menghadapi pasukan kafir dalam perang Badar. Allah SWT tak kan membebani seseorang melebihi kadar kemampuannya dan karenanya Allah SWT memaafkan keadaan – keadaan tersebut.

Tingkat kelemahan, kelelahan, kesakitan, kekecewaan, keresahan, kekhawatiran dan ketakutan orang itu berbeda – beda. Ada yang masih berada dalam pagar toleransi, ada pula yang menerabas batas yang wajar. Hanya keimanan yang membedakannya. Suatu ujian yang sama berat dan kesulitannya, bila dihadapi oleh dua orang yang berbeda, maka reaksi kedua orang itupun akan berbeda. Kurang lebih seperti itu kesimpulan yang dipaparkan Muhammad Ghazali ra.

Tak ada orang yang tak mengalami kesulitan dan ujian dalam hidup. Semua kita pasti memiliki setumpuk masalah dan problema yang harus diatasi dan dipecahkan. Namun, setiap orang akan berbeda bagaimana tingkat keimanannya yang akan mempengaruhi bagaimana seseorang memandang dan menilai suatu masalah.

Sebab itu, seperti diriwayatkan Anas ra, Rasulullah SAW pun kerap berdo’a kepada Allah SWT,”Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari keinginan yang berlebihan dan kesedihan. Aku berlindung kepadaMu dari kelemahan dan kemalasan. Aku berlindung kepadaMu dari rasa takut dan kikir. Aku berlindung kepadaMu dari lilitan hutang dan paksaan orang yang menganiaya.” (H.R Bukhari)

Kelelahan adalah bagian dari kelemahan manusia. Setelah berjalan dan bekerja dalam rentang waktu tertentu, seseorang pasti mengalami kelelahan yang menjadikan amal – amalnya menurun. Hal itu biasa dan wajar. “Setiap amal pasti ada waktu semangat dan ada waktu lemahnya,” seperti itu pernyataan Rasulullah SAW. Ibnul Qayyim ramengatakan, “Saat – saat lemahnya seseorang itu wajar. Seorang yang masa lemahnya lebih membawa ke arah kedekatan kepada Allah dan pembenahan langkah, selama ia tidak keluar dari amal – amal fardhu, dan tidak melaksanakan sesuatu yang diharamkan Allah, diharapkan ketika pulih akan berada dalam kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Sekalipun sebenarnya ibadah yang disukai Allah adalahyang dilakukan secara rutin  tanpa terputus. ‘Amal yang paling disukai Allah adalah yang dikerjakan terus menerus oleh pelakunya.’” (H.R Bukhari)

Rasulullah SAW pun memberi batasan lain, ketika seseorang berada dalam kondisi lemah. “Siapa yang masa lemahnya tetap dalam sunnahku, maka dia telah beruntung. Sementara siapa yang beralih pada selain itu berarti ia celaka.” (Musnad Imam Ahmad. Ada pula hadits yang sejalan  maknanya dari Abu Hurairah, pada kitab Shahih Jami’ Shaghir)

Yang perlu sama- sama kita ingat, kondisi lemah seperti itu seharusnya tidak boleh berlangsung lama. Ia harus merupakan kondisi  sementara yang harus segera ditinggalkan. Apa sebabnya? Kondisi lemah yang melewati waktunya, bisa saja berubah dan menjadi kondisi yang berbahaya.

Paling pertama adalah munculnya anggapan bahwa kita sebenarnya tidak mampu lagi melakukan amal – amal seperti sebelumnya. Muncul perasaan bahwa sebenarnya kita lemah dan tidak mampu memikul beban yang berada di luar kadar kemampuan kita. Lahir pemikiran bahwa kita berbeda dengan orang – orang lain yang mempunyai kepribadian dan kekuatan yang baik. Sementara kita, tidak.

Kondisi ini yang disebut tawadhu’ kadzib, sikap tawadhu yang bohong. Atau kelemahan, ketundukan, kerendahan yang dusta dan dibuat – buat. Bahayanya adalah ketika kita jadi terus menerus terbiasa dengan kondisi ini, sampai akhirnya kita bersikap pasif dan terperangkap dalam keadaan lemah.

Tawadhu kadzib sebenarnya hanya indikasi awal dari bercokolnya virus malas dalam diri. Bila kondisi itu tidak diatasi, malas akan menarik seseorang turun dari ketinggian dan keutamaan. Malas yang menjadikan seseorang rela dengan sesuatu yang rendah. Malaslah sebenarnya yang menyebabkan seseorang menjadi lemah dan akan menghalanginya dari keberhasilan. Seorang ulama mengatakan, “Jauhilah olehmu sikap kecenderungan pada istirahat dan kelapangan. Karena ujung sikap ini adalah tercela, dan akhirnya sangat dibenci. Tinggalkanlah sikap malas dan senang sesuatu yang praktis, karena hal itu merupakan kebiasaan hewan.” (Bashair wa dzakhoir)

Itu sebabnya, Rasulullah SAW berwasiat kepada Abdullah bin Ash ra, “Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan. Sebelum ini ia rajin bangun pada malam hari untuk shalat tapi kemudian ia meninggalkannya sama sekali.” (H.R Bukhari)

Semoga Allah tidak menjadikan kita orang yang menghadap Allah dalam kondisi seperti di atas. Abdullah bin Mas’ud pernah meratap tatkala ia menderita sakit di ujung hidupnya. Ia mengatakan, “Sesungguhnya aku menangis, lantaran diriku diserang penyakit ini pada saat kondisi ibadahku melemah, bukan pada saat giat.”

Semangat ini pula yang tertanam kuat dalam diri Imam Ahmad ra, ketika ia ditanya,”Kapan seorang hamba bisa istirahat?” Beliau menjawab, “Ketika kakinya menginjak surga”.

Wallahu’alam bishawab.

 

Sumber: Tarbawi, penulis : Muhammad Nursani

 
Leave a comment

Posted by on July 17, 2011 in artikel

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: