RSS

SYUKUR boleh, KUFUR juga boleh…

17 Jun

“Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur”
(Q.S Al Insan [76]: 3)

 

MUKADDIMAH

Ayat ini terdapat di surat al Insan. Dinamakan al Insan karena di dalamnya terdapat ayat – ayat yang menceritakan awal kejadian manusia itu sendiri. Para ulama juga sepakat menjadikan surat al Insan sebagai bacaan yang sunnah dibaca pada shalat Subuh di hari Jum’at setelah surat as Sajadah di rakaat pertama.

Syaikh al Islam Ibnu Taimiyah ra berkata: ‘Diantara hikmah membaca kedua surat itu di hari Jum’at, mengingatkan kaum Muslimin akan penciptaan nabi Adam –sebagai awal penciptaan manusia- yang terjadi pada hari Jum’at. Sebagaimana hari kiamat juga kelak akan terjadi pada hari Jum’at. Selain, itu surat al Insan juga mengingatkan tentang perjalanan kehidupan manusia yang bermula dari sesuatu yang hina. Serta akhir perjalanannya yang niscaya berpulang kepada sang Pemilik kehidupan tersebut.

HIDUP adalah NIKMAT

Pernahkah kita berpikir bahwa hidup ini adalah nikmat? Dalam kacamata logika, bagi seseirang yang dikaruniai limpahan materi dalam hidupnya, boleh jadi menjawab ‘ya’. Kehidupan dunia ini adalah nikmat dan sesuatu yang menyenangkan. Sedang mereka yang ditakdirkan hidup tanpa materi yang cukup, mungkin mereka berkata ‘tidak’. Hidup adalah beban dan semata tumpukan penderitaan saja.

Seiring jauhnya seseorang dari agama dan rusaknya moral manusia, dengan mudah kita mendapati mereka yang menganggap hidup di dunia adalah beban. Mereka tak mampu lagi berpikir positif, sebab hidupnya saja adalah beban. Alih – alih memberikan manfaat kepada orang lain, dia sendiri sudah terkungkung beban pemikirannya yang sempit. Hasilnya sangat mudah ditebak, orang yang bertipe semacam itu, akan mudah mengalami stress, dan hidupnya merasa tertekan. Lebih parah lagi jika ternyata orang iti menganggap bunuh diri adalah solusi dari kebuntuan hidupnya.

Padahal Allah SWT telah menegaskan, jika hidup adalah nikmat. Dalam ayat di atas, Allah SWT mengutarakan dua nikmat besar yang telah Allah SWT berikan kepada manusia. Nikmat pertama, penciptaan manusia itu sendiri. Dia diciptakan sedang sebelumnya dia tak pernah ada. Manusia lahir ke muka bumi sedang dulunya dia sama sekali tak dikenal. Bahkan oleh ibunya yang melahirkan anak itu, sebagaimana para orang tua, tak pernah tahu seperti apa kelak menjadi keturunan mereka. Dalam urusan penciptaan ini, manuisa sama sekali tak punya andil dan kuasa sedikitpun, kecuali hanya wajib mensyukurinya.

Nikmat beriutnya terdapat pada kemurahan Allah SWT dengan diutusnya Rasul kepada manusia dan diturunkannya Al Qur’an sebagai pegangan hidup. Rasul yang diutus lalu bertugas memberikan penjelasan aturan dan rambu – rambu kehidupan di dunia. Suatu pedoman hidup yang telah terangkum lengkap dalam Al Qur’an, petunjuk yang mampu mengantarkan mereka kepada kebahagiaan dan ketenangan hidup. Baik di dunia terlebih di akhirat kelak.

Berbeda dengan tipe manusia pertama, orang  yang pandai bersyukur memiliki secret power dalam kehidupannya. Dia senantiasa mampu memandang segala persoalan dengan kacamata positif. Baginya, jatah hidup berarti kesempatan untuk mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah SWT untuknya. Dia seakan – akan tak punya waktu lagi untuk berleha – leha dan berbuat sia – sia. Sebab, nikmat yang dia rasakan begitu banyak, tak sebanding dengan apa yang telah dia perbuat. Jatah umurnya yang terus menyusut tak seimbang dengan pengabdiannya kepada agama.

Alhasil, kehidupan orang yang pandai bersyukur senantiasa aktif dan dinamis. Seluruh permasalahan dan aktivitasnya menjadi lahan subur baginya untuk merefleksikan rasa syukur itu. Dalam pikirannya, hanya satu saja yaitu menebarkan benih prestasi kebaikan sebanyak – banyaknya dan seluas – luasnya.

HIDUP ADALAH PILIHAN

As – sabil (jalan) yang dimaksud pada ayat di atas adalah hidayah dari Allah SWT berupa bayan (penjelasan) akan hakikat kehidupan manusia di dunia. Sebagaimana disebutkan, selain menciptakan manusia, Allah SWT juga mengirimkan kepada mereka Rasul. Sebagai utusan Allah, maka Rasul bertugas mengajarkan mana jalan al haq (kebenaran) dan mana jalan al bathil (keburukan), mana al huda (petunjuk) dan mana ad dhalalah (sesat).

Rasul juga berkewajiban membimbing manusia untuk senantiasa istiqomah menjalani fitrahnya yang suci. Sebab, selain kedua nikmat di atas, nikmat berupa iman merupakan karunia terbesar yang Allah SWT berikan kepada manusia.

Hidup adlah pilihan. Boleh jadi ungkapan tersebut bisa mewakili keadaan manusia sekarang, sebab rupanya karunia petunjuk ini sekaligus menyisakan ujian yang tak mudah bagi manusia. Dia dihadapkan pada dua pilihan. Apakah mereka mampu bersyukur atas nikmat tersebut atau justru mengingkari nikmat.

Kehidupan dunia dengan segala tawaran fasilitasnya kembali menjadi taruhan bagi manusia dalam menimbang kadar kesyukuran seseorang.

Allah SWT hanya sebatas memberikan jalan menuju surge dan menjelaskan cara meraih keselamatan itu. Sedangkan pilihan itu berpulang kepada setiap diri manusia. Meski sudah menjadi fitrah dan pengakuan setiap jiwa di alam arwah, tapi dia bukanlah garansi keselamatan selama – lamanya. Sebab, iman merupakan perkara yang tak bisa diwariskan. Dia bisa saja lenyap begitu saja dengan bujuk rayu dari tumpukan materi yang ada.

MAKNA SYUKUR YANG BENAR

Tidak jarang manusia pandai bersyukur hanya jika mendapatkan nikmat berupa materi duniawi saja. Lalu luput mensyukuri nikmat yang jauh lebih hakiki berupa keimanan yang terjaga. Bagi seorang muslim, iman adalah harga mati yang tak bisa ditawar lagi. Selama keimanan masih tertancap dalan raga, maka tak ada pilihan lain kecuali bersyukur kepadaNya. Dalam shalat lima waktu, seorang hamba wajib mengulang – ulang permohonannya kepada Allah SWT untuk diteguhkan dalam nikmat iman tersebut. “Ihdina as-shirat al-mustaqim”, tunjuilah kami jalan yang lurus.

Bersyukur tentu tak sekedar membasahi lidah dengan ucapan syukur semata. Sebagaimana dia tidak cukup untuk diakui di dalam hati saja tanpa ada refleksi amalan kebaikan. Namun, sikap syukur yang benar adalah ketika seseorang mampu menjadikan rasa syukur di hati menjadi dzikir di lidah dan berbuah kepada ketaatan kepada Allah SWT semata.

Jangan keliru memilih. Dalam urusan keimanan. Keliru bersikap bisa berakibat sangat fatal. Ketika seseorang salah memilih presiden, misalnya. Pilihan yang salah itu hanya berdampak pada penyesalan selama periode kepemimpinan sang presiden itu. Namun, berbeda halnya ketika manusia salah memilih jalan hidup. Ketika seseorang tidak mampu mempertahankan fitrah dirinya, lalu mengingkari segala nikmat yang diberikan, maka hal ini berujung kepada penyesalan seumur hidupnya. Lebih mengkhawatirkan  lagi, sebab kesengsaraan itu akan dirasakan selama – lamanya pada kehidupan yang tiada bertepi lagi.

 

Mutiara qur’an dari Hidayatullah Edisi 2 XXIIIV/Juni/ 1432

 
Leave a comment

Posted by on June 17, 2011 in artikel

 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: