RSS

Monthly Archives: September 2011

Ingin Anak Saleh, Jadilah Orangtua Saleh

Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

Boleh jadi, anak-anak zaman sekarang sama sibuknya dengan orangtua. Bahkan bisa lebih sibuk. Sekolah seharian dari pagi hingga pukul tiga sore. Setelah ashar hingga maghrib, les. Dari maghrib sampai isya’, belajar mengaji. Lalu, usai isya’ hingga jam sembilan malam mengerjakan pekerjaan rumah dan mengulang pelajaran sekolah.

Hasilnya, anak-anak jebolan program seperti itu memang terlihat cerdas dan berwawasan luas. Tetapi jika diperhatikan lebih jeli, mereka terlihat bagai anak yang dewasa terlalu dini.

“Ibarat buah yang matang karena dikarbit, cepat manis tetapi juga cepat busuk serta kurang menunjukkan rasa buah yang sebenarnya,” kata Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari, Direktur Auladi Parenting School, sekaligus master trainer sekolah orangtua, Program Sekolah Pengasuhan Anak (PSPA).

Menurut lelaki yang akrab dipanggil Abah ini, banyak orangtua yang saat ini terjangkit sindrom Ten Minutes Parents Club. Sepuluh menit dalam mendidik dan mengasuh anak. Lima menit di pagi hari yakni orangtua mengatakan kepada anak: mandi, baju, makan, dan sekolah. Sedangkan di sore dan malam hari perintahnya adalah pulang, mandi, makan, PR (belajar), dan tidur.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on September 21, 2011 in artikel

 

Tags: , ,

Manajemen Cemburu ala Islam

Allah Swt. berfirman: “Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari simpati istri-istrimu Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Tahrim:1)

Belakangan ini semakin banyak kaum ibu baik kalangan umum maupun kalangan aktivis atau istri aktivis dakwah (ummahat) yang sedang dihinggapai rasa was-was dan ada sebagian yang semakin panas dibakar api cemburu pada sang suami gara-gara banyak kalangan bapak-bapak aktivis (abi-abi) yang getol melontarkan isu ta’addud yang sebenarnya bukan sekadar bahan pembicaraan, namun secara riil telah menjadi semacam teror, monster maupun momok bagi kaum ibu meskipun hal itu di pikiran para suami mungkin sekadar intermezzo, canda, iseng, cerita lepas tetapi memang tidak dipungkiri ada sebagian mereka yang sengaja menggencarkan isu tersebut sebagai upaya sistemik bagi semacam ‘pemanasan’, mukadimah, ‘conditioning’ (pengkondisian) ataupun apalah namanya yang penting istri mereka terbiasa mendengar wacana ataupun fenomena itu dengan harapan lama-lama kebal dan biasa sehingga bila tiba saatnya terjadi kenyataan dialami suami mereka tidak kaget ataupun protes lagi, hanya sekadar memaklumi saja.

Keresahan dan kecemburuan kalangan ummahat tersebut tidak jarang juga dipicu dan ‘dikomporin’ oleh cerita yang bersumber dari suami mereka, berita media massa ataupun kabar burung, gosip dan rumpian para ummahat bahwa suami si anu nikah lagi, si aktivis anu sedang dalam proses ta’addud. Api kecemburuan tersebut semakin berkobar dan kewaspadaan ditingkatkan menjadi waspada satu atau situasi stadium gawat darurat karena semakin hari semakin bertambah panjang deretan koleksi nama-nama keluarga yang memekar menjadi berbilang. Alasan mereka sih sah-sah saja kan diperbolehkan syariah terlepas dari tepat tidaknya untuk kondisi mereka. ‘Nikah lagi, siapa takut’ demikian seloroh sementara ikhwan dan dibalas sang istri sambil tersungut; “gi, sono deh…! siapa takut! Satu aja nggak keurus dengan adil!” Dan saya sedang tidak ingin membahas masalah ta’addud yang kontroversial ini, melainkan saya ingin mengkaji fenomena lain seputar cinta dan pernikahan yakni kecemburuan atau rasa cemburu.

Read the rest of this entry »

 
2 Comments

Posted by on September 16, 2011 in artikel

 

Tags: , ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.