RSS

Pesan Tarbawi

24 Mar

Tentang ‘memaafkan diri sendiri”:

~ “Apa yang kita alami dan kita dapatkan dari hidup ini sudah diatur oleh Alloh SWT. Tetapi merupakan karunia dan kasih sayang-Nya, kita dinilai oleh Alloh berdasarkan atas usaha dan jerih payah kita, bukan atas apa yang ditetapkan untuk kita. Merupakan keadilan Alloh, Ia tidak menilai kita dari apa yang telah Ia tetapkan sendiri untuk kita. Tapi atas apa yang kita lakukan untuk mengejar ketetapan itu. Uniknya kita manusia, betapapun Alloh menyuruh kita berusaha, seringkali ukuran utama kita adalah apa hasil yang kita dapatkan dari usaha itu, bukan sejauh mana proses menuju hasil itu. Hasil memang penting, tapi pada akhirnya kita akan menerima apa-apa yang memang menjadi milik kita. ”

~~~~”Memaafkan diri untuk hasil-hasil hidup yang menyenangkan, yang sesuai dengan keinginan, lebih banyak bersifat syukur dan pengendalian diri untuk tetap melakukan hal-hal yang mubah. Tapi memaafkan diri untuk hasil hidup yang tidak menyenangkan, biasanya lebih banyak bersifat SABAR dan PENYEMANGATAN DIRI untuk tetap melakukan hal-hal yang benar.”~~~

~ “Memaafkan diri adalah sebentuk kesadaran, bukan sikap masa bodoh; adalah sebentuk kearifan, bukan kecerobohan; adalah cara kita mengapresiasi diri kita sendiri secara positif, bukan secara negatif; adalah puncak keseimbangan dan netralitas jiwa di antara putus asa dan acuh; adalah keseimbangan jiwa antara pesimisme dan optimisme.”

-Tarbawi edisi 163: Kadang, Maafkan Dirimu : Sya’ban 1428 H.

Tentang “meminta ganti yang lebih baik”:

~ “…meminta ganti yang lebih baikadalah ruh kehidupan yang harus tertanam dalam kepribadian kita. Kita harus berorientasi kepada prinsip penggantian yang lebih baik. Orientasi itu akan mendorong kita untuk menempuh syarat-syarat mendapat penggantian yang lebih baik. Sebab itu semua tidak diberikan secara cuma-cuma. Meminta ganti yang lebih baik juga akan menumbuhkan semangat berprestasi secara terus-menerus, dan menjadikan kita tidak segera puas, apalagi hanya dengan sedikit amal dan kebaikan kita.”

Tentang “teguran Alloh yang kadang menyakitkan”:

“Bersyukurlah bila Alloh SWT masih menegur kita dengan sesuatu yang menyakitkan, tapi lalu hal itu membuat kita terhenyak dan sadar. Bersyukurlah kepada Alloh SWT, bila kita masih merasakan pengingatan dari Alloh SWT, dengan suatu keadaan yang memukul hati. Tapi hal itu kemudian melahirkan ketundukan pada keagungan Alloh SWT, menyadarkan perasaan faqir terhadap kuasa Alloh SWT, membuat kita mengerti tentang ketidakberdayaan di hadapan kebesaran-Nya yang selama ini sering tertutup oleh kesombongan, perasaan aman, atau keadaan kita yang stabil. Artinya, kita menjadi tidak kenal dengan diri sendiri seperti perkataan ahli hikmah, Qiss bin Saadah, “Sebaik-baiknya pengenalan seseorang adalah pengenalannya terhadap diri sendiri. Sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang mengajarkan seseorang mengerti tentang kadar ilmunya.”

~ Ibnul Qoyyim rahimahulloh: “Sungguh hati itu mempunyai kekasatan yang tidak bisa dihaluskan kecuali dengan kembali menghadap kepada Alloh. Hati juga mempunyai rasa teramcam yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan suasana intim dan dekat dalam kesendirian bersama Alloh. Hati juga mempunyai kesedihan, yang tak mungkin diusir kecuali dengan rasa bahagia yang muncul dari ma’rifah kepada Alloh SWT dan hubungan yang baik dengan-Nya. Hati juga mempunyai kegelisahan yang tidak bisa ditenangkan kecuali dengan berhimpun kepada Alloh dan lari mendekat kepada Alloh. Hati juga mempunyai api yang membakar, yang tidak bisa dipadamkan kecuali dengan RIDHO terhadap perintah, larangan, ketetapan-Nya, serta keSABARan hingga saat bertemu dengan-Nya. Hati juga mempunyai keinginan yang besar, yang tidak bisa dihentikan kecuali bila hanya Alloh SWT sajalah yang diinginkan. Hati juga memiliki kepapaan, yang tak mungkin dicukupi kecuali dengan cinta kepada-Nya, senantiasa berdzikir dan ikhlas kepada-Nya. Andai seluruh dunia ini diberikan untuk mencukupi kepapaan itu, niscaya kepapaan itu takkan pernah tercukupi juga.”

– Tarbawi edisi 166 tahun 1428 H: Ya Alloh, Gantilah dengan yang Lebih Baik

 
Leave a comment

Posted by on March 24, 2011 in hikmah

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: