RSS

10 Indikasi “Gagal” Meraih Keutamaan Ramadhan

09 Jun

“Berapa banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapatkan apa – apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga…” (H.R Bukhari Muslim)

Hadits Rasulullah SAW tersebut  harusnya dapat membangkitkan kewaspadaan kita untuk menjauhi dan tidak terjerumus di dalamnya. Apalah artinya berpuasa bila hanya  meninggalkan kering pada kerongkongan dan lapar di dalam perut?

Berikut ini adalah uraian yang patut direnungkan agar kita tidak termasuk orang – orang yang disinggung dalam hadits Rasulullah SAW tersebut. Kegagalan yang dimaksud tentu bukan sebuah klaim yang pasti. Itu memang hak Allah SWT semata. Tapi setidaknya, kita perlu berhitung dan memiliki neraca agar segenap amal ibadah kita di bulan Ramadhan ini benar – benar berbobot, hingga kita bisa lulus dari madrasah Ramadhan menjadi pribadi yang lebih berkualitas. Amiin..

Pertama, ketika kurang optimal melakukan ‘warming up’ dengan memperbanyak ibadah sunnah di bulan Sya’ban. Ibarat sebuah mesin, memperbanyak ibadah sunnah di bulan Sya’ban berfungsi pemanasan bagi ruhani dan fisik untuk memasuki bulan Ramadhan. Berpuasa sunnah, memperbanyak ibadah shalat, tilawatul Qur’an sebelum Ramadhan, akan menjadikan suasana hati dan tubuh kondusif untuk pelaksanaan ibadah di bulan puasa. Dengan begitu, puasa, ibadah malam, memperbanyak membaca Al Qur’an, berdzikir, taqarrub kepada Allah, menjadi lancar.

Mungkin, itulah hikmahnya kenapa Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Aisyah, disebutkan paling banyak melakukan puasa di bulan Sya’ban. Bahkan sejak bulan Rajab, dua bulan menjelang Ramadhan. Rasulullah dan para sahabat ingin mengkondisikan jiwa dan fisik mereka untuk siap menerima kehadiran tamu agung bulan Ramadhan.

Kedua, ketika target pembacaan Al Qur’an yang dicanangkan, minimal satu kali khatam, tidak terpenuhi selama bulan Ramadhan. Di bulan ini, pembacaan Al Qur’an merupakan bentuk ibadah tersendiri yang sangat dianjurkan. Pada bulan inilah Allah SWT menurunkan wahyuNya dari Lauhul Mahfudz ke langit dunia. Peristiwa ini disebut sebagai malam ‘Lailatul Qadar’. Pada bulan ini pula, Jibril as biasa mengulang – ulang bacaan Al Qur’an kepada Rasulullah SAW.

Orang yang berpuasa di bulan ini, sangat dianjurkan memiliki wirid Al Qur’an yang lebih baik dari bulan – bulan selainnya. Kenapa minimal harus mengkhatamkan satu kali sepanjang bulan ini? Karena memang itulah target minimal pembacaan Al Qur’an yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Ketika Abdullah bin Umar bertanya kepadanya, “Berapa lama sebaiknya seseorang mengkhatamkan Al Qur’an?” Rasul menjawab, “Satu kali dalam satu bulan”. Abdullah bin Umar mengatakan, “Aku mampu untuk lebih dari satu kali khatam dalam satu bulan.” Rasul berkata lagi, “Kalau begitu, bacalah dalam satu pecan.” Tapi Abdullah bin Umar masih mengatakan bahwa dirinya masih mampu membaca seluruh Al Qur’an lebih cepat dari satu pecan. Kemudian Rasul mengatakan, “Kalau begitu, bacaah dalam tiga hari.”

Ketiga, ketika berpuasa tidak menghalangi seseorang dari penyimpangan mulut seperti membicarakan keburukan orang, mengelurakan kata – kata kasar, membuka rahasia, mengadu domba, berdusta dan sebagainya. Seperti yang sudah banyak diketahui, hakikat puasa tidak terletak pada menahan makanan dan minuman masuk ke dalam kerongkongan. Tapi, puasa juga mengajak pelakunya untuk bisa menahan diri dari berbagai penyimpangan, salah satunya yang dilakukan oleh mulut. Rasulullah SAW menyatakan bahwa dusta akan menjadikan puasa sia – sia (HR Bukhari).

Mulut merupakan salah satu bagian tubuh yang paling sukar untuk dikendalikan namun nilainya sangat mahal. Rasulullah berpesan, adakalanya nikmat  kalimat buruk yang ringan diucapkan oleh seseorang, tapi karena Allah tidak ridha dengan kalimat itu, maka orang itu tercampak ke neraka. Sebaliknya, adakalanya kalimat baik yang ringan diucapkan oleh seseorang, tapi karena Allah ridha dengan kalimat itu, orang tersebut dimasukkan ke dalam surga (HR Ahmad).

Keempat, ketika puasa tak bisa menjadikan pelakunya berupaya memelihara mata dari melihat yangharam. Mata adalah penerima informasi paling efektif yang bisa member rekaman dalam otak dan jiwa seseroang. Memori informasi yang tertangkap oleh mata, lebih sulit terhapus ketimbang informasi yang diperoleh melalui indera lainnya. Karenanya, memelihara mata sangat penting  untuk membersihkan jiwa dan pikiran dari berbagai kotoran. Salah mengarahkan pandangan, bila terus berulang akan menumbuhkan suasana kusam dan tidak nyaman dalam jiwa dan pikiran. Ini sebabnya mengapa Islam mewasiatkan sikap hati – hati  menggunakan nikmat mata.

Puasa tak menambah pelakunya lebih memelihara mata dari yang haram, menjadikan puasa itu nyaris tak memiliki pengaruh apapun dalam perbaikan diri. Karenanya, boleh jadi puasanya secara hukum sah, tapi substansi puasa itu tidak akan tercapai.

Kelima, ketika malam – malam Ramadhan menjadi tak ada bedanya dengan malam – malam selain Ramadhan. Salah satu ciri khas bulan Ramadhan adalah, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk menghidupkan malam dengan shalat dan do’a – do’a tertentu. Ibadah shalat malam di bulan Ramadhan  yang biasa disebut  shalat tarawih, tentu seseorang akan kehilangan momentum berharga. Selain itu, di dalam shalat ini pula Rasulullah SAW  mengajarkan do’a – do’a khusus yang insya Allah akan diijabah oleh SWT. Diantara do’a yang perlu diperbanyak dalam shalat tarawih adalah “Allahumma inni as ‘aluka ridhaka wal jannah wa na’udzubika min sakhotika wan naar”. “Ya Allah, aku memohon keridho’anMu dan surgaMu. Dan aku memohon perlindungan dari kemarahanMu dan dari nerakaMu..”

Para sahabat dahulu, berlomba untuk bisa melakukan shalat tarawih di belakang Rasulullah SAW. Umar bin Khattab bahkan berijtihad untuk melakukan shalat tarawih berjama’ah dengan 20 raka’at, sehingga kaum muslimin lebih termotivasi menghidupkan malam Ramadhan.

Keenam, jika saat berbuka puasa menjadi saat melahap semua keinginan nafsunya yang tertahan sejak pagi hingga petang. Menjadikan saat berbuka sebagai kesempatan “balas dendam” dari upaya menahan lapar dan haus selama siang hari. Bila ini terjadi, berarti nilai pendidikan puasa akan hilang.

Puasa, pada hakikatnya, adalah pendidikan bagi jiwa (tarbiyatun nafs) untuk mampu mengendalikan diri dan menahan hawa nafsu. “Puasa adalah perisai,” sabda Rasulullah SAW seperti diriwayatkan Imam Bukhari. Hanya dalam puasalah, seseorang dilarang melakukan perbuatan yang sebenarnya halal dilakukan. Hasil pendidikan itu, akan tercermin dalam pribadi orang yang bisa bersabar, menahan diri, tawakkal, pasrah, tidak emosional, tenang dalam menghadapi berbagai persoalan.

Puasa menjadi kecil tak bernilai dan lemah unsur pendidikannya ketika upaya menahan dan mengendalikan nafsu itu hancur oleh pelampiasan nafsu yang dihempaskan saat berbuka.

Ketujuh, ketika bulan Ramadhan tidak dioptimalkan untuk banyak mengeluarkan infaq dan shadaqoh. Rasulullah SAW, seperti digambarkan dalam hadits, menjadi sosok yng paling murah dan dermawan di bulan Ramadhan, hingga kedermawanannya mengalahkan angin yang bertiup. Di bulan inilah, salah satu kebajikan bisa bernilai puluhan bahkan ratusan kali lipat disbanding bulan – bulan lainnya.

Momentum seperti ini sangat berharga dan tidak boleh disia – siakan. Keyakinan itu yang dikembangkan oleh para sahabat dan salafush shalih.

Kedelapan, ketika hari – hari menjelang idul fitri sibuk dengan persiapan lahir, tapi tidak sibuk dengan memask perbekalan sebanyak – banyaknya pada 10 malam terakhir untuk memperbanyak ibadah. Lebih banyak berpikir untuk bisa merayakan Idhul Fitri dengan berbagai kesenangan, tapi melupakan suasanan akan berpisah dengan mulia tersebut.

Rasulullah SAW dan para sahabat mengkhususkan 10 hari terakhir untuk berdiam diri di dalam masjid, meninggalkan semua kesibukan duniawi. Mereka memperbanyak ibadah, dzikir, dan berupaya meraih keutamaan malam seribu bulan, saat diturunkannya Al Qur’an.

Pada detik – detik terakhir menjelang usainya Ramadhan, mereka merasakan kesedihan mendalam karena harus berpisah dengan bulan mulia itu. Sebagian mereka bahkan menangis karena akan berpisah dengan bulan mulia. Ada juga yang bergumam jika mereka dapat merasakan Ramadhan sepanjang tahun.

Kesembilan, ketika Idul Fitri dan selanjutnya dirayakan laksana hari “merdeka” dari penjara untuk kembali melakukan berbagai penyimpangan. Fenomena ini sebenarnya hanya akibat pelaksanaan puasa yang tak sesuai dengan adabnya. Orang yang berpuasa dengan baik tentu tidak akan menyikapi Ramadhan sebagai kerangkeng.

Kesepuluh, setelah Ramadhan, nyaris tidak ada ibadah yang ditindaklanjuti pada bulan – buan selanjutnya. Misalnya memelihara kesinambungan puasa sunnah, shalat malam, membaca Al Qur’an.

Amal – amal ibadah satu bulan Ramadhan, adalah bekal pasokan agar ruhani dan keimanan seseorang meningkat untuk menghadapi sebelas bulan setelahnya. Namun, orang akan gagal meraih keutamaan Ramadhan, saat ia tidak berupaya menghidupkan dan melestarikan amal – amal ibadah yang pernah ia jalankan dalam satu bulan itu.

Wallahu a’lam bishawab.

Suplemen Ramadhan ‘Tarbawi’ Edisi Ramadhan 1421 H

Oase Air Mata

 

 
5 Comments

Posted by on June 9, 2011 in artikel

 

Tags: , , ,

5 responses to “10 Indikasi “Gagal” Meraih Keutamaan Ramadhan

  1. Yanuk Wulandari

    June 9, 2011 at 1:24 am

    Alhamdulillah nemu fotokopian yang sangat bermanfaat ini…

     
  2. Lely

    June 9, 2011 at 4:10 am

    terima kasih tausyahnya…

    semoga kita dipertemukan dengan ramadhan tahun ini
    ^__^

     
    • honeyizza

      June 26, 2011 at 11:05 pm

      Amiin…
      sama – sama. semoga bermanfaat.

       
  3. Fadil

    July 12, 2012 at 5:17 pm

    semoga d ramadhan kali ini menjadikan suatu langkah perbaikan diri, amiiin

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: