RSS

Adab Memuliakan Al Qur’an

28 Jun

Sebagai seorang muslim, tentu kita harus meyakini kalam Allah SWT, keagungannya, dan keutamaannya di atas seluruh kalam (ucapan). Al Qur’anul karim itu kalam Allah SWT yang di dalamnya tidak ada kebatilan. Al Qur’an juga memberikan petunjuk jalan yang lurus dan memberikan bimbingan kepada umat manusia di dalam menempuh perjalanan hidupnya, agar selamat di dunia dan di akhirat, serta dimasukkan ke dalam golongan orang – orang yang mendapatkan rahmat dari Allah SWT.

Untuk itulah tiada ilmu yang lebih utama dipelajari oleh seorang muslim melebihi keutamaan mempelajari Al Qur’an. Sebagaimana sabda nabi Muhammad SAW:

“Sebaik – baik kamu adalah yang mempelajari Al Qur’an, dan yang mengajarkannya.”
(HR Bukhari)

Dalam riwayat Imam Muslim dijelaskan pula:

“Bacalah Al Qur’an, sesungguhnya Al Qur’an itu akan menjadi syafa’at pada hari kiamat bagi yang membacanya (ahlinya)”.
(HR Muslim)

Karena demikian luar biasa kemanfaatan dari membaca Al Qur’an, maka wajib bagi kita menghalalkan apa yang dihalalkan Al Qur’an dan mengharamkan apa yang diharamkan Al Qur’an. Diwajibkan pula beradab saat membacanya dan berakhlak terhadapnya. Pada saat membaca Al Qur’an, seorang muslim perlu memperhatikan adab – adab berikut ini untuk mendapatkan kesempurnaan pahala dalam membaca Al Qur’an.

1. Membaca dalam keadaan yang sempurna, suci dari najis, dan dengan duduk yang sopan dan tenang

Saat membaca Al Qur’an, dianjurkan dalam keadaan suci. Namun, apabila membaca dalam keadaan najis, diperbolehkan dengan ‘ijma umat Islam. Imam Haromain berkata, orang yang membaca Al Qur’an dalam keadaan najis, dia tidak dikatakan mengerjakan hal yang makruh, akan tetapi dia meninggalkan sesuatu yang utama. (At Tibyan, hal 58-59)

2. Membaca dengan pelan (tartil) dan tidak cepat, agar dapat menghayati ayat yang dibacanya

Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang membaca Al Qur’an (khatam) kurang dari tiga hari, berarti dia tidak memahami” (HR Ahmad dan para penyusun kitab kitab Sunan). Dan sebagian kelompok dari generasi pertama membenci pengkhataman Al Qur’an sehari semalam, dengan dasar hadits di atas. Rasulullah SAW telah memerintahkan Abdullah Ibnu Umar untuk mengkhatamkan Al Qur’an setiap satu minggu (tujuh hari) (Muttafaq ‘alaih).

3. Membaca Al Qur’an dengan khusyu’

Memperlihatkan duka cita atau menangis karena sentuhan pengaruh ayat yang dibaca bias menyentuh jiwa dan perasaan. Rasulullah SAW bersabda, “Bacalah Al Qur’an dan menangislah. Apabila kamu tidak menangis, maka usahakan seakan – akan menangis (karena ayat yang engkau baca). (HR Al Bazzar).

Di dalam sebuah ayat Al Qur’an, Allah telah menjelaskan sebagian dari sifat – sifat hamba yang shalih, “Dan mereka menyungkur atas muka mereka, sambil menangis, dan  mereka bertambah khusyu’”. (Q.S Al Isra’: 109).

4. Membaguskan suara saat membacanya

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Hiasilah Al Qur’an dengan suaramu” (HR Ahmad, Ibnu Majah, dan Al Hakim). Di dalam hadits dijelaskan: “Tidak termasuk umatku orang yang tidak melagukan Al Qur’an (HR Bukhari dan Muslim). Maksud hadits di atas, membaca Al Qur’an dengan susunan bacaan yang jelas dan terang makhraj hurufnya, panjang pendek bacaan, tidak sampai keluar dari ketentuan kaidah tajwid.

5. Membaca Al Qur’an dimulai dengan isti’adzah

Allah SWT berfirman, “Dan jika kamu akan membaca Al Qur’an, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk”(QS An Nahl: 98). Apabila ayat yang dimulai dari awal surat, setelah isti’adzah terus membaca basmalah, dan apabila tidak di awal surat, cukup membaca  isti’adzah. Khusus surat At Taubah, walaupun dibaca mulai awal surat, tidak usah membaca basmalah, cukup dengan membaca isti’adzah saja. Karena basmalah adalah amanah. Sedangkan pada surat Bara’ah (at-Taubah) berisi pengkhianatan kaum musyirkin yang telah melanggar janji mereka, sehingga surat ini memberikan ancaman dan peringatan bagi mereka.

6. Berusaha memahami arti dan makna Al Qur’an

Membaca Al Qur’an dengan berusaha mengetahui artinya dan memahami inti dari ayat yang dibaca dengan beberapa kandungan ilmu yang ada di dalamnya. Firman Allah SWT, “Maka apakah mereka memperhatikan Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (QS Muhammad: 24)

7. Tidak mengganggu orang yang shalat

Membaca Al Qur’an tidak mengganggu orang yang sedang shalat, dan tidak perlu membacanya dengan suara yang terlalu keras atau di tempat yang banyak orang. Bacalah dengan suara lirih atau dalam hati secara khusyu’. Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang terang – terangan (di tempat banyak orang) membaca Al Qur’an sama dengan orang yang terang – terangan dalam shadaqah.” (HR Tirmidzi, Nasa’I, dan Ahmad).

Dalam hadits lain dijelaskan, “Ingatlah bahwasanya setiap hari dari kamu munajat kepada Rabbnya, maka janganlah salah satu dari kamu mengganggu  yang lain, dan salah satu dari kamu tidak boleh mengangkat suara atas yang lain di dalam membaca Al Qur’an.” (HR Abu Dawud, Nasa’I, Baihaqi, dan Hakim). Hadits ini shahih dengan syarat Shaikhani (Bukhari – Muslim). Jadi jangan sampai ibadah yang kita lakukan tersebut sia – sia karena kita tidak mengindahkan  sunnah Rasulullah dalam melaksanakan ibadah membaca Al Qur’an. Misalnya dengan suara keras pada larut malam yang akhirnya mengganggu orang yang istirahat dan orang yang shalat malam.

8. Menjaga Al Qur’an

Adab lain menjaga Al QWur’an adalah tidak melalaikan bacaan itu setelah mempelajarinya. Bacaan ataupun hafalan Al Qur’an yang telah dimiliki harus dilestarikan sepanjang hayat sebagai bekal mati. Melalaikan bacaan Al Qur’an menurut Imam An Nawawi merupakan suatu dosa besar.

9. Mendengarkannya saat dibacakannya

Dengarkanlah bacaan  Al Qur’an. Jika ada yang membaca Al Qur’an, maka dengarkanlah bacaannya itu dengan tenang, Allah SWT berfirman, “ Dan tatkala dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah, semoga kamu diberi rahmat.” (QS Al A’Raf : 204.) Membaca Al Qur’an dengan saling bergantian

10. Membaca Al Qur’an secara bergantian

Apabila ada yang membaca Al Qur’an, boleh dilakukan membacanya itu secara bergantian dan yang  mendengarkannya harus dengan khusyu’ dan tenang. Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah berkumpul suatu kaum di dalam rumah – rumah Allah, mereka membaca Al Qur’an dan saling mempelajarinya, kecuali akan turun atas mereka ketenangan dan mereka diliputi rahmat Allah, para malaikat menyertai mereka, dan Allah membanggakan mereka di kalangan malaikat yang ada di sisiNya.” (HR Abu Dawud)

11. Berdo’a setelah membaca Al Qur’an

Dalam sebuah riwayat dijelaskan, para sahabat apabila setelah khatam membaca Al Qur’an, mereka berkumpul untuk berdo’a dan mengucapkan,”Semoga rahmat turun atas selesainya membaca Al Qur’an”. Dan sebuah hadits dijelaskan, diriwayatkan dari Anas bin Malik ra bahwasanya apabila ia telah khatam membaca Al Qur’an, ia mengumpulkan keluarganya dan berdo’a. (HR Abu Dawud).

Setiap orang Islam wajib mengatur hidupnya sesuai dengan tuntunan Al Qur’an dan harus dipelihara kesucian dan dilaksanakan sebagai konsekuensi kita beriman kepada Al Qur’an.

Semoga bermanfaat. Wallahu ‘alam bishawab.

Sumber: Al Qur’anul karim, Kitab Minhajul Muslim Fiqih Sunnah At Tibyan Fii Adaabi Hamlatil Qur’an

 
1 Comment

Posted by on June 28, 2011 in adab, hikmah

 

Tags: , ,

One response to “Adab Memuliakan Al Qur’an

  1. Abas Sena

    November 22, 2011 at 9:26 am

    qiroatul qur an

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: