RSS

Hikmah Perjalanan

31 Dec

Seorang anak perempuan kelas 5 SD terbangun dari tidur nyenyaknya. Ia begitu kaget mendengar suara deburan ombak tak henti – henti. Ia pun membangunkan sang Ibu yang saat itu tidur di sampingnya di sebuah penginapan di pinggir pantai.

“Ma, suara apakah itu?”

“Itu suara ombak, Nak. Tadi siang kan kita berenang dan main ombak di pantai”.

Anak perempuan itu terdiam. Ia merasa aneh dan malu sendiri. Ia mengira ombak laut itu ibarat toko atau arena permainan yang rata – rata hanya buka sampai pukul 9 malam. Pada malam hari ia mengira ombak pun berhenti.

Ketika menceritakan hal itu, Rima yang kini sudah memiliki dua anak merasa tidak habis mengerti. “Kok bisa ya dulu aku berpikiran seperti itu?”. Apakah karena ia terlalu sering berjalan – jalan ke mall atau karena jarang berjalan – jalan ke alam terbuka. Sampai – sampai di usia sekitar 11 tahun ia baru tahu bahwa laut mengirimkan ombak ke pantai sepanjang hari, sepanjang bulan dan sepanjang tahun.ketika ia mengetahui hal itu, ia pun takjub pada Sang Pencipta.

***

Seorang Ibu sedang dirundung duka karena permasalahan yang terus – menerus mendera dirinya. Sempat ada rasa frustasi mengisi ruang hatinya. Ia pun protes pada Allah SWT yang menciptakan dirinya dan memberi segudang permasalahan pada hidupnya.

Dalam suatu kesempatan, ia berjalan – jalan ke tepi pantai. Melihat ombak yang berdebur  memukul dengan keras batu – batu karang yang kokoh, menimbulkan perenungan yang dalam. Hatinya pun berbisik, “Ya Allah, betapa ombak patuh pada ketentuanMu. Meski ia dibenturkan dengan karang sekeras apapun, setiap saat selamanya ia pasrah menjalankan perintahMu. Ia tidak pernah protes ataupun menggugat ketentuan dariMu.”

Perjalanan si Ibu ke tepi pantai menimbulkan kesadaran dan pencerahan dalam hati juga pikirannya. Ia pun merasakan hatinya dipenuhi keikhlasan menjalani apapun yang terjadi di hadapannya.

***

Dua kisah di atas memberikan gambaran betapa pentingnya melakukan perjalanan sebagai bagian dari proses pembelajaran dan pendewasaan diri. Dengan melakukan perjalanan, seseorang tidak saja melihat bagaimana Allah menciptakan alam semesta dengan keanekaragamannya, gunung, pantai, gurun pasir, negeri empat musim, atau bahkan tempat yang selamanya diliputi salju. Perjalanan juga membuat kita mengenal beragam karakter dan budaya masyarakat, yang memungkinkan kita mempelajarinya dan mendapatkan manfaatnya. Salah satu diantaranya yaitu Muhammad Asad (Leopold Weiss) -sebagaimana yang diceritakan dalam bukunya Road to Mecca– menemukan keyakinan pada Islam berkat perjalanannya.

Dengan melakukan perjalanan, seseorang juga dapat melihat kesudahan orang – orang yang mendustakan Sang Pencipta. Tak sedikit negeri yang menjadi mati karena penduduknya banyak melakukan maksiat dan mengingkariNya, seperti kaum Tsamud, ‘Ad, bangsa Pompei, dll.

“Katakanlah : ‘Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah kesudahan orang – orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang – orang yang mempersekutukan Allah.”

(Q.S Ar Ruum : 42).

Semoga kita dapat melakukan perjalanan dan mengambil hikmahnya.

[Ida A. Widayanti]

 
Leave a comment

Posted by on December 31, 2010 in hikmah

 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: