RSS

Jangan Jadi Jauh Gara-gara Media

15 Mar

Ketika saya dan beberapa mahasiswa sedang makan di sebuah restoran, tiba-tiba profesor saya berkata sambil merengut, “Handphone dan internet itu memang mendekatkan yang jauh. Tetapi jangan lupa, media juga berperan menjauhkan yang dekat.”

Profesor saya itu berkomentar setelah menyaksikan pemandangan menarik tak jauh dari tempat kami. Sebuah keluarga terdiri dari ayah, ibu dan dua anak baru gede (ABG) duduk di salah satu meja. Semuanya tampak sibuk dengan benda mini bernama handphone.

Ayah dan anak yang terkecil tampak senyum-senyum sendiri sambil memandangi layar handphone. Sebaliknya, anaknya yang lain memelototi handphone-nya dengan wajah cemberut. Sementara sang ibu serius mengirim short message service (SMS).

Meja mereka sunyi. Tak ada satu pun yang bercakap satu sama lain. Saat makanan yang mereka pesan itu datang, mereka ‘sempat’ berbicara  mengomentari makanan masing-masing. Lalu, asyik lagi mengutak-atik handphone mereka sambil makan.

“Sedih, deh, aku lihat mereka,” begitu komentar seorang kawan.

Atur Penggunaan Media

Saya mengerti maksud kawan saya tadi. Kesempatan pergi sekeluarga seharusnya jadi kesempatan emas bagi setiap anggota keluarga untuk saling mendekatkan diri, meningkatkan hubungan emosional dan mempererat ikatan kekeluargaan. Namun, keluarga yang kami lihat tadi tampaknya telah menyia-nyiakan kesempatan berharga itu.

Mereka kelihatan bersama tetapi sesungguhnya saling terpisah jauh. Nah, yang memisahkan mereka tak lain adalah media. Mereka terhubung dengan orang lain yang jauh dari mereka oleh benda bernama media. Namun, media jugalah yang menjauhkan mereka dengan orang terdekat di sekitar mereka.

Dalam kondisi lingkungan media yang mengepung kita dan anak-anak kita, terutama handphone, TV, internet, game, maka sudah sepatutnya setiap keluarga mengatur penggunaan media. Sebab, penggunaan tanpa pembatasan dan aturan akan menyebabkan anggota keluarga asyik dengan media dan melupakan orang di sekitarnya.

Fitur Makin Canggih, Ortu Makin Khawatir

Media yang paling potensial ‘memisahkan’ para anggota keluarga adalah handphone. Media ini makin lama makin murah dan lengkap fiturnya. Dalam satu handphone tercakup fungsi mulai dari telepon, SMS, MMS, kamera, internet, game, pemutar musik, radio, penunjuk waktu, agenda, sampai alarm.

Dengan fungsi selengkap ini, setiap orang bisa asyik dengan telepon genggamnya masing-masing. Apalagi, harganya yang kian hari relatif makin murah. Bahkan, tak jarang saya melihat anak-anak mulai dari usia belia sudah memiliki handphone!

Tidak hanya anak-anak dan remaja, orang dewasa dan kalangan berumur pun menjadikan handphone sebagai sarana gaul. Apalagi kini ada Blackberry (BB) yang membuat orang semakin mudah dan murah tersambung satu sama lain. Banyak orang menggunakan sarana tersebut sekadar mengabarkan informasi ter-update tentang dirinya atau tak ingin ketinggalan dengan berita-berita seputar kerabat dan sobatnya, serta mencari informasi terbaru tentang apa saja. Itulah sebabnya, tak heran banyak dari kita yang menjadikan handphone sebagai benda berharga yang selalu ada di tangan, tas atau saku mereka.

Belakangan muncul fakta keluarga lebih mengkhawatirkan keberadaan handphone ketimbang TV, internet, dan game bagi keluarga mereka. Dalam obrolan ringan beberapa waktu lalu, saya menemukan jawaban di kalangan orangtua yang menyatakan mereka lebih sulit mengontrol handphone daripada TV, internet, dan game.

Ya, handphone memang media pribadi, karenanya orang pun tak terlalu suka jika orang lain mengatur mereka menggunakan benda itu. Termasuk anak-anak, apalagi remaja. Banyak anak yang tak terlalu nyaman ketika orangtua ikut “mengurusi” handphone mereka. Misalnya, membatasi waktu penggunaannya.

Tetapi, demi kebaikan bersama. Saya menyarankan keluarga menegakkan peraturan mengenai penggunaan handphone. Buatlah aturan yang dilandasi prinsip utama: jangan sampai anggota keluarga justru menjadi saling jauh gara-gara media ini!

Rundingkan Bersama, Buat Kesepakatan

Nah, agar aturan tersebut bersifat demokratis, seluruh anggota keluarga (termasuk orangtua) harus mematuhi aturan tadi. Aturan tersebut harus dibuat atas dasar kesepakatan atau rundingan bersama.

Berikut beberapa aturan yang sudah ditegakkan di sejumlah keluarga yang saya kenal, mudah-mudahan bisa membuat Anda terinspirasi.

Aturan keluarga Teguh. Tidak boleh menggunakan handphone saat makan bersama, baik makan di rumah atau di luar. Kata Teguh, “Makan adalah saat kita buat ngobrol. Jangan sampai waktuku yang sedikit dengan anak-anak dirampas handphone!”

Aturan keluarga Lastri. Saat bersama dalam kendaraan tidak ada yang boleh terpaku pada handphone. Benda itu hanya boleh digunakan saat ada panggilan telepon dan setiap orang cukup bicara seperlunya. Saat berkendara digunakan sebaik-baiknya bagi Lastri dan suaminya untuk bercengkerama dengan anak-anak.

Aturan keluarga Dino. Handphone hanya boleh digunakan sampai jam 9 malam. Aturan ini diterapkan Dino karena melihat kedua ABG-nya terus-menerus menggunakan BB untuk berkomunikasi dengan teman-temannya. Bahkan mereka tidur dengan BB di samping bantal. Tak jarang ia masih mendengar anak-anaknya ber-haha-hihi dengan teman-temannya sampai tengah malam lewat BB.

Aturan keluarga Maya. Anak-anak dibelikan handphone semurah mungkin dan membuat mereka menggunakannya pun seefesien mungkin. Yakni, hanya untuk SMS dan menelepon. Maya juga cukup ketat membatasi biaya pulsa.

Saya yakin, masih banyak aturan lain yang bisa kita terapkan dalam rumah. Apa pun aturan itu, hal terpenting adalah kita sebagai orang dewasa mampu menyadari bahwa media komunikasi semacam handphone dan internet memiliki dua wajah. Dia bisa mendekatkan atau justru sebaliknya, membuat jarak.

Untuk keluarga kita, tentulah kita tak ingin media tersebut malah menjauhkan anggota keluarga. Jadi, yuk, bikin aturan bersama agar media tak menjajah kita untuk saling menjauh!

ummi-online

 
1 Comment

Posted by on March 15, 2011 in keluarga

 

Tags: , ,

One response to “Jangan Jadi Jauh Gara-gara Media

  1. sulistyowati

    March 15, 2011 at 3:00 pm

    Bagus Mbak. Menambah wacana….

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: