RSS

Mari Berpura-pura Tuli

21 Jun

Judul di atas cukup menggelitik penulis saat tak sengaja melihat majalah Tarbawi yg tergeletak di samping tempat tidur. Ini adalah kisah tentang seorang tabi’in shalih yg bernama Hatim al Ashamm (Hatim si tuli). Mengapa ia dijuluki si tuli, padahal pendengarannya normal dan ia bukan seorang tuli.

Dikisahkan, suatu hari ada seorang wanita yg datang kepada Hatim. Ia bermaksud menanyakan sesuatu kepadanya. Namun, di tengah ia mengutarakan pertanyaan, wanita itu tiba-tiba buang angin (kentut) sehingga membuatnya merasa sangat malu. Hatim tahu apa yg ada di balik perasaan tamunya. Dia tidak ingin tamunya bertambah malu karena pendengarannya. Karena itu ia mencoba menutupinya dengan mengatakan, ‘keraskan suaramu’. Ia berkata demikian karena berpura-pura tuli. Akibatnya, wanita itu senang dan tidak salah tingkah. Ia mengira Hatim tidak mendengarnya.

Sejak saat itu, selama wanita itu masih hidup, hampir lima belas tahun, Hatim berpura-pura memiliki pendengaran yg kurang normal. Sehingga tak ada seorang pun bercerita pada wanita tadi bahwa Hatim tidak tuli. Sesudah wanita tersebut meninggal dunia, barulah Hatim menjawab dngan mudah kepada siapapun yg bertanya kepadanya. Tapi, karena sudah terbiasa dengan perkataan itu, dia selalu berkata kepada setiap orang yg bertanya kepadanya, “Bicaralah dengan keras!” itulah sebabnya dia dipanggil Hatim al Ashamm (Hatim si tuli).

Sebenarnya, apa kunci sikap yg bisa kita teladani dari apa yg dilakukan Hatim al Ashamm dalam hal ini? Para ulama banyak menyebutnya dengan istilah ‘aadaab taghaaful’, artinya etika berpura-pura tidak tahu terhadap kekeliruan yg tidak sengaja dilakukan. Sikap mentolerir keterpelesetan orang lain. Sikap membuka ruang memaklumi kesalahan yg tidak direncanakan, apalagi ditutup-tutupi. Tentu bukan kesalahan fatal yg berakibat buruk pada masyarakat luas.Sikap taghaaful ini. Ternyata banyak sekali dipegang oleh para shalihin terdahulu. Bahkan ketika Fudhail bin Iyadh ditanya tentang etika taghaaful, ia mengatakan beberapa patah kata saja. “Ash shaf-hu’an atsaraatil ikhwaan”, memberi toleransi terhadap kekeliruan yg tidak disengaja oleh saudara. Itu artinya. Siapa diantara kita yg tidak pernah terpeleset salah? Selama kita berinteraksi dengan orang lain, kita pasti pernah melakukan salah, disengaja maupun tidak. Di sinilah inti perkataan Fudhail, tokoh tabi’in yang begitu dikenal sebagai ahli ibadah, bahwa kita masing-masing memang dianjurkan memiliki ruang toleransi terhadap kesalahan yg bisa dilakukan oleh siapapun termasuk diri kita sendiri.

Kesalahan yg tentunya tidak fatal. Kesalahan yg tentu bukan merupakan kekeliruan yg direncanakan dan berulang dilakukan. Kesalahan yg sangat mungkin terjadi dalam situasi tertentu dan bahkan tidak disengaja.Imam Syafi’i ra mengatakan, “Terimalah alasan-alasan orang yang datang kepadamu dengan meminta maaf dan menyampaikan alasan. Baik saat itu motif dalam perkataanya benar, atau dia berbohong. Karena, sebenarnya tidak tahu sesuatu yang tidak lahir (ghaib)”.Dalam hidup ini, seharusnya kita memang harus taghaaful dari kesalahan tidak disengaja dan kecil yg terjadi dari orang lain. Lupakan saja perasaan kita yang muncul ketika itu terjadi. Karena, sebenarnya, syaitanlah yang selalu membangkitkan ingatan dan menguatkan pikiran terhadap peristiwa yang bisa memunculkan kebencian dalam diri orang-orang beriman.

Seperti peristiwa tragis yang terjadi di zaman Rasulullah saw, di mana syaitan berhasil mengelabui orang-orang beriman di kalangan Anshar, meniup rasa iri dalam hati mereka terhadap orang-orang Muhajirin. Syaithan membangkitkan ingatan tentang hari-hari sebelum kedatangan kaum Muhajirin. Syaithan memunculkan kembali kekuatan ingatan tentang beberapa sya’ir yang berisi ajakan perang. Syaithan menghadirkan kembali peristiwa perang yg pernah terjadi antar mereka. Sampai-sampai mereka saling menghunus pedang dan siap melakukan pertarungan. Lalu Rasulullah saw bergegas datang ke tengah-tengah mereka seraya mengatakan, “Apakah kalian mau mengikuti ajakan jahiliyah, sedangkan saya masih ada diantara kalian?”.

Ini artinya, mengingat-ingat rasa sakit dari kesalahan saudara adalah bagian dari kerja syaithan. Mengingat-ingat luka yg pernah dilakukan dari saudara sesama muslim. Memikirkan terus-menerus kesalahan dan keterpelesetan seseorang. Melupakan kebaikan yg dilakukan seseorang. Menghapus semua kebaikan yg pernah dilakukan seseorang. Berlaku tidak seimbang dalam menilai orang. Semuanya merupakan bagian dari usaha syaithan yg termasuk dari seruan jahiliyah.. Ingat artikel saya kemarin tentang dosa yg pertama kali dilakukan adalah oleh iblis. So, mari kita tutup celah syaithan yg mempermainkan hati dan pikiran yg selalu ingin menyuburkan kebencian diantara orang-orang beriman. Mengubur bisikan syaithan yg selalu menggambarkan keburukan orang lain begitu luar biasa, tapi di sisi lain, syaithan juga selalu mengecilkan kesalahan diri sendiri, meski kesalahan itu berulangkali kita lakukan.Wallahu’alam bishawab.

 
Leave a comment

Posted by on June 21, 2011 in artikel, renungan

 

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: