RSS

KAYA Berlipat Manfaat

14 Jul

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah.”  
(Q.S Al Ahzab: 10)

“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezekiNya.”  
(Q.S Al Mulk: 15)

Sungguh, mencari kekayaan adalah perkara yang disyariatkan dalam Islam. Ikhwal alasan mencari kekayaan tentu saja harus diletakkan pada tempatnya, mencari kekayaan bisa menjadi sebuah kewajiban jika usaha manusia itu dilakukan untuk mendapatkan penghasilan memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya serta mencukupkannya dari meminta – minta.

Ia juga bisa menjadi sunnah jika usaha manusia mendapatkan penghasilan itu untuk memberikan tambahan nafkahnya dan nafkah keluarganya atau dengan tujuan melapangkan orang – orang fakir, menyambung silaturrahim, memberikan balasan (hadiah) kepada kaum kerabat dan mencari kekayaan dengan niat seperti ini lebih utama daripada menghabiskan waktunya untuk beribadah.

Bisa juga mencari kekayaan jadi mubah jika dilakukan memberikan tambahan dari kebutuhan atau dengan tujuan berhias dan mnikmati. Lalu menjadi makruh jika untuk mengumpulkan harta agar bisa berbangga – banggaan, bermegah – megahan, sombong, bersenang – senang hingga hidup melewati batas walaupun dicari dengan cara yang halal, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang mencari dunia yang halal untuk bermegah – megahan, berbangga – banggaan, dan riya’ maka ia akan bertemu dengan Allah SWT sedangkan Allah murka kepadanya. Mencari kekayaan menjadi haram apabila dicari dengan jalan yang haram seperti riba, suap, dan lainnya.

Harta adalah segala sesuatu yang dimiliki seorang manusia, mempunyai nilai dan dapat dimanfaatkan olehnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk di dalamnya adalah uang yang digunakan sebagai alat pembayaran.

Sikap Islam terhadap harta, menurut Syeikh Yusuf Al Qaradhawi, merupakan bagian dari sikap terhadap kehidupan dunia. Sikap Islam terhadap dunia adalah sikap pertengahan yang seimbang. Islam tidak memihak terhadap orang – orang yang menolak dunia secara keseluruhan. Kehidupan ini, termasuk alam ini adalah sesuatu yang buruk yang wajib dibersihkan dan segera dilenyapkan. Akibatnya mereka mencegah perkawinan, menolak mempunyai keturunan, dan berpaling – dari hal – hal baik kehidupan dunia. Mereka tidak punya semangat untuk mendapatkan dunia ini seperti makanan, minuman, pakaian, perhiasan, dan perhiasan dunia lainya.

Di sisi lain, Islam juga tidak memihak pada kelompok yang menjadikan dunia sebagai berhala, menjadikan harta sebagai Tuhan, sehingga mereka diperbudak oleh harta. Dalam pandangan kaum dahriyyah ini, tidak ada tempat untuk akhirat.

Harta merupakan sarana untuk mencapai kebaikan. Setiap sesuatu yang menyampaikan kepada kebaikan adalah kebaikan. Harta tidak selamanya menjadi petaka bagi pemiliknya dan bukan pula pemberian dari arwah – arwah buruk seperti anggapan sebagian ahli agama.

Dalam Islam, harta memiliki posisi penting sebagai pendukung ibadah kepada Allah. Ibadah dalam Islam tak hanya badaniyah seperti shalat dan puasa, ada juga ibadah maliyah (harta) seperti zakat. Ada juga ibadah badaniyah sekaligus maliyah, seperti haji dan berjihad.

Ada kebaikan bagi orang yang tidak mencari harta. Dengan harta dia bisa membayar utangnya dan menjaga kehormatannya. Jika meninggal dunia maka ia bisa meninggalkan warisan sebesar 400 dinar. Sofyan ats Tsauriy meninggalkan warisan sebesar 200 dinar dan berkata, “Harta di zaman sekarang merupakan senjata.”

Harta dan kekayaan memang bisa menjadi senjata, senjata bagi kaum muslimin untuk berbuat lebih banyak kebaikan, hingga manfaatnya kian terasa, tak hanya bagi diri, keluarga bahkan lingkungan sekitarnya. Dengan harta, tak hanya bisa memfasilitasi diri dan keluarga dengan kesenangan pribadi namun juga memberdayakan. Dengan harta, tak hanya bisa menghajikan diri dan keluarga, tapi juga bisa memberangkatkan haji orang lain.

Salah satu pintu kebaikan itu adalah sedekah. Manfaatnya tiada terkira dan berlipat ganda. Lihatlah lingkungan sekitar kita, betapa masih banyak mereka yang perlu dibantu. Anak – anak yatim piatu, janda – janda miskin, kaum dhuafa yang karena keadaan tak bisa berdaya. Merekalah ladang bagi si kaya untuk lebih bermanfaat.

Dengan harta dan kekayaan, kita bisa mengentaskan dan memberdayakan mereka yang papa, mengangkat mereka yang terpinggirkan secara ekonomi, dan memuliakan mereka yang terhinakan secara fisik. Memuliakan mereka itu, pada dasarnya juga memuliakan sendiri.

Sejarah merupakan pelajaran yang berharga  bagi mereka yang ingin meraih kesejahteraan dan kekayaan dengan benar. Nabi Muhammad SAW adalah satu – satunya nabi yang  jadi pedagang. Prinsip beliau adalah berdagang dengan jujur. Rasulullah SAW sendiri adalah orang yang kaya. Dan sebaik – baik harta adalah harta yang dimiliki oleh orang shaleh.

Maka, tak ada jalan lain, orang Islam harus kaya. Tidak sekedar kaya karena negerinya diberkahi kekayaan alam yang luar biasa, tetapi kaum muslim juga bisa kaya karena usaha dan kerja kerasnya.

 

Sumber: Majalah yatim edisi mei 2011

 
Leave a comment

Posted by on July 14, 2011 in artikel, tips & trik

 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: